

Medan Labuhan | GeberNews.com — Tiga hari pascabanjir, warga Jl Tempirai Blok 7 Kelurahan Besar, Kecamatan Medan Labuhan, masih dibiarkan berjuang sendiri tanpa bantuan dari Pemerintah Kota Medan. Meski genangan air mulai surut, penderitaan justru semakin nyata. Tidak terlihat posko darurat, tidak ada distribusi logistik, tak datang tim kesehatan, bahkan satu pun pejabat belum tampak meninjau lokasi. Yang tersisa hanyalah lumpur pekat memenuhi rumah-rumah warga, bau busuk menyengat, serta teriakan minta tolong yang seolah tak terdengar oleh pemerintah.


Banjir terjadi akibat hujan deras sejak Jumat malam yang membuat sistem drainase tak mampu menampung debit air. Genangan setinggi 40 hingga 80 sentimeter merendam ratusan rumah. Perabotan rusak, peralatan elektronik tak terselamatkan, serta stok bahan pangan warga habis terendam air. Lingkungan berubah menjadi kubangan lumpur, akses jalan terputus, dan aktivitas masyarakat lumpuh total. Sejumlah anak terpaksa tidak bersekolah karena rumah dan jalan masih dipenuhi lumpur tebal.




Meski air perlahan surut, ancaman baru justru muncul. Sisa lumpur bercampur sampah dan bangkai hewan mengendap di pemukiman, memicu bau menyengat dan risiko penyakit. Kondisi semakin darurat karena suplai air bersih terputus total. Layanan PAM di kawasan tersebut mati tanpa kepastian perbaikan, membuat warga kesulitan membersihkan rumah maupun memenuhi kebutuhan sanitasi harian.

“Kami butuh air bersih sekarang, bukan besok atau minggu depan. Rumah penuh lumpur, tapi PAM mati total. Kami mau bersihkan rumah pakai air apa,” keluh seorang warga dengan suara putus asa.
Dalam kondisi serba sulit, warga mengaku hanya mengandalkan persediaan makanan seadanya. Air minum harus dibeli sendiri dengan uang yang tersisa, sementara sebagian besar kepala keluarga tidak bisa bekerja akibat lumpuhnya aktivitas wilayah.
“Kami makan seadanya. Air minum beli seadanya. Kami cuma bertanya, pemerintah ke mana melihat penderitaan kami,” ujar warga lainnya lirih.
Situasi ini menuai kecaman keras dari Dewan Pimpinan Cabang (DPC) LSM PENJARA Kabupaten Deli Serdang. Dengan motto “Siap Berani Benar,” organisasi ini menilai Pemerintah Kota Medan gagal menjalankan kewajiban dasar dalam memberikan perlindungan dan pelayanan kepada masyarakat terdampak bencana.
Bendahara DPC LSM PENJARA, Sofhiana Karim, S.H., menegaskan bahwa hingga Sabtu sore belum terlihat satu pun bentuk bantuan nyata disalurkan kepada warga.
“Kami belum melihat selembar mie instan dibagikan, belum ada posko, belum ada pemeriksaan kesehatan, bahkan belum satu pun pejabat turun meninjau. Warga benar-benar dibiarkan berjuang sendiri di tengah lumpur dan bau busuk,” tegas Sofhiana.
Ia menilai kondisi warga saat ini sudah masuk kategori darurat kemanusiaan, bukan sekadar banjir biasa.
“Air PAM mati total, rumah-rumah tertutup lumpur, anak-anak dan lansia mulai sakit. Ini sudah menyangkut keselamatan dan kesehatan rakyat. Tapi pemerintah justru terkesan tak peduli,” katanya dengan nada kecewa.
Sofhiana juga mengecam pola penanganan bencana yang menurutnya selalu terlambat dan bersifat seremonial.
“Jangan tunggu korban tumbang atau nyawa melayang dulu baru datang membawa rombongan kamera. Banjir ini bukan pertama kali melanda kawasan ini. Artinya persoalan drainase dan tata kota benar-benar bobrok, tapi yang selalu jadi korban rakyat kecil,” ujarnya lantang.
DPC LSM PENJARA mendesak Pemerintah Kota Medan agar segera menghentikan sikap abai dan mengambil langkah cepat, konkret, serta menyentuh langsung kebutuhan warga, di antaranya:
Melakukan pendataan menyeluruh terhadap seluruh korban banjir.
Menyalurkan bantuan darurat berupa makanan siap saji, air bersih, obat-obatan, dan perlengkapan tidur.
Mendirikan posko darurat serta menyiapkan tempat pengungsian yang layak.
Mengirim tim medis untuk pemeriksaan kesehatan dan pencegahan wabah penyakit.
Segera menormalkan pasokan air PAM bagi warga terdampak.
Melakukan evaluasi dan pembenahan total sistem drainase sebagai solusi jangka panjang agar banjir tidak terus berulang.
LSM PENJARA menegaskan akan terus mengawal penderitaan warga Medan Labuhan sampai pemerintah benar-benar turun tangan dan bertanggung jawab.
“Warga korban banjir tidak butuh pidato dan pencitraan. Mereka butuh makan, air bersih, obat-obatan, dan kehadiran nyata negara di tengah penderitaan,” pungkas Sofhiana.
Untuk informasi dan koordinasi bantuan, DPC LSM PENJARA Medan Labuhan dapat dihubungi melalui Telp/WA 0838-6678-1346.
(Dodi Rikardo Sembiring)








