Banjir Besar Lumpuhkan Kabupaten Pidie Jaya, Warga Terjebak Tanpa Logistik Dua Hari

0
70

Pidie Jaya | GeberNews.com – Banjir besar yang menghantam Kabupaten Pidie Jaya sejak Rabu 26 hingga 27 November 2025 membuat daerah berjuluk Negeri Japakeh itu lumpuh total. Aktivitas masyarakat terhenti sepenuhnya, jalan berubah menjadi arus deras, dan hampir seluruh kecamatan terdampak parah tanpa terkecuali. Peristiwa ini disebut warga sebagai banjir paling melumpuhkan dalam beberapa tahun terakhir karena memutus akses, menghentikan ekonomi, dan memaksa ribuan jiwa bertahan tanpa bantuan.

Jembatan jalan lintas Banda Aceh–Medan di Meunasah Krueng Baroh, Meureudu, ambruk disapu derasnya arus hingga memutus jalur transportasi nasional selama berjam-jam. Ratusan bus antarkota, truk logistik, dan kendaraan pribadi terpaksa terhenti total di Meureudu. Baru pada Kamis sore 27 November 2025 sebagian kendaraan berhasil melintas melalui jalur alternatif yang kondisinya pun rawan dan tidak stabil.

Di tengah kepungan banjir, warga Pidie Jaya mulai kehabisan logistik. Pasar berhenti beroperasi, kebutuhan pokok habis, dan akses distribusi lumpuh. Bantuan pemerintah belum kunjung tiba meski warga sudah dua hari bertahan dalam kondisi kritis. “Kami sangat membutuhkan bantuan dari Pemerintah Aceh dan pemerintah pusat. Sudah dua hari warga menderita, belum tersentuh bantuan apa pun,” tutur Fauzi Yusuf, warga Pidie Jaya yang turut mengungsi bersama keluarganya.

Kondisi semakin memprihatinkan ketika pendopo Wakil Bupati Pidie Jaya di Kota Meureudu ikut terendam, memperlihatkan bagaimana aktivitas pemerintahan daerah lumpuh sepenuhnya. Di Blang Awe, warga mengaku terpaksa bertahan di atas atap seng untuk menyelamatkan diri dari genangan yang terus naik. “Bantuan tidak ada, mau belanja ke pasar barang habis semua. Pemerintah daerah lumpuh, kami benar-benar butuh pertolongan,” keluh salah seorang warga.

Tragedi pun terjadi di Gampong Blang Awe, Meureudu, ketika seorang lansia wanita dilaporkan meninggal dunia saat banjir melanda kawasan itu. Warga menyebut proses evakuasi hampir tidak ada, sementara akses menuju lokasi masih terputus oleh arus dan material lumpur. Hingga kini belum terlihat tanda-tanda penyaluran logistik dari pemerintah kepada warga yang bertahan di rumah-rumah tergenang.

Di Gampong Deah Pangwa, situasinya tak kalah genting. Rumah dan jalan dipenuhi lumpur tebal, aktivitas masyarakat terhenti sama sekali, dan bantuan belum menyentuh desa tersebut. Warga terpaksa bertahan seadanya di rumah yang rusak tanpa dapur umum dan tanpa suplai kebutuhan darurat. “Kami hanya menunggu, tapi bantuan tidak datang,” ungkap warga yang sudah dua hari bertahan tanpa suplai makanan.

Kecamatan Meurah Dua juga porak poranda, terutama di Gampong Pante Beureune, Dayah Usen, dan Meunasah Mancang yang dilaporkan rusak parah akibat luapan banjir. Gampong Kota Meureudu dan Mesjid Tuha turut terendam berat tanpa satu pun bantuan logistik tiba hingga berita ini disiarkan. Hampir seluruh gampong terdampak di Kabupaten Pidie Jaya mengaku belum mendapat perhatian Pemerintah Aceh, memperlihatkan betapa buruknya koordinasi penanganan darurat dalam bencana terbesar yang menimpa daerah tersebut tahun ini.

Adel

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini