Netti Herawati Bongkar Jaringan Scam WNI di Kamboja, Desak Negara Bertindak Tegas

0
117

Phnom Penh | GeberNews.com – Netti Herawati, SE., MBA., C.MK., CME., Paralegal ME., kembali menunjukkan keberanian dan integritasnya sebagai jurnalis investigasi dengan membongkar praktik kejahatan scam online yang menjerat ribuan Warga Negara Indonesia (WNI) di Kamboja. Di tengah keterbatasan akses informasi dan lambatnya respons birokrasi, jurnalis berhijab ini turun langsung ke Phnom Penh untuk menelusuri nasib para korban yang terjebak dalam jaringan penipuan daring lintas negara yang diduga melibatkan sindikat terorganisir.

Dengan pengalaman lebih dari 26 tahun di dunia jurnalistik investigasi, Netti dikenal sebagai sosok yang konsisten memperjuangkan kebenaran dan kepentingan publik. Ia tidak hanya aktif sebagai jurnalis, tetapi juga memegang berbagai peran strategis, di antaranya Wakil Ketua III DPP SBNI, mantan Kepala Pengawas Kebijakan Publik Bakornas, Ketua SPRI Provinsi Bali, Ketua WHN Provinsi Bali, serta pegiat perlindungan perempuan dan anak.

Dalam menjalankan profesinya, Netti memegang teguh prinsip yang selalu ia gaungkan, yakni “Berani karena benar, bukan karena dibayar.”
Investigasi yang dilakukannya pada awal tahun 2026 di Kamboja mengungkap fakta yang sangat memprihatinkan.

Tercatat sebanyak 5.264 WNI dilaporkan terjebak dalam jaringan scam online yang beroperasi di negara tersebut. Banyak dari mereka awalnya direkrut dengan janji pekerjaan bergaji tinggi, namun sesampainya di Kamboja justru dipaksa bekerja dalam praktik penipuan daring yang menyasar korban dari berbagai negara.

Pemerintah Kamboja bahkan memberikan keringanan denda overstay kepada 2.884 WNI agar mereka dapat segera dipulangkan ke Indonesia. Namun hingga Maret 2026, baru sekitar 1.252 orang yang berhasil kembali ke tanah air. Sementara ribuan lainnya masih terlantar tanpa kepastian, bahkan sebagian dilaporkan mengalami kekerasan, penyekapan, hingga terpaksa tidur di tempat umum karena tidak memiliki biaya hidup.

Dari jumlah tersebut, 743 WNI sebenarnya telah dijadwalkan pulang pada periode Februari hingga Maret 2026. Namun proses pemulangan mereka tertunda akibat proses verifikasi terkait dugaan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) yang masih berlangsung.

Kondisi ini semakin memperpanjang penderitaan para korban yang berharap segera dapat kembali ke Indonesia.
Melihat kondisi tersebut, Netti tidak tinggal diam. Pada 7 Maret 2026, ia melayangkan surat terbuka kepada Komisi III DPR RI, mendesak negara untuk hadir secara tegas dan cepat dalam menyelamatkan para WNI yang terjebak di Kamboja.

Dalam surat tersebut, ia meminta DPR RI segera memanggil Menteri Luar Negeri serta pimpinan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Phnom Penh untuk memberikan penjelasan atas lambatnya penanganan kasus ini.
Netti juga mendesak percepatan proses verifikasi oleh Kepolisian Republik Indonesia dan Direktorat Jenderal Imigrasi, sekaligus meminta pembentukan satuan tugas khusus untuk memburu perekrut tenaga kerja ilegal yang selama ini menjerat ribuan WNI ke dalam praktik scam di luar negeri. Selain itu, ia juga menyoroti dugaan adanya praktik pungutan liar yang dialami sebagian WNI di beberapa fasilitas penahanan di Kamboja.

Di tengah berbagai tekanan dan risiko di lapangan, Netti tetap menjalankan tugas jurnalistiknya dengan tegas dan berintegritas. Terbatasnya akses informasi, komunikasi dengan keluarga korban yang penuh kecemasan, hingga ancaman dari jaringan sindikat tidak membuatnya mundur. Ia terus mengumpulkan fakta, memverifikasi data, dan memastikan suara para korban tetap terdengar oleh publik dan para pengambil kebijakan.

Investigasi yang dilakukan Netti Herawati akhirnya mendapat sorotan luas dari berbagai media dan pihak terkait. Tekanan publik yang muncul turut mendorong percepatan pemulangan sebagian WNI serta memunculkan dorongan kuat untuk membentuk satgas khusus pemberantasan perekrut ilegal yang selama ini beroperasi tanpa pengawasan ketat.

Bagi Netti, jurnalisme bukan sekadar pekerjaan menyampaikan berita. Ia memandang profesi ini sebagai panggilan moral untuk memperjuangkan kebenaran, membela kepentingan rakyat, dan mengawasi kekuasaan agar tidak lalai terhadap nasib warganya.

Keberaniannya menembus keterbatasan di Kamboja menjadi bukti bahwa integritas seorang jurnalis masih menjadi benteng penting dalam memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

(Adel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini