
Medan | GeberNews.com — Gelombang solidaritas kemanusiaan terus menguat dari berbagai daerah di Pulau Sumatera. Aktivis, relawan kemanusiaan, mahasiswa, organisasi masyarakat hingga unsur legislatif secara serentak menyerukan kepada Pemerintah Republik Indonesia agar segera menetapkan “Banjir Sumatera” sebagai Bencana Nasional, menyusul masifnya dampak banjir besar dan longsor yang melanda sejumlah wilayah, termasuk Sumatera Barat (Sumbar) dan provinsi lainnya.
Seruan tersebut digagas oleh Sofiana,S.H., Praktisi Sosial, yang menilai bahwa bencana hidrometeorologi yang terjadi saat ini tidak lagi dapat dikategorikan sebagai musibah lokal semata, melainkan telah berkembang menjadi krisis kemanusiaan berskala regional dengan dampak dan implikasi nasional.
“Fakta di lapangan sangat memprihatinkan. Ribuan warga kehilangan rumah, mata pencaharian, bahkan nyawa. Kondisi pengungsian tidak layak, akses jalan dan jembatan terputus, layanan komunikasi terganggu, pasokan air bersih dan listrik terbatas, serta pelayanan kesehatan masih belum memadai,” ujar Sofiana,S.H. dalam keterangannya.
Ia merinci, dampak bencana turut melumpuhkan sendi kehidupan masyarakat. Anak-anak terancam putus sekolah, petani gagal panen, peternak kehilangan ribuan ternak, pelaku UMKM mengalami kerugian besar akibat rusaknya stok dagangan, nelayan kehilangan sarana produksi, hingga warga terdampak mengalami trauma psikologis berkepanjangan.
Menurutnya, skala bencana saat ini telah melampaui kapasitas pemerintah daerah dalam menanggulangi secara optimal. Penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana membutuhkan keterlibatan penuh pemerintah pusat dengan seluruh perangkat negara agar penyaluran bantuan dapat berjalan cepat, merata, dan tepat sasaran.
“Daerah tidak lagi mampu menanggung beban bencana sebesar ini seorang diri. Negara wajib hadir secara penuh dan nyata,” tegas Sofiana,S.H.
Dalam pernyataan sikapnya, Sofiana,S.H. menyampaikan empat tuntutan utama kepada pemerintah pusat, yakni, menetapkan “Banjir Sumatera” sebagai Bencana Nasional, membuka akses penuh logistik serta anggaran nasional untuk penanganan darurat dan pemulihan, menjamin perlindungan maksimal terhadap kelompok rentan meliputi anak-anak, perempuan, lansia, dan penyandang disabilitas, serta melaksanakan pemulihan lingkungan secara serius, terencana, dan berkelanjutan guna mencegah bencana serupa terulang kembali.
Sofiana,S.H. menegaskan, persoalan bencana bukan sekadar urusan data dan angka statistik belaka, melainkan menyangkut nyawa rakyat serta masa depan bangsa.
“Jika sektor pertanian, peternakan, serta UMKM lumpuh dalam waktu panjang, maka ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi nasional turut terancam,” katanya.
Banjir dan longsor di sejumlah provinsi Pulau Sumatera telah merusak infrastruktur vital, memutus jalur distribusi logistik, serta melumpuhkan perekonomian rakyat. Sawah serta kebun terendam, ternak hanyut terseret banjir, pasar sepi pembeli, aktivitas perdagangan tersendat, dan ribuan keluarga terpaksa mengungsi dalam kondisi keterbatasan.
Melihat besarnya skala dampak tersebut, Sofiana,S.H. menilai penetapan status Bencana Nasional menjadi langkah strategis untuk menggerakkan seluruh kekuatan negara secara terpadu, terkoordinasi, dan cepat, baik dalam penanganan darurat, rehabilitasi, hingga proses rekonstruksi di wilayah terdampak.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat—aktivis, relawan, mahasiswa, organisasi, komunitas kemanusiaan, hingga jaringan sosial—untuk membangun opini publik serta memperluas penyebaran seruan kemanusiaan di seluruh ruang perjuangan.
“Diam berarti membiarkan penderitaan saudara-saudara kita terus berulang,” ujarnya tegas.
Dikenal sebagai pendiri komunitas pos kemanusiaan, Bendahara DPC LSM PENJARA Deli Serdang, serta tokoh penggerak perempuan tangguh, Sofiana,S.H. menutup seruannya dengan menegaskan bahwa bencana tidak boleh dicampuradukkan dengan kepentingan politik apa pun.
“Ini murni tentang keselamatan rakyat, masa depan pangan nasional, dan keadilan bagi daerah terdampak. Negara harus hadir sepenuhnya untuk rakyatnya,” pungkasnya.
(Dodi Rikardo)








