Bursa Ketua IMO Sumut Mulai Memanas, Dodi Rikardo Sembiring Siap Maju, 40 Media Disebut Merapat

0
44

MEDAN | GeberNews.com — Dinamika menuju kepemimpinan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Media Online (IMO) Indonesia Sumatera Utara mulai memanas. Nama Dodi Rikardo Sembiring, S.Sos., kini mencuat sebagai salah satu figur yang menyatakan kesiapan untuk maju dalam kontestasi Ketua DPW IMO Indonesia Sumatera Utara pada periode mendatang.

Dodi secara terbuka menyampaikan kesiapannya untuk mengambil bagian dalam proses regenerasi kepemimpinan tersebut. Namun, ia menegaskan bahwa langkahnya bukan untuk menggantikan atau mengganggu kepengurusan yang saat ini masih berjalan.

Menurut Dodi, dirinya akan maju setelah masa kepengurusan DPW IMO Indonesia Sumatera Utara yang saat ini dipimpin H.A. Nuar Erde Cs berakhir sesuai periode organisasi dan setelah mekanisme pergantian kepemimpinan resmi dibuka.

“Saya maju bukan sekarang. Nanti ketika kepengurusan Ketua DPW IMO Indonesia Sumatera Utara, H.A. Nuar Erde Cs, habis masa periodenya,” ujar Dodi Rikardo Sembiring di Medan, Minggu (30/8/2026).

Pernyataan tersebut sekaligus menunjukkan bahwa Dodi ingin menghormati kepengurusan yang sedang aktif. Ia menilai regenerasi organisasi harus berlangsung berdasarkan aturan, tahapan dan mekanisme yang telah ditetapkan.

Bagi Dodi, pencalonan bukan persoalan siapa yang paling cepat menyatakan diri, melainkan kesiapan menawarkan gagasan dan kemampuan membawa organisasi ke arah yang lebih baik.

Ia menegaskan, keinginannya maju bukan semata-mata karena mengejar jabatan Ketua DPW IMO Indonesia Sumatera Utara. Menurutnya, posisi ketua merupakan amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada anggota.

“Saya maju bukan untuk sekadar mengejar jabatan. Ada gagasan dan keinginan untuk membangun organisasi supaya lebih solid, profesional dan memberikan manfaat bagi seluruh anggota,” ujarnya.

Dodi berpandangan, perkembangan industri media digital yang sangat cepat membuat organisasi media harus mampu beradaptasi. Media online saat ini tidak cukup hanya mengandalkan kecepatan publikasi.

Akurasi, verifikasi, keberimbangan, kode etik jurnalistik, profesionalisme serta pemahaman terhadap regulasi pers menjadi bagian penting yang tidak boleh diabaikan.

Menurutnya, IMO Indonesia Sumatera Utara ke depan harus mampu menjadi wadah bersama bagi perusahaan media online dan insan media. Organisasi harus menjadi ruang untuk memperkuat komunikasi, membangun solidaritas dan menciptakan kolaborasi antarmedia.

Kompetisi antarperusahaan media, kata dia, merupakan sesuatu yang wajar. Namun persaingan tidak boleh berubah menjadi konflik yang justru merugikan sesama insan pers.

“Kita ingin organisasi ini menjadi rumah bersama bagi media online. Yang harus dibangun adalah kebersamaan, profesionalisme, komunikasi dan kolaborasi,” katanya.

Dinamika pencalonan Dodi semakin menarik setelah muncul klaim dukungan dari sejumlah jaringan media. Sekitar 40 jaringan media disebut telah menyatakan kesiapan memberikan dukungan kepada Dodi apabila proses pencalonan Ketua DPW IMO Indonesia Sumatera Utara nantinya memasuki tahapan resmi.

“Media kita sekitar 40 link siap mendukung Dodi jika Dodi membutuhkan dukungan. Kita siap bergerak,” demikian semangat dukungan yang disampaikan dari jaringan media.

Jika dukungan tersebut benar-benar terkonsolidasi dan dibuktikan melalui mekanisme organisasi, jumlah tersebut tentu dapat menjadi modal sosial yang cukup kuat bagi seorang bakal calon.

Namun, dukungan tersebut tetap harus ditempatkan sebagai pernyataan awal dari jaringan pendukung dan bukan sebagai hasil resmi pemilihan organisasi.

Sebab, siapa pun yang nantinya memimpin DPW IMO Indonesia Sumatera Utara harus mendapatkan legitimasi melalui mekanisme organisasi yang sah sesuai AD/ART, tata tertib dan keputusan organisasi.

Dodi sendiri menyadari bahwa banyaknya dukungan bukan satu-satunya faktor penentu. Baginya, dukungan harus diterjemahkan menjadi amanah dan tanggung jawab untuk membangun organisasi, bukan hanya dijadikan alat untuk memenangkan kontestasi.

Di tengah perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan, media sosial dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat, tantangan media online semakin kompleks.

Kecepatan berita harus berjalan beriringan dengan ketepatan informasi. Media dituntut mampu melakukan verifikasi sebelum publikasi, memahami batas-batas hukum dalam pemberitaan, menghormati kode etik jurnalistik dan memberikan ruang yang proporsional kepada pihak-pihak yang diberitakan.

Karena itu, Dodi menilai organisasi media tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Pendidikan dan pelatihan jurnalistik, diskusi regulasi pers, literasi digital, peningkatan kapasitas pengelola media, penguatan manajemen perusahaan pers serta forum komunikasi antarmedia dapat menjadi bagian dari program organisasi.

Menurutnya, keberadaan organisasi harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh anggota. Organisasi tidak boleh hanya aktif ketika ada agenda internal atau kegiatan seremonial, tetapi harus mampu menjawab persoalan nyata yang dihadapi perusahaan media dan insan pers.

Mulai dari peningkatan kapasitas, penguatan jaringan, advokasi kelembagaan, komunikasi antarmedia hingga membangun hubungan yang sehat dengan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan.

Namun seluruh kerja organisasi tersebut tetap harus berada dalam koridor hukum, etika jurnalistik dan ketentuan organisasi.

Dodi kembali menegaskan bahwa dirinya tidak ingin langkah pencalonannya dipersepsikan sebagai upaya mengganggu kepengurusan DPW IMO Indonesia Sumatera Utara yang masih berjalan.

Menurutnya, pengurus yang sedang menjalankan amanah harus diberikan ruang untuk menyelesaikan tugas hingga masa kepengurusannya berakhir.

Setelah periode tersebut selesai, barulah proses regenerasi dapat dilakukan melalui mekanisme yang telah ditentukan.

Sikap tersebut dinilai penting untuk menjaga suasana internal organisasi tetap kondusif. Pergantian kepemimpinan semestinya menjadi momentum konsolidasi dan penyegaran organisasi, bukan justru menjadi sumber perpecahan.

Munculnya nama Dodi Rikardo Sembiring sebagai bakal calon Ketua DPW IMO Indonesia Sumatera Utara merupakan dinamika yang wajar dalam sebuah organisasi.

Setiap periode kepengurusan pada akhirnya akan berakhir dan memberikan ruang bagi munculnya figur, gagasan serta energi baru.

Namun regenerasi harus dilakukan secara sehat. Jangan sampai kontestasi kepemimpinan justru menciptakan polarisasi di antara sesama insan media.

Jika benar terdapat sekitar 40 jaringan media yang menyatakan kesiapan mendukung Dodi, dukungan tersebut tentu merupakan modal sosial yang patut diperhitungkan. Tetapi dukungan moral dan jaringan belum otomatis menjadi legitimasi kepemimpinan.

Legitimasi tetap lahir dari mekanisme organisasi yang resmi.

Karena itu, siapa pun yang nantinya maju harus siap berkompetisi secara sehat, menyampaikan gagasan secara terbuka dan menghormati keputusan organisasi.

Begitu pula dengan pengurus yang sedang menjalankan amanah. Masa kepengurusan harus dihormati sampai selesai sesuai ketentuan.

Dengan demikian, dinamika pencalonan tidak perlu berubah menjadi konflik internal.

Sebaliknya, munculnya kandidat baru justru dapat menjadi kesempatan untuk memperkaya gagasan mengenai masa depan IMO Indonesia Sumatera Utara.

Pada akhirnya, kepemimpinan organisasi bukan hanya persoalan siapa yang mendapatkan posisi ketua.

Pertanyaan yang jauh lebih penting adalah apa yang akan dilakukan setelah terpilih.

Apakah organisasi mampu memperjuangkan kepentingan anggota? Apakah kompetensi insan media meningkat? Apakah hubungan antarmedia semakin solid? Apakah perusahaan media online mampu berkembang secara profesional? Dan yang tidak kalah penting, apakah organisasi mampu menjaga marwah serta kepercayaan publik terhadap dunia pers?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut semestinya menjadi bahan utama dalam setiap kontestasi kepemimpinan.

Calon pemimpin harus menawarkan program dan gagasan, bukan hanya dukungan.

Di tengah mulai munculnya dukungan dari sejumlah jaringan media, semangat seperti “Gas terus, harus jadi!” mulai terdengar sebagai bentuk optimisme pendukung Dodi.

Namun semangat tersebut tetap harus diterjemahkan ke dalam proses organisasi yang tertib.

Semangat boleh tinggi, tetapi aturan tetap harus menjadi pijakan. Dukungan boleh banyak, tetapi persatuan harus tetap dijaga. Kontestasi boleh berlangsung, tetapi persaudaraan sesama insan media jangan sampai hilang.

Untuk saat ini, Dodi menyatakan memilih menunggu.

Masa kepengurusan DPW IMO Indonesia Sumatera Utara yang sedang berjalan tetap harus dihormati hingga berakhir sesuai ketentuan.

Setelah momentum resmi tiba, barulah proses pencalonan, konsolidasi dan pemilihan dapat berjalan sesuai mekanisme organisasi.

Dengan munculnya nama Dodi Rikardo Sembiring, peta dinamika kepemimpinan DPW IMO Indonesia Sumatera Utara periode mendatang mulai menarik perhatian.

Apakah dukungan dari sekitar 40 jaringan media tersebut nantinya benar-benar akan menjadi kekuatan dalam proses organisasi?

Apakah akan muncul kandidat lain?

Dan siapa yang akhirnya mendapatkan kepercayaan mayoritas melalui mekanisme resmi?

Semua pertanyaan tersebut masih menunggu waktu.

Yang pasti, IMO Indonesia Sumatera Utara membutuhkan kepemimpinan yang mampu merangkul, bukan memecah; membangun, bukan mempertentangkan; serta menghadirkan program nyata, bukan sekadar janji.

Regenerasi hendaknya menjadi energi baru untuk memperkuat organisasi.

Ketika waktunya tiba, keluarga besar IMO Indonesia Sumatera Utara memiliki hak untuk menentukan figur yang paling siap membawa organisasi menuju masa depan yang lebih solid, profesional, independen dan bermartabat.

Bola kini mulai bergerak.

Bukan sekadar siapa yang paling banyak pendukungnya, tetapi siapa yang paling siap memikul amanah dan membuktikan gagasannya untuk kepentingan bersama.

(Latifah Hanum)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini