
Oleh: Fajar Trihatya, SE
Kejujuran, Jiwa Integritas dan Pondasi Kebersamaan bukan sekadar semboyan moral, tetapi nilai utama yang menentukan kuat atau rapuhnya hubungan di lingkungan kerja, organisasi, maupun kehidupan sosial. Kejujuran membangun rasa saling percaya, memperkuat kerja sama, serta menumbuhkan komitmen kolektif dalam mencapai tujuan bersama. Tanpanya, komunikasi menjadi rapuh, kolaborasi kehilangan arah, dan kebersamaan runtuh oleh prasangka serta kepentingan pribadi.
Ketika seseorang memilih berbohong atau menutup-nutupi kebenaran dalam hubungan kerja, ia sesungguhnya sedang menggerogoti nilai persaudaraan itu sendiri. Sikap tidak jujur lahir dari keinginan mementingkan diri, menghindari tanggung jawab, atau meraih keuntungan instan yang justru mengorbankan integritas. Padahal, keuntungan tanpa kejujuran hanyalah kemenangan semu—kepercayaan yang hilang jauh lebih sulit dikembalikan dibandingkan mengejar keberhasilan yang instan.
Keteladanan Bung Mohammad Hatta menjadi pelajaran berharga tentang makna integritas. Sang Proklamator pernah mengembalikan sisa biaya pengobatan ke kas negara karena merasa uang itu bukan hak pribadinya. Itulah praktik kejujuran yang “ekstrem” sekaligus luhur: jujur ketika tak seorang pun mengawasi. Seperti pesan bijak yang relevan hingga kini, “Jika kamu tak mampu jujur saat berjalan bersama tim, lebih baik kamu melangkah sendiri daripada bersekongkol dalam kebohongan dan menutupi kebenaran.”
Kejujuran mendatangkan ketenangan batin, menjaga martabat diri, serta menguatkan wibawa seseorang dalam kepemimpinan maupun hubungan sosial. Sebaliknya, kebohongan hanya menciptakan luka, kecurigaan, ketegangan, dan konflik yang menggerogoti persaudaraan secara perlahan. Dalam jangka panjang, organisasi atau kelompok yang dibangun di atas kepalsuan pasti kehilangan fondasinya.
Lebih jauh, bersikap jujur sejatinya merupakan bentuk penghormatan, bukan hanya kepada orang lain, tetapi juga kepada diri sendiri. Kejujuran membuka ruang dialog yang sehat, menumbuhkan keberanian mengakui kekurangan, serta menghadirkan solusi berbasis realitas, bukan ilusi. Dari sinilah tumbuh perbaikan bersama yang berorientasi pada tujuan yang lebih besar.
Kejujuran bukan semata persoalan kata-kata, tetapi tindakan nyata yang mencerminkan niat tulus terhadap kebenaran. Saat kejujuran terasa berat, justru di sanalah introspeksi harus dimulai: luruskan niat, perbaiki komunikasi, dan jadikan kejujuran sebagai kekuatan moral, bukan beban psikologis.
Dalam kehidupan sosial sehari-hari, kejujuran menciptakan harmoni dan rasa saling menghargai. Orang yang jujur akan selalu lebih dipercaya, baik dalam keluarga, pergaulan, maupun dunia kerja. Sebaliknya, kebohongan mungkin tampak menguntungkan sesaat, namun akan memicu konflik dan kerugian jangka panjang yang sulit diperbaiki.
Di dunia usaha dan profesional, kejujuran adalah kunci keberhasilan sejati. Sosok Abu Bakar as-Siddiq menjadi teladan bahwa kejujuran dalam berniaga bukan hanya membangun reputasi dan loyalitas pelanggan, tetapi juga menghadirkan kehormatan serta harga diri yang tinggi. Kesuksesan sejati tidak hanya diukur dari materi, melainkan dari nilai dan kepercayaan yang berhasil dirawat.
Tanpa kejujuran, kerja sama mustahil terbangun. Maka sebelum semuanya terlambat, penting bagi setiap individu untuk bercermin: apakah kita sudah cukup jujur untuk berjalan bersama membangun kebersamaan, atau justru masih sibuk melangkah demi kepentingan diri sendiri.
■ Penulis adalah: Sekretaris Ikatan Media Online (IMO) Indonesia Sumatera Utara (Sumut), dan Ketua Lembaga Pemerhati Kinerja Pemerintah (LPKP) Sumut.








