Koran Karo-Karo, Politisi Pejuang dan Penjaga Republik

0
285

Medan | GeberNews.com — Koran Karo-Karo, politisi pejuang dan penjaga Republik, tercatat sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, yang tidak hanya dikenal sebagai pejuang gerilya di medan tempur, tetapi juga sebagai sosok pelatih lapangan, organisator, dan penggerak kemandirian nasional hingga masa pembangunan.

Dalam wawancara bersama GeberNews.com pada Rabu, 11 Februari 2026 di Medan, Cipta Sembiring, SE, cucu almarhum Koran Karo-Karo, mengungkapkan bahwa peran sang kakek tidak hanya terbatas sebagai pejuang bersenjata, tetapi juga sebagai pelatih serba bisa bagi pasukan republik di masa revolusi fisik.

Apabila Letnan Satu Nas Sebayang dari Sektor Tiga berhalangan hadir untuk melatih perang naka, maka tugas pelatihan dilaksanakan dan digantikan oleh Koran Karo-Karo. Ia menguasai banyak materi tempur dan mampu membina pasukan dalam berbagai kondisi.

Menurutnya, Koran Karo-Karo dikenal sebagai instruktur lapangan yang tegas dan adaptif. Ia melatih teknik tempur gerilya, strategi penyergapan, hingga keterampilan teknis seperti merakit ranjau darat sederhana untuk menghambat pergerakan pasukan KNIL yang melintas di jalur-jalur strategis.

Kemampuan itu membuatnya dihormati oleh rekan seperjuangan karena tidak hanya memimpin, tetapi juga turun langsung membekali kemampuan praktis kepada pasukan.

Dalam catatan sejarah perjuangan di Tanah Karo dan Sumatera Utara, Koran Karo-Karo ikut terlibat dalam barisan gerilya yang menghadapi agresi militer Belanda. Ia berada di tengah pasukan yang memanfaatkan kondisi perbukitan dan hutan untuk melakukan perlawanan taktis. Keberanian dan kecakapannya dalam membaca medan menjadikannya figur yang disegani di kalangan pejuang.

Merujuk catatan Mayor Jenderal TNI H.R. Sjahnan, saat Wakil Presiden Drs. Moh. Hatta berkunjung ke Berastagi, situasi keamanan sangat genting. Bupati Karo Rakoetta Sembiring turut hadir menyambut kedatangan Bung Hatta. Tidak lama setelah pertemuan berlangsung, Belanda melancarkan serangan mendadak ke Berastagi dan Kabanjahe.

Rombongan Wakil Presiden kemudian harus segera dievakuasi. Resimen Napindo Halilintar bersama barisan pejuang Tanah Karo bergerak cepat menyiapkan pengamanan jalur keluar. Pengawalan ketat dilakukan melalui jalur Pematangsiantar menuju Bukittinggi. Dalam situasi itu, peran pasukan terlatih, termasuk para instruktur lapangan seperti Koran Karo-Karo, menjadi sangat vital dalam menjaga keselamatan pimpinan republik.

Koran Karo-Karo juga tercatat mengikuti sejumlah operasi penting negara pada masa-masa genting, di antaranya operasi pemberantasan PRRI serta operasi hapus bersih PKI. Atas pengabdian dan jasanya, ia tercatat menerima Bintang Jasa Sapta Marga sebagai bentuk penghargaan negara.

Seusai masa perang fisik, pengabdian Koran Karo-Karo tidak berhenti. Ia memasuki dunia politik dan organisasi untuk memperjuangkan kepentingan rakyat secara konstitusional. Ia dikenal sebagai politisi pejuang yang memegang prinsip, vokal dalam gagasan kemandirian nasional, serta konsisten menjaga arah perjuangan republik.

Pemikirannya juga menjangkau sektor energi dan ekonomi. Pada masa Trikora dan pembebasan Irian Barat dari Belanda, Koran Karo-Karo bersama kawan-kawan seperjuangan, salah satunya Syahbudin Siregar, turut menggalang dana bagi pemerintah hingga misi pembebasan berakhir. Ia aktif menggerakkan jaringan sipil dan pengusaha untuk menopang kepentingan negara.

Di bidang usaha, ia terlibat dalam pembentukan jaringan pengusaha eksportir sayur mayur sejak masa sebelum konfrontasi dengan Malaysia dan Singapura. Kiprahnya berlanjut di tingkat nasional melalui pembentukan organisasi pengusaha migas bernama Gapermigas bersama para tokoh dan pelaku usaha energi.

Gagasan berdirinya Hiswana Migas lahir dari ide dan inisiatif Koran Karo-Karo bersama para pejuang dan tokoh sektor energi. Hiswana Migas kemudian berkembang luas dari Sabang sampai Merauke dan menjadi mitra strategis PT Pertamina dalam distribusi dan pengelolaan sektor hilir migas nasional. Koran Karo-Karo tercatat sebagai salah satu tokoh kunci pendiri dan peletak dasar arah perjuangan organisasi tersebut.

Sejarah mencatat, dedikasi Koran Karo-Karo adalah wujud perjuangan tanpa pamrih. Dari medan gerilya, ruang pelatihan tempur, hingga panggung organisasi dan dunia usaha strategis, ia menunjukkan bahwa menjaga republik tidak berhenti setelah perang usai.
Perjuangannya menjadi pengingat bahwa kemerdekaan dirawat oleh keberanian, integritas, dan kesetiaan pada kepentingan bangsa. Nilai itu patut diwariskan kepada generasi penerus agar semangat penjaga republik tetap hidup dalam tindakan nyata, bukan sekadar catatan sejarah.

(Dodi Rikardo Sembiring)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini