Jakarta Pusat | GeberNews.com – Lonceng bahaya bagi demokrasi Indonesia terus berbunyi. Di tengah kesulitan yang masih dirasakan masyarakat, Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dinilai justru sibuk melakukan kampanye terselubung untuk Pemilihan Presiden 2029.

Hal itu ditegaskan Aktivis 98, Bilung Silaen, dalam konferensi pers Poros 98 di Tebet, Jakarta Selatan, Selasa (13/10/2026).
“Pilpres 2029 masih tiga tahun lagi! Namun Prabowo-Gibran sudah keliling ke berbagai daerah melakukan safari politik. Apakah ini Presiden dan Wakil Presiden, atau tim sukses? Rakyat sedang susah, namun negara seakan ditinggalkan. Tugas kepala negara adalah melayani rakyat, bukan sibuk membagi-bagi kekuasaan untuk 2029,” tegas Bilung.
Bilung juga menyoroti sejumlah program unggulan pemerintah yang dinilai tidak berjalan sesuai harapan.
“Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai gagal. Demikian pula Koperasi Merah Putih. Kedua program ini bukan untuk rakyat, melainkan dianggap sarang bancakan baru. Badan Gizi Nasional disebut hanya sebagai sarana pembagian proyek bagi kelompok tertentu. Kami mendesain agar lembaga ini dibubarkan segera. Hentikan MBG dan Koperasi Merah Putih yang justru menjadi sumber proyek bagi segelintir pihak,” ujarnya.
Selain itu, janji pemeriksaan kesehatan gratis, pembangunan tiga juta rumah, swasembada pangan, dan penciptaan lapangan kerja juga dinilai belum terwujud secara nyata.
“Semua itu belum terlihat hasilnya. Tidak ada perencanaan matang, tidak ada pelaksanaan yang sungguh-sungguh. Yang tampil hanya jargon semata,” tambahnya.
Lebih jauh, Bilung menegaskan apa yang terjadi saat ini bukan sekadar masalah pengelolaan pemerintahan yang kurang tepat, melainkan perampasan kedaulatan rakyat yang dilakukan secara terstruktur.
“Ini bukan sekadar salah urus, melainkan perampasan sistematis. Oligarki berusaha menguasai aset dan perekonomian bangsa. Dinasti politik dianggap ingin mengendalikan negara secara terus-menerus. Padahal kedaulatan berada di tangan rakyat, bukan di tangan kelompok berkuasa,” ungkap Bilung.
Sebagai jalan keluar, ia menyerukan kesadaran kolektif masyarakat.
“Solusi yang kita butuhkan adalah Revolusi Budaya. Tanpa perubahan pola pikir dan kesadaran bersama, bangsa ini akan terus tertinggal dan rakyat yang akan menanggung kerugian. Saatnya kita bersatu, melawan, dan merebut kembali kedaulatan rakyat dari cengkeraman kekuatan yang tidak berpihak pada rakyat,” pungkas Bilung Silaen.
(Red/ Rilis)






