

Makassar | GeberNews.com — Sosok Ariel Masogi, yang akrab dijuluki RT Millenial, semakin menjadi sorotan publik di Kota Makassar. Meskipun hanya beberapa bulan menjabat sebagai Penjabat (PJ) Ketua RT, jejak kepemimpinannya dinilai meninggalkan perubahan besar di Maccini Kidul. Gaya kerjanya yang cepat, modern, serta kedekatannya dengan warga membuat Ariel bukan hanya dihormati, tetapi juga dirindukan oleh masyarakat yang merasakan langsung hasil kinerjanya.
Sejak pertama memegang amanah sebagai PJ RT, Ariel langsung bergerak tanpa menunda. Berbagai persoalan lingkungan yang sebelumnya mandek ia benahi satu per satu dengan langkah terukur. Lorong-lorong yang dulu gelap kini kembali terang. Infrastruktur yang rusak mulai diperbaiki. Drainase yang lama dibiarkan tersumbat dibersihkan untuk mengurangi risiko banjir. Persoalan sampah yang menjadi keluhan klasik warga ditangani dengan pola pengangkutan yang lebih disiplin dan efisien.
“Baru kali ini kami punya RT yang benar-benar kerja. Belum lama menjabat, tapi hasilnya sangat terasa. Lorong kami bersih, terang, dan tidak lagi becek,” ujar Iwan, warga Lorong 4 Maccini Kidul.
Warga lainnya, Nurhayati, juga menuturkan kekagumannya. Menurutnya, Ariel membawa warna baru dalam kepemimpinan tingkat RT. “Beliau cepat tanggap. Kalau ada laporan, langsung turun melihat kondisi. Tidak menunda. Rasanya kami benar-benar punya pemimpin yang peduli,” ungkapnya.
Tak hanya fokus pada pembenahan fisik lingkungan, Ariel juga dikenal sebagai pemimpin yang mudah ditemui dan dekat dengan masyarakat. Ia aktif berkomunikasi dengan warga dari berbagai kalangan, mulai dari orang tua hingga anak muda. Pendekatan terbuka ini membuatnya cepat diterima dan menjadi teladan kepemimpinan yang lebih modern, adaptif, dan membumi.
Namun di tengah apresiasi yang mengalir, warga justru dibuat kecewa setelah mengetahui bahwa Ariel Masogi tidak dapat mengikuti pemilihan RT/RW 2025. Banyak yang menyayangkan hal tersebut, sebab program-program yang sudah ia bangun dinilai masih sangat dibutuhkan kelanjutannya.
“Kami merasa kehilangan. Beliau masih muda, punya ide-ide bagus, dan mau turun langsung bekerja. Sayang kalau tidak bisa melanjutkan,” tutur Rahman, tokoh masyarakat Maccini Kidul.
Meski masa jabatannya singkat, perjalanan kepemimpinan Ariel meninggalkan kesan yang tidak singkat bagi warga. Ia menjadi simbol perubahan—bukti bahwa pemimpin lingkungan tidak harus berusia tua, tetapi harus memiliki kemauan, visi, dan ketulusan dalam melayani.
Harapan warga kini sederhana: semangat RT Millenial yang diusung Ariel dapat menjadi inspirasi bagi pemimpin lain di Kota Makassar. Bagi masyarakat Maccini Kidul, Ariel Masogi bukan hanya seorang PJ RT, tetapi figur yang mengangkat standar baru pelayanan publik di akar rumput—pemimpin muda yang bekerja dengan hati, bergerak cepat, dan meninggalkan perubahan nyata.
(BaraMakassar)







