Dukung Ketahanan Pangan, PPBI Sumut Minta Pemerintah Percepat Penanganan Flu Babi

0
131

Medan | GeberNews.com – Pemerintah diminta segera mengambil langkah cepat dan terukur dalam mengatasi penyebaran virus African Swine Fever atau flu babi yang kembali menghantam populasi ternak babi di Sumatera Utara. Penanganan dianggap penting untuk mendukung ketahanan pangan nasional sesuai program astacita Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia, sekaligus menjaga stabilitas ekonomi peternak lokal serta mencegah gejolak sosial di masyarakat.

Hal tersebut disampaikan Ketua DPD Persatuan Peternak Babi Indonesia (PPBI) Sumut, Heri Ginting dalam Dialog Kolaborasi PPBI Sumut dengan Pemerintah Pusat dan Daerah, Senin (10/11/2025) di Medan. Ia menegaskan, flu babi menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan peternakan rakyat.

“Saat ini permasalahan utama yang dihadapi para peternak adalah penularan ASF. Jika tidak segera dimitigasi, populasi ternak babi akan terus menurun,” ujarnya. Heri menjelaskan, penurunan populasi berdampak langsung pada pendapatan peternak. Kerugian ekonomi, kata dia, telah mencapai sekitar 65 persen dan dapat terus memburuk apabila pemerintah tidak segera memastikan upaya pencegahan dan ketersediaan vaksin.

Melalui dialog ini, Heri berharap para peternak memperoleh pengetahuan pencegahan dan mitigasi, terutama di tengah belum tersedianya vaksin secara merata. Ia mengajak peternak menjaga kebersihan lingkungan kandang, membatasi lalu lintas orang masuk kandang, serta mengubur bangkai ternak yang mati akibat terpapar virus. Ia juga mengimbau agar seluruh peternak tetap menjaga situasi keamanan dan ketertiban di Sumut, serta mendukung program pembangunan pemerintah.

Ketua Dewan Pimpinan Pusat PPBI, Sutrisno Pangaribuan menambahkan bahwa keberadaan peternak babi memiliki kontribusi positif dalam pengelolaan sampah rumah tangga di Kota Medan. Menurutnya, banyak peternak memanfaatkan limbah makanan rumah tangga sebagai pakan ternak sehingga ikut membantu mengurangi volume sampah dan mencegah bau lingkungan.

“Peternak jangan hanya dilihat dari ternaknya saja. Lihat juga dari sisi manfaatnya dalam pengolahan limbah. Mereka turut membantu mengatasi persoalan sampah di kota,” jelasnya. Sutrisno mengajak seluruh peternak tetap semangat dan tidak menyerah menghadapi situasi yang berat ini.

Dalam sesi dialog, salah seorang peternak, Lenta Sumiati Br Hutabarat menanyakan ciri-ciri babi yang terpapar virus ASF. Heri Ginting menjelaskan gejalanya antara lain penurunan nafsu makan, demam, lendir dari hidung, bercak merah di kulit, pendarahan dari mulut dan hidung, bentuk kotoran menyerupai bulatan kecil, serta urine berwarna kuning kecoklatan.

Kegiatan dialog yang berlangsung hangat dan penuh kekeluargaan ini ditutup dengan pembagian paket sembako kepada sekitar 215 peserta yang hadir sebagai bentuk dukungan moral dan solidaritas antarpeternak.

🟥 Tim | GeberNews.com
🗣️ Mengungkap Segala Fakta

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini