Warga Batang Kuis Curiga Ada “Tangan Tak Kasat Mata”

0
71

BATANG KUIS | GeberNews.com— Warga Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang, dibuat geger dengan raibnya besi rel kereta api kuno seberat sekitar 20 ton yang selama puluhan tahun tergeletak di kawasan keramaian. Lokasi besi tersebut diketahui berada di titik strategis, diapit langsung oleh tiga kantor Muspika Kecamatan Batang Kuis, yakni Kantor Camat, Kantor Polsek, dan Kantor Koramil.

Yang mengundang tanda tanya besar, besi rel tersebut bukan benda kecil. Selain bobotnya mencapai puluhan ton, posisinya berada di ruang publik yang ramai dilalui masyarakat setiap hari. Namun, secara misterius, besi rel itu menghilang tanpa jejak. Tidak ada saksi yang melihat proses pemindahan, tidak ada suara bising alat berat, dan tidak ada laporan aktivitas pengangkutan dalam skala besar.

Besi rel yang raib itu diyakini berasal dari abad ke-18 dan dahulu digunakan sebagai jalur kereta api pengangkut tembakau pada era 1800-an. Pada masa itu, kereta api menjadi sarana transportasi utama untuk mendukung aktivitas perkebunan di kawasan Deli Serdang.

Rel tersebut selama ini dianggap sebagai artefak sejarah lokal yang merekam jejak kejayaan perkebunan tembakau di masa kolonial. Namun, ironisnya, peninggalan sejarah itu kini lenyap tanpa penjelasan resmi.

Menanggapi raibnya besi rel kuno tersebut, Wak Bongak, tokoh masyarakat setempat yang dikenal sebagai pemerhati sejarah Batang Kuis, mengaitkan peristiwa ini dengan legenda jawara sakti yang konon menjadi cikal bakal penamaan Batang Kuisl

Menurut cerita turun-temurun, jawara tersebut pernah menggeser sebuah pohon besar yang tumbang di tengah jalan raya hanya dengan telunjuk. Aksi “mengkuiskan” atau menggeser itulah yang kemudian melekat menjadi sebutan Batang Kuis. Karena peristiwa itu, sang jawara dinobatkan masyarakat sebagai sosok sakti mandraguna.

Seiring raibnya besi rel kuno, muncul spekulasi di tengah warga. Banyak yang bertanya-tanya apakah hilangnya rel tersebut ada kaitannya dengan kisah jawara sakti di masa lalu. Wak Bongak bahkan berasumsi bahwa sosok yang diduga memindahkan besi rel tersebut kemungkinan merupakan murid atau penerus ilmu sang jawara legendaris.

“Kalau melihat ceritanya, orang dulu bisa menggeser pohon besar. Sekarang besi rel puluhan ton bisa hilang begitu saja. Orang-orang menduga ada ‘tangan tak kasat mata’ yang bermain,” ujar Wak Bongak.

Namun hingga kini, tidak ada bukti konkret yang menguatkan dugaan tersebut. Motif pemindahan, cara menggeser besi seberat puluhan ton, hingga lokasi penyimpanan rel kuno itu masih menjadi misteri yang belum terpecahk

Di balik kisah mistis yang beredar, warga juga mempertanyakan aspek pengawasan. Hilangnya benda berukuran besar di kawasan yang berdekatan dengan tiga kantor Muspika memunculkan pertanyaan serius soal fungsi kontrol dan keamanan aset sejarah di ruang publik.

Warga berharap ada penelusuran resmi untuk mengungkap ke mana perginya besi rel tersebut, apakah benar dipindahkan secara terencana, dijual sebagai besi tua, atau ada unsur kelalaian dalam pengawasan. Tanpa klarifikasi dan langkah nyata, raibnya rel abad ke-18 ini dikhawatirkan menjadi preseden buruk bagi perlindungan benda-benda bersejarah di Batang Kuis.

(Abdul Hadi)

DPW P2BMI SUMUT

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini