Medan | GeberNews.com – Warkop 888 Jalan Sei Batang Hari Medan bukan sekadar warung kopi biasa. Di balik kesederhanaannya, tempat yang buka 24 jam ini menyimpan kisah perjuangan seorang perantau muda bernama Heri Satria, owner Warkop 888, yang berani mengambil risiko meninggalkan kampung halaman demi mencari penghidupan yang lebih layak di Kota Medan.
Heri Satria lahir di Aceh Pidie pada 15 Oktober 1993. Tekanan ekonomi dan sulitnya mencari pekerjaan membuatnya memilih tidak berlama-lama menganggur. Pada tahun 2025, ia memutuskan merantau ke Medan dari Jawa Barat, membawa tekad kuat untuk berdiri di atas kakinya sendiri. “Daripada terus menunggu, lebih baik berjuang. Medan saya pilih karena peluang usaha masih terbuka,” ujar Heri saat ditemui di Warkop 888, Jumat dini hari, 30 Januari 2026.
Warkop yang kini dikenal dengan nama Warkop 888 sebelumnya bernama Warkop Bunda. Usaha tersebut kemudian diteruskan dan dikembangkan oleh Heri Satria dengan konsep sederhana namun konsisten. Sejak dibuka dua tahun lalu, tepatnya Oktober 2025, Warkop 888 perlahan tumbuh menjadi tempat nongkrong favorit warga sekitar, pekerja malam, hingga pengunjung rumah sakit karena lokasinya yang strategis, tepat di depan Rumah Sakit Bunda Thamrin Medan.
Meski merintis dari nol, Heri tak menyerah. Ia mengelola Warkop 888 dengan penuh kesungguhan, dibantu empat orang pekerja yang bergantian menjaga operasional selama 24 jam penuh. “Kami buka nonstop. Pagi, siang, malam sampai dini hari selalu ada pengunjung. Alhamdulillah, pelan-pelan tapi jalan,” katanya.
Dari sisi menu, Warkop 888 menyajikan beragam makanan dan minuman yang akrab di lidah semua kalangan. Mulai dari kopi hitam, kopi susu, teh manis panas dan dingin, hingga minuman sachet favorit anak muda. Untuk makanan, tersedia mie instan berbagai varian, nasi goreng, telur dadar, roti bakar, hingga aneka cemilan ringan yang cocok menemani obrolan panjang.
Adin, salah seorang pengunjung setia yang hampir setiap malam singgah di Warkop 888, mengaku nyaman nongkrong di tempat ini. “Saya sering ke sini malam-malam.

Makanannya simpel tapi enak, minumannya lengkap, harganya ramah. Yang paling penting, suasananya tenang dan pemiliknya ramah,” ujar Adin sambil menikmati kopi panasnya.
Menurut Adin, Warkop 888 juga menjadi tempat berkumpul lintas kalangan. “Di sini ketemu orang macam-macam, ada pekerja malam, driver, mahasiswa, sampai warga sekitar. Jadi bukan cuma soal makan, tapi tempat bersosialisasi,” katanya.
Heri Satria yang masih lajang ini mengaku fokus membangun usahanya agar terus bertahan dan berkembang. Ia berharap Warkop 888 ke depan bisa semakin dikenal dan menjadi sumber penghidupan yang lebih baik, baik bagi dirinya maupun para pekerjanya. “Saya tidak muluk-muluk. Yang penting usaha ini jalan, bisa menghidupi, dan jadi tempat yang bermanfaat buat banyak orang,” ucapnya.

Di tengah kerasnya persaingan usaha kuliner di Kota Medan, Warkop 888 hadir sebagai bukti bahwa ketekunan, keberanian merantau, dan kejujuran dalam bekerja masih menjadi modal utama untuk bertahan. Dari secangkir kopi dan piring sederhana, Heri Satria menuliskan kisah hidupnya, pelan namun pasti, di Jalan Sei Batang Hari Medan.
(Kibo Ambon)








