Nelayan Belawan Menjerit: “Ditimbun Sungai Kami, Pemerintah Pun Macam Tak Peduli!”

0
345

Belawan | GeberNews.com – Sungai Paluh Puntung di kawasan Simpang Buaya, Kelurahan Belawan Bahari, Kota Medan, yang dulunya tempat nelayan cari makan, kini udah rata sama tanah. Yang nimbun, ngakunya pengusaha, tapi tak tau dari mana datangnya. Gara-gara itu, nelayan kecil dan petani tambak di Belawan pun sekarang nasibnya makin sengsara.

Ketua Kesatuan Nelayan Tradisional Indonesia (KNTI) Kota Medan, M. Isa Basir alias Bang Basir pun panas hati liat kondisi itu. Katanya, Senin (21/04/2025) nanti, dia bakal langsung jumpai pihak Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di Jakarta.

“Kami udah tak tahan lagi bang! KNTI minta pemerintah dan aparat hukum tegaslah! Tutup aja itu perusahaan penimbun Paluh Puntung! Kalau tak bisa juga, kami sendiri yang turun tangan! Kami tutup itu tempat! Udah banyak kali nyusahin nelayan!” tegas Bang Basir dengan suara keras.

Menurut warga sekitar, Paluh Puntung itu lebarnya 15 meter, dalamnya 5 meter. Tempat itu dulunya tempat nelayan cari ikan, kepiting, udang, dan hasil laut lain. Tapi sekarang, rata semua ditimbun, malam-malam pulak kerjanya.

Kata warga, lahan yang ditimbun itu kabarnya mau dijadikan depo kontainer. Tapi efeknya luar biasa – banjir rob sekarang makin parah. Rumah warga terendam, jalan besar pun ikut tenggelam, termasuk kantor-kantor pemerintahan waktu Lebaran kemarin.

Bu Aisyah, pemilik tambak seluas 6 hektar di lokasi itu, pun menangis. Lahan tambaknya ditimbun tanpa izin, tanpa ngomong dulu, apalagi ganti rugi.

“Entah siapa orangnya, aku pun tak tau. Tau-tau aja malam-malam tanah udah numpuk di tambak aku,” keluh Bu Aisyah yang saat itu didampingi nelayan lain macam Kholil, Miji, sama Ke Fauzan.

Bu Aisyah pun cerita, Paluh Puntung itu udah ada sejak zaman dulu. Tahun 1980-an waktu tol Belmera dibangun, sungai ini sempat kepotong, makanya dinamain Paluh Puntung.

Kholil, Jafar, sama Kek Pandi pun senasib. “Empat sampan kami ikut tertimbun. Pintu air tambak kami ditutup. Sekarang air tak bisa keluar masuk. Tak bisa kami kerja lagi,” kata mereka, Sabtu (19/04/2025), dengan wajah kecewa.

Nelayan dan petani tambak pun cuma bisa berharap – ada keadilan untuk mereka.

“Janganlah dibiarkan mafia tanah merampas hak kami. Kami udah puluhan tahun hidup dari sini. Tolonglah, pemerintah buka matanya,” pinta mereka dengan nada sedih.

Ril

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini