

Waktu jelang siang itu mengalir tenang. Di sebuah patio di area belakang rumah di kawasan Bekasi Barat, percakapan berlangsung tanpa sekat dan tanpa formalitas.

Di hadapan penulis duduk sosok yang tenang namun penuh keteguhan: Hasanuddin Tisi Dg Lewa, yang akrab disapa Tetta Lewa. Ia dikenal sebagai pengusaha sukses asal Sabintang, Takalar, Sulawesi Selatan, yang kini menetap di Bekasi.
Lebih dari sekadar pengusaha, Hasanuddin Tisi Dg Lewa merupakan figur dengan identitas kultural yang kuat sebagai Karaeng Mallantikang Maloloa. Ia juga memegang peran penting dalam berbagai organisasi sosial dan keagamaan.
Teranyar, ia dipercaya sebagai Ketua Umum Badan Pengurus Nasional (BPN) KKTP (Kerukunan Keluarga Takalar Panrannuangku).
Percakapan selama kurang lebih satu jam itu terasa lebih dari sekadar dialog biasa. Ada kedalaman makna dalam setiap kalimat yang disampaikannya.
“Hidup ini singkat, jadi isi dengan perjuangan yang menghadirkan kebaikan,” ujarnya tenang.
Pernyataan tersebut lahir dari perjalanan panjang hidupnya, mulai dari kampung halaman di Takalar hingga kiprah di dunia usaha di perantauan. Dalam pandangannya, Indonesia merupakan proyek besar yang dibangun dari pengorbanan para pendiri bangsa.
“Negeri ini berdiri di atas perjuangan luhur. Itu harus kita jaga bersama. Perbedaan pasti ada, tetapi jangan dibiarkan membeku. Harus dicairkan agar tidak menjadi penghambat pembangunan,” ungkapnya.
Cara pandang ini mencerminkan pemikiran yang integratif, melihat perbedaan sebagai kekuatan yang harus dikelola, bukan sebagai ancaman.
Namun di balik optimisme tersebut, ia juga menyampaikan keprihatinannya terhadap kondisi bangsa saat ini. Ia menyoroti menurunnya kepercayaan publik serta masih adanya praktik-praktik yang dinilai belum berpihak kepada masyarakat.
“Saya prihatin. Di saat rakyat sedang sulit, masih terlihat hal-hal yang tidak mencerminkan keberpihakan kepada kepentingan publik,” katanya.
Menurutnya, tantangan terbesar yang dihadapi bangsa saat ini bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan krisis kepercayaan. Ketika kepercayaan publik melemah, stabilitas sosial dan arah pembangunan pun menjadi rentan.
Dalam konteks tersebut, ia menegaskan pentingnya peran tokoh masyarakat, pengusaha, serta organisasi seperti KKTP untuk hadir sebagai kekuatan sosial, bukan sekadar wadah silaturahmi, tetapi juga penjaga nilai, penguat solidaritas, dan pemberi kontribusi nyata.
Di tengah pembahasan yang serius, terselip sisi lain dari dirinya: kecintaan pada dunia otomotif, khususnya kendaraan Jeep. Baginya, Jeep bukan sekadar hobi, tetapi simbol karakter, tangguh, adaptif, dan siap menghadapi berbagai medan kehidupan.
Menutup perbincangan, ia kembali menegaskan makna perjuangan.
“Yang kita kejar bukan sekadar berhasil, tetapi bagaimana keberhasilan itu memiliki arti bagi orang lain,” tuturnya.
Satu jam pertemuan itu terasa padat, bukan karena banyaknya kata, melainkan karena kedalaman makna yang tersampaikan. Dari Hasanuddin Tisi Dg Lewa, tersirat pelajaran bahwa hidup bukan tentang seberapa lama kita ada, melainkan tentang apa yang kita tinggalkan: jejak kebaikan, atau sekadar jejak biasa.
Oleh: Yahdi Basma
(Sastrawan Politik Palu)
Bekasi | Minggu, 19 April 2026








