Menembus Batas Tradisi, Cory Sriwaty Sebayang Ukir Sejarah sebagai Bupati Perempuan Pertama Kabupaten Karo

0
43

Medan | GeberNews.com – Perjalanan hidup dan kepemimpinan Cory Sriwaty Sebayang, perempuan yang mencatatkan sejarah sebagai Bupati perempuan pertama di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kini diabadikan dalam sebuah buku biografi. Perjalanan panjangnya dari dunia usaha dan pelayanan kesehatan hingga memasuki panggung politik dan pemerintahan menjadi kisah yang tidak hanya merekam pencapaian pribadi, tetapi juga menggambarkan perubahan perspektif masyarakat terhadap kepemimpinan perempuan di Tanah Karo.

Buku berjudul Cory Sriwaty Sebayang, Wanita Pertama sebagai Bupati Karo tersebut diluncurkan dalam kegiatan bertajuk Celebration of Journey di Tiara Convention Hall, Medan, Jumat (16/10/2026). Acara itu dihadiri sejumlah tokoh, di antaranya Ketua Komite II DPD RI, Dr Badikenita Br Sitepu, S.E., S.H., M.Si., Pembina Cendekiawan Karo Indonesia, Dr Ir Budi Derita Sinulingga, M.Si., Ketua Wanita Karo Indonesia sekaligus Guru Besar Universitas Sumatera Utara, Prof Dr Maria Br Kaban, S.H., M.Hum., serta penulis buku Mathias Brahmana dan Juniaman Kembaren.

Peluncuran buku tersebut menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan seorang perempuan Karo berhasil menembus ruang kepemimpinan tertinggi di tingkat kabupaten. Di tengah masyarakat yang memiliki tradisi adat dan struktur sosial yang kuat, pencapaian Cory bukan sekedar persoalan menduduki jabatan politik, melainkan juga menyangkut keberanian mengambil tanggung jawab, kemampuan menghadapi perubahan, serta kesediaan memasuki ruang pengabdian yang menuntut keputusan-keputusan penting.

Julukan Margaret Thatcher kepada Cory turut menarik perhatian publik. Julukan tersebut mengingatkan pada mantan Perdana Menteri Inggris, Margaret Thatcher yang dikenal memiliki karakter kepemimpinan tegas. Namun, perjalanan Cory mempunyai latar belakang dan tantangannya sendiri, terbentuk melalui pengalaman panjang di dunia usaha, pelayanan kesehatan, politik, dan pemerintahan daerah.

Dari Dunia Usaha dan Pelayanan Kesehatan Menuju Pengabdian Publik

Sebelum dikenal sebagai kepala daerah, Cory Sriwaty Sebayang telah menjalani perjalanan profesional di luar lingkungan pemerintahan.

Berdasarkan profil yang pernah dipublikasikan di website Pemerintah Kabupaten Karo, Cory memiliki pengalaman dalam bidang usaha dan pelayanan kesehatan, termasuk keterlibatannya dalam pengelolaan Cory Skin Clinic dan Yayasan RSU Vina Estetica. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sebelum terjun lebih jauh ke dunia politik dan pemerintahan.

Pengalaman di dunia usaha menuntut seseorang memahami pengelolaan organisasi, pengambilan keputusan, serta kemampuan membaca peluang dan menghadapi risiko. Sementara itu, bidang pelayanan kesehatan menempatkan kebutuhan manusia dan kepekaan terhadap persoalan warga sebagai bagian penting dalam pekerjaan sehari-hari.

Dua pengalaman tersebut menjadi latar belakang relevan untuk memahami perjalanan Cory ketika kemudian memasuki dunia pemerintahan, tempat keputusan yang diambil tidak lagi hanya menyangkut organisasi atau kegiatan profesional tertentu, tetapi juga kepentingan semua warga.

Dalam sambutannya pada peluncuran buku dirinya tersebut, Cory sendiri mengungkapkan bahwa pengalaman di dunia usaha mengajarkannya keberanian, pelayanan kesehatan membentuk kepekaan, sedangkan pemerintahan mengajarkannya keberanian mengambil keputusan.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bagaimana ia memaknai perjalanan lintas bidang yang dijalaninya. Pengalaman profesional sebelumnya menjadi bagian dari pembentukan karakter, sedangkan tanggung jawab sebagai kepala daerah menghadirkan tuntutan lebih luas dalam mengelola persoalan publik.

Perjalanan menuju jabatan kepala daerah itu juga tidak berlangsung secara instan. Cory pernah memasuki kontestasi politik lokal sebelum akhirnya terpilih sebagai Wakil Bupati Karo untuk periode 2016–2021. Pada Pilkada 2020, ia maju bersama Theopilus Ginting dan terpilih menjadi Bupati Karo untuk periode 2021–2025.

Kepemimpinannya mencatatkan sejarah karena Cory menjadi perempuan pertama menduduki jabatan Bupati Karo. Capaian tersebut kemudian menjadi salah satu pokok penting diangkat dalam buku biografinya.

Badikenita Br Sitepu: Keberhasilan Cory Bukan Sekedar Pencapaian Pribadi

Pencapaian Cory sebagai perempuan pertama pemimpin Kabupaten Karo mendapat perhatian dari berbagai tokoh yang hadir dalam peluncuran buku tersebut.

Ketua Komite II DPD RI, Dr Badikenita Br Sitepu, S.E., S.H., M.Si., memandang perjalanan Cory sebagai sesuatu yang melampaui pencapaian pribadi. Dalam sambutannya, Badikenita menyoroti keberhasilan Cory membawa namanya sendiri ke dalam sejarah kepemimpinan daerah sekaligus membuka jalan bagi perempuan Karo untuk mengambil peran lebih besar dalam pemerintahan.

Badikenita menilai bahwa menjadi Bupati Karo memperlihatkan kesediaan Cory untuk memikul tanggung jawab lebih besar.

Pandangan tersebut memberikan dimensi lebih luas terhadap makna keberhasilan seorang perempuan dalam politik. Sebab, ketika seorang perempuan berhasil menduduki posisi strategis dalam pemerintahan, pencapaian itu tidak hanya berkaitan dengan perjalanan karier individu, tetapi juga dapat menjadi referensi bagi perempuan lain yang ingin terlibat dalam kepemimpinan publik.

Dalam warga pemilik tradisi patrilineal dan masih menghadapi tantangan budaya patriarki, kehadiran perempuan sebagai kepala daerah menjadi bagian dari perubahan cara pandang mengenai siapa dapat memimpin dan bagaimana kepemimpinan seharusnya dijalankan.

Namun, terbukanya kesempatan tersebut perlu diikuti oleh penguatan kapasitas, pendidikan, pengalaman organisasi, dan kesempatan berpartisipasi yang setara agar lebih banyak perempuan mampu mengambil peran dalam pembangunan.

Perspektif Badikenita itu sejalan dengan pandangan Pembina Cendekiawan Karo Indonesia, Dr Ir Budi Derita Sinulingga, M.Si., yang menyoroti aspek lain dari perjalanan Cory, yakni keberaniannya meninggalkan zona nyaman.

Jika Badikenita menempatkan pencapaian Cory dalam konteks sejarah kepemimpinan perempuan, Budi melihat proses keberanian mengambil langkah sebagai bagian penting pengantar Cory menuju posisi tersebut.

Budi Derita Sinulingga: Keberanian Meninggalkan Zona Nyaman Menjadi Bagian Penting Perjalanan Cory

Dalam sambutannya, Budi Derita Sinulingga menegaskan bahwa tidak semua orang berani meninggalkan zona nyaman untuk melihat peluang dan maju menjadi pemimpin.

Pernyataan itu menggambarkan bahwa perubahan arah kehidupan membutuhkan kesiapan menghadapi risiko dan tantangan tidak selalu dapat diprediksi.

Berpindah dari dunia usaha dan pelayanan kesehatan menuju politik serta pemerintahan bukan sekedar perubahan profesi. Dunia pemerintahan membawa tanggung jawab berbeda karena seorang kepala daerah harus berhadapan dengan kebutuhan beragam warga, keterbatasan anggaran, koordinasi antar instansi, dinamika sosial, serta berbagai persoalan yang memerlukan penyelesaian melalui kebijakan publik.

Dalam posisi tersebut, keberanian harus berjalan bersama pertimbangan yang matang. Seorang pemimpin dituntut tidak hanya mampu mengambil keputusan, tetapi juga mempertanggungjawabkan keputusan itu kepada masyarakat.

Pengalaman Cory selama menjabat sebagai Bupati Karo menjadi bagian penting dari konteks tersebut. Ia harus menghadapi berbagai persoalan daerah, termasuk penanganan pandemi COVID 19, penyediaan lahan bagi pengungsi Gunung Sinabung di kawasan Siosar, dan penyelesaian konflik lahan di Mbal Mbal Nodi.

Dalam sambutannya pada peluncuran buku, Cory menyebut ketiga persoalan tersebut sebagai bagian dari capaian yang ia kenang selama memimpin Kabupaten Karo. Ia juga mengapresiasi kerja sama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang menurutnya berperan dalam pelaksanaan berbagai upaya tersebut.

Pengalaman menghadapi persoalan-persoalan itu menunjukkan bahwa perjalanan seorang kepala daerah tidak hanya ditentukan oleh keberhasilannya memperoleh jabatan, tetapi juga oleh kesediaannya menghadapi situasi yang membutuhkan koordinasi, ketegasan, dan tanggung jawab.

Dari sudut pandang tersebut, keberanian meninggalkan zona nyaman yang disampaikan Budi menjadi penghubung antara perjalanan pribadi Cory dan tantangan yang kemudian dihadapinya dalam pemerintahan.

Akan tetapi, keberanian seorang pemimpin juga harus dilihat bersama hasil kebijakan, proses pelaksanaannya, dan dampaknya bagi masyarakat. Karena itu, pengalaman Cory layak dipelajari bukan hanya sebagai cerita keberhasilan personal, tetapi juga sebagai bahan refleksi mengenai praktik kepemimpinan di tingkat daerah.

Prof Maria Br Kaban: Harapan agar Perempuan Karo Mengikuti Jejak Cory

Perjalanan Cory yang telah membuka ruang baru bagi kepemimpinan perempuan kemudian memperoleh makna lanjutan melalui pandangan Ketua Wanita Karo Indonesia sekaligus Guru Besar Universitas Sumatera Utara, Prof Dr Maria Br Kaban, S.H., M.Hum.

Dalam peluncuran buku tersebut, Maria berharap perempuan Karo lainnya dapat mengikuti jejak Cory Sebayang.

Harapan itu memperluas pembahasan dari keberhasilan seorang tokoh menuju persoalan regenerasi kepemimpinan perempuan. Apabila pencapaian Cory menjadi pintu pembuka dalam sejarah pemerintahan Kabupaten Karo, tantangan berikutnya adalah bagaimana pengalaman tersebut dapat menjadi inspirasi sekaligus dorongan bagi perempuan lain untuk mengembangkan kemampuan dan berkontribusi dalam berbagai bidang.

Keterlibatan perempuan dalam pemerintahan tidak harus selalu dimulai dengan mencalonkan diri sebagai kepala daerah. Kesempatan tersebut dapat tumbuh melalui pendidikan, aktivitas sosial, organisasi kemasyarakatan, profesi, dunia usaha, hingga keterlibatan dalam proses perumusan kebijakan.

Pengalaman di berbagai bidang dapat menjadi modal untuk memahami kebutuhan masyarakat dan membangun kemampuan kepemimpinan.

Dalam konteks Kabupaten Karo, harapan Maria memiliki relevansi tersendiri karena pembangunan daerah membutuhkan partisipasi masyarakat yang luas, termasuk perempuan yang memiliki pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan untuk memberikan kontribusi.

Kehadiran perempuan dalam ruang pengambilan keputusan juga dapat memperkaya perspektif dalam merumuskan kebijakan, sepanjang didukung oleh kapasitas, integritas, dan orientasi terhadap kepentingan publik.

Karena itu, harapan agar perempuan Karo mengikuti jejak Cory tidak semata-mata dapat dimaknai sebagai ajakan untuk mengejar jabatan yang sama. Lebih jauh, harapan tersebut merupakan dorongan agar perempuan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan potensi dan mengambil bagian dalam pembangunan daerah.

Pandangan Maria itu sekaligus memperkuat pesan yang disampaikan Badikenita mengenai arti pencapaian Cory yang melampaui kepentingan pribadi.

Jika Badikenita menekankan pentingnya pintu sejarah yang telah dibuka, Budi menyoroti keberanian untuk melangkah, sedangkan Maria mengarahkan perhatian pada generasi perempuan yang diharapkan dapat melanjutkan semangat tersebut.

Ketiga pandangan itu kemudian menemukan benang merah dalam penjelasan penulis buku, Mathias Brahmana, yang melihat perjalanan Cory sebagai bagian dari perubahan cara warga Karo memandang kepemimpinan perempuan.

Mathias Brahmana: Kepemimpinan Cory Mengubah Cara Pandang terhadap Perempuan Karo

Sebagai penulis buku biografi tersebut, Mathias Brahmana menempatkan perjalanan Cory dalam konteks sejarah sosial masyarakat Karo.

Dalam keterangannya, Mathias menjelaskan bahwa kehadiran Cory sebagai Wakil Bupati Karo dan kemudian sebagai Bupati Karo telah ikut mengubah cara perempuan dan masyarakat Karo memandang kepemimpinan.

Ia menyoroti bahwa keberhasilan Cory menduduki jabatan kepala daerah memiliki arti khusus di tengah masyarakat yang kuat memegang tradisi patrilineal dan masih dipengaruhi budaya patriarki.

Menurut Mathias, keberhasilan Cory menjadi Bupati Karo perempuan pertama memperluas ruang kemungkinan bagi perempuan Karo pada masa mendatang.

Dalam uraian yang disampaikan pada peluncuran buku, Mathias juga menyebut bahwa Cory merupakan ibu dari lima anak. Perjalanan keluarganya menjadi salah satu bagian dari kisah kehidupan yang diangkat dalam buku tersebut, bersamaan dengan perjalanan profesional dan karir politiknya.

Kisah itu memberikan gambaran mengenai perjalanan seorang perempuan yang menjalani kehidupan keluarga sekaligus menempuh karier hingga mencapai posisi kepemimpinan daerah.

Meski demikian, arti penting perjalanan Cory tidak terletak pada identitasnya sebagai perempuan semata. Pencapaiannya juga harus dipahami dalam konteks proses politik, pengalaman profesional, dukungan masyarakat, serta tanggung jawab yang menyertai jabatan publik.

Mathias memandang bahwa ketika Cory berhasil menduduki jabatan Wakil Bupati dan kemudian jabatan Bupati Karo, terbuka kemungkinan baru bagi anak-anak perempuan untuk membayangkan masa depan mereka dalam berbagai posisi kepemimpinan.

Kepemimpinan yang sebelumnya lebih sering dibayangkan dalam sosok laki-laki kini juga memiliki representasi perempuan Karo.

Namun, menurut narasi yang disampaikan Mathias, membuka pintu sejarah hanyalah permulaan. Di balik jabatan kepala daerah, terdapat berbagai persoalan yang menuntut keberanian nyata dalam mengambil keputusan.

Salah satu pengalaman yang disoroti dalam buku tersebut adalah penertiban Pasar Kabanjahe, ibu kota Kabupaten Karo. Mathias menceritakan adanya tekanan dan ancaman perlawanan dalam proses penertiban tersebut, termasuk ancaman penggunaan batu untuk menghadang petugas.

