GeberNews.com | Medan — Ledakan emosi ratusan massa dari berbagai elemen masyarakat pecah di depan Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Sumatera Utara I, Jalan Suka Mulia, Rabu (6/5/2026). Aksi yang semula berlangsung damai berubah memanas setelah tuntutan mereka dinilai diabaikan. Ban bekas dibakar di depan gerbang kantor sebagai simbol perlawanan atas dugaan ketidakadilan yang menimpa Busrok Anthony.
Massa yang tergabung dalam Dewan Peduli Negeri (DPN) terdiri dari buruh, mahasiswa, komunitas ojek online, serta masyarakat sipil. Mereka memadati lokasi aksi sambil meneriakkan “SAVE BUSROK”, menuntut keadilan yang dinilai telah dirampas dari seorang pekerja yang berani mengungkap dugaan kejanggalan.
Koordinator aksi, Muhammad Reza, dalam orasinya menegaskan negara tidak boleh tunduk pada praktik yang merugikan rakyat.
“Negara tidak boleh kalah oleh praktik pemerasan! Kami tidak akan biarkan pejabat seenaknya merampok hak rakyat, sementara pimpinan hanya diam dan tutup mata!” tegasnya lantang dari atas mobil komando.
Kasus Mengendap Sejak 2021
Massa menyebut, persoalan yang menimpa Busrok Anthony bukanlah isu baru. Sejak 2021, Busrok yang merupakan pegawai aktif di Kanwil DJP Sumut I disebut berani mengungkap dugaan pelanggaran internal.
Namun, alih-alih mendapat perlindungan, ia justru mengalami perlakuan tidak adil hingga dimutasi pada 2023. Massa juga menyoroti peran sejumlah pejabat yang dinilai ikut bertanggung jawab atas mandeknya penanganan kasus tersebut.
“Kasus ini sudah bertahun-tahun mangkrak. Jangan ada yang lari dari tanggung jawab. Semua harus dibuka ke publik!” teriak massa.
Enam Tuntutan Keras: Bongkar dan Copot!
Dalam aksinya, massa menyampaikan enam tuntutan utama:
Transparansi penuh terkait outsourcing dan BPJS
Audit keselamatan dan kesehatan kerja (K3)
Pengusutan dugaan korupsi kegiatan fiktif
Pembayaran penuh hak Busrok Anthony
Pencopotan dan proses hukum pejabat terkait
Pertemuan terbuka untuk adu fakta.
Ban Dibakar, Gedung:
Diselimuti Asap
Ketegangan memuncak saat massa merasa aspirasi mereka tidak direspons. Ban bekas dibakar tepat di depan kantor, menghasilkan asap hitam pekat yang menyelimuti area tersebut.
Aksi itu memaksa pihak kantor membuka ruang audiensi. Namun, pertemuan yang berlangsung dinilai tidak menghasilkan solusi konkret.
“Tidak ada solusi! Hanya jawaban normatif. Ini bukti keadilan untuk Busrok sudah mati di sini!” ujar Reza dengan nada kecewa.
Seruan Unik: Bayar Pajak Pakai Koin
Di tengah aksi, muncul seruan simbolik dari massa kepada publik. Mereka mengajak wajib pajak membayar pajak menggunakan uang koin sebagai bentuk protes terhadap dugaan penyalahgunaan wewenang. Seruan tersebut langsung disambut riuh oleh peserta aksi.
Ultimatum: Aksi Lebih Besar Mengancam
Menutup aksi, massa melontarkan ultimatum keras. Mereka berjanji akan kembali dengan jumlah lebih besar jika tuntutan tidak segera dipenuhi.
“Besok kami datang lagi dengan kekuatan lebih besar! Jangan harap kami diam sebelum hak dipenuhi dan pejabat bermasalah dicopot!” tegas Reza.
Aksi berakhir tertib di bawah pengawalan aparat kepolisian. Namun situasi diperkirakan masih akan memanas. Jika tidak ada langkah konkret dari pihak terkait, gelombang aksi lanjutan diyakini akan kembali mengguncang Sumatera Utara.
(Adel)