Kisah itu menggambarkan tantangan yang dapat muncul ketika pemerintah menjalankan kebijakan yang bersinggungan dengan berbagai kepentingan masyarakat.

Meski demikian, penertiban dan penegakan aturan tetap harus dilaksanakan dengan memperhatikan ketentuan hukum, hak masyarakat, serta mekanisme penyelesaian yang dapat dipertanggung jawabkan.

Melalui kisah-kisah tersebut, Mathias berupaya memperlihatkan bahwa perjalanan Cory tidak hanya berisi pencapaian, tetapi juga pengalaman menghadapi situasi yang menuntut ketegasan dan tanggung jawab.

Tiga Persoalan Penting Menjadi Catatan Kepemimpinan Cory

Dalam sambutannya, Cory sendiri menyoroti tiga persoalan yang menurutnya menjadi bagian penting dari perjalanan kepemimpinannya, yakni penanganan pandemi COVID 19, perjuangan menyediakan lahan bagi pengungsi Gunung Sinabung di Siosar, dan penyelesaian konflik lahan di Mbal Mbal Nodi.

Ketiga persoalan itu memperlihatkan beragam tantangan yang dihadapi pemerintah daerah, mulai dari persoalan kesehatan masyarakat, penanganan dampak bencana, hingga konflik pemanfaatan lahan.

Dalam penjelasannya, Cory menyebut bahwa sekitar 700 hektare lahan di Mbal Mbal Nodi, Desa Mbal Mbal Petarum, Kecamatan Lau Baleng, dikembalikan fungsinya sebagai kawasan penggembalaan umum oleh Pemerintah Kabupaten Karo.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada Forkopimda, Keluarga Besar, Sahabat, dan Konstituen yang mendukung perjalanan pengabdiannya.

Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa Cory tidak menempatkan perjalanan kepemimpinannya sebagai usaha seorang diri, melainkan sebagai proses yang melibatkan berbagai pihak.

Dalam pemerintahan daerah, koordinasi dengan unsur pimpinan daerah, perangkat pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan lainnya memang menjadi bagian penting dalam menangani persoalan kompleks.

Namun, untuk memperoleh gambaran menyeluruh mengenai hasil kebijakan tersebut, capaian yang disampaikan dalam sebuah buku biografi tetap perlu dibaca bersama dokumentasi pemerintahan, data pelaksanaan program, serta evaluasi atas manfaat yang diterima masyarakat.

Dengan demikian, buku biografi dapat menjadi pintu masuk untuk memahami pengalaman kepemimpinan Cory, sedangkan dokumen resmi dan evaluasi kebijakan dapat melengkapi pemahaman mengenai hasil penyelenggaraan pemerintahan.

Rekam Jejak di Bidang Pendidikan dan Pelayanan Publik

Selain pengalaman dalam penanganan persoalan strategis daerah, rekam jejak Cory selama menjabat sebagai Bupati Karo juga mencakup perhatian terhadap pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.

Pada Mei 2023, Cory menyampaikan pentingnya tanggung jawab kepala sekolah dalam memastikan penyelenggaraan pendidikan dan pembelajaran berjalan dengan baik.

Ia juga menekankan perlunya menyatukan visi dan meningkatkan optimisme untuk mendorong pendidikan berkualitas di Kabupaten Karo.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pendidikan menjadi salah satu bidang yang turut mendapat perhatian selama masa pemerintahannya.

Perhatian terhadap pengembangan sumber daya manusia juga tercermin dalam pemberitaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengenai pertemuan dengan sejumlah kepala daerah, termasuk Cory Sriwaty Sebayang.

Dalam pertemuan tersebut, Cory membawa usulan pembangunan gedung layanan perpustakaan, pojok baca digital, dan mobil perpustakaan keliling. Ia juga menyampaikan gagasan penyediaan ruang publik dilengkapi dengan fasilitas membaca bagi masyarakat.

Upaya tersebut berkaitan dengan pengembangan akses masyarakat terhadap bahan bacaan dan peningkatan minat baca, terutama bagi anak-anak.

Perpustakaan dan ruang baca publik memiliki peran penting dalam memperluas kesempatan belajar di luar lingkungan sekolah. Akan tetapi, keberhasilan program semacam itu pada akhirnya perlu dilihat dari realisasi fasilitas, akses masyarakat, dan keberlanjutan pemanfaatannya.

Catatan mengenai pendidikan dan perpustakaan tersebut melengkapi gambaran perjalanan Cory sebagai kepala daerah. Kepemimpinan tidak hanya berkaitan dengan penyelesaian persoalan mendesak, tetapi juga dengan upaya membangun fondasi jangka panjang bagi masyarakat melalui pendidikan, pengetahuan, dan pengembangan sumber daya manusia.

Buku Biografi sebagai Dokumentasi Sejarah dan Bahan Evaluasi

Peluncuran buku Cory Sriwaty Sebayang, Wanita Pertama Bupati Karo pada akhirnya menghadirkan kesempatan untuk membaca perjalanan seorang tokoh dari berbagai sudut pandang.

Badikenita Br Sitepu mengatakan, perjalanan Cory memiliki makna melampaui pencapaian pribadi karena membuka jalan bagi perempuan Karo untuk memimpin.

Sedangkan Budi Derita Sinulingga menyebutkan, keberanian meninggalkan zona nyaman menjadi salah satu aspek penting pengantar Cory menuju tanggung jawab lebih besar.

Sementara Prof Maria Br Kaban menyatakan, pencapaian tersebut diharapkan dapat menginspirasi perempuan Karo lainnya untuk mengikuti jejaknya dalam berbagai bidang pengabdian.

Terakhir Mathias Brahmana berkata, perjalanan Cory merupakan bagian dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap kepemimpinan perempuan, terutama dalam lingkungan sosial yang masih dipengaruhi tradisi patrilineal dan budaya patriarki.

Keempat perspektif itu saling melengkapi. Keberanian mengambil langkah menjadi bagian dari perjalanan pribadi, keberhasilan meraih jabatan membuka ruang sejarah, dan terbukanya ruang tersebut diharapkan memberi kesempatan lebih luas bagi generasi berikutnya.

Namun, sebuah biografi juga perlu dibaca sebagai dokumentasi yang dapat menjadi bahan refleksi. Pengalaman pribadi, penilaian tokoh, catatan sejarah, dan hasil kebijakan pemerintahan merupakan unsur berbeda yang perlu ditempatkan sesuai konteksnya.

Kisah seorang pemimpin akan semakin bermakna apabila dapat menjadi pembelajaran bagi masyarakat, baik mengenai keberanian menghadapi tantangan maupun pentingnya menjalankan tanggung jawab publik secara transparan dan akuntabel.

Karena itu, penerbitan buku Cory tidak hanya relevan untuk mengenang perjalanan hidup seorang mantan kepala daerah, tetapi juga dapat menjadi bahan diskusi mengenai kepemimpinan perempuan, perubahan sosial, dan perkembangan demokrasi lokal.

Pada akhirnya, perjalanan Cory Sriwaty Sebayang menunjukkan bahwa pencapaian seorang pemimpin bukan hanya tentang siapa yang berhasil menduduki jabatan, melainkan juga tentang jalan yang ditempuh, tantangan yang dihadapi, keputusan yang diambil, serta kesempatan yang terbuka bagi generasi sesudahnya.

Buku biografi tersebut menjadi salah satu upaya mendokumentasikan perjalanan hidupnya, sekaligus mengingatkan bahwa sejarah kepemimpinan akan memiliki arti lebih besar ketika pengalaman masa lalu dapat dipelajari untuk membangun masa depan lebih baik.

(Dodi Sembiring)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini