Pencak Silat Budi Luhur Turunkan 35 Atlet, Bidik Prestasi di Open Sumut Perebutan Piala Gubsu

0
113

MEDAN | GeberNews.com — Perguruan Pencak Silat Budi Luhur menunjukkan komitmennya dalam pembinaan dan regenerasi atlet dengan menurunkan 35 pesilat muda pada Kejuaraan Pencak Silat Open Sumatera Utara (Sumut) yang memperebutkan Piala Gubernur Sumatera Utara (Gubsu).

Kejuaraan yang berlangsung pada 20–24 Agustus 2026 di Gedung Olahraga (GOR) Serbaguna, Jalan Pancing, Medan, tersebut diikuti pesilat dari berbagai perguruan dan daerah di Sumatera Utara.

Ajang ini menjadi momentum bagi para atlet untuk menguji kemampuan sekaligus menambah pengalaman bertanding.

Budi Luhur menurunkan 35 atlet di bawah asuhan pelatih Reyvaldo yang akrab disapa Kak Sun. Para pesilat tersebut terdiri dari 19 atlet putra dan 15 atlet putri.

Keikutsertaan Budi Luhur tidak semata-mata berorientasi pada perolehan medali.

Kejuaraan ini juga menjadi bagian dari proses pembentukan mental, disiplin, karakter, sportivitas dan pengalaman bertanding para atlet muda.

Setiap pertandingan menjadi kesempatan bagi atlet untuk mengukur hasil latihan yang telah dijalani.

Selain kemenangan, keberanian tampil di gelanggang, kemampuan mengendalikan emosi, menjalankan instruksi pelatih serta menjaga sportivitas menjadi bagian penting dari proses pembinaan.

Kak Sun Tekankan Keberanian dan Mental Bertanding

Pelatih Pencak Silat Budi Luhur, Reyvaldo atau Kak Sun, mengatakan para atlet telah dipersiapkan melalui program latihan dan pembinaan secara bertahap.

Menurutnya, kejuaraan tingkat Sumatera Utara sangat penting untuk membentuk mental bertanding pesilat muda.

Atlet tidak cukup hanya menguasai teknik, tetapi juga harus memiliki keberanian, konsentrasi, kedisiplinan dan mental yang kuat ketika menghadapi lawan.

“Yang paling penting anak-anak berani bertanding, menjaga sportivitas, dan memberikan kemampuan terbaik. Soal hasil, kita serahkan kepada perjuangan mereka di gelanggang,” ujar Kak Sun.

Ia menilai pertandingan bukan sekadar ajang untuk menentukan siapa yang menjadi juara.

Gelanggang juga menjadi tempat bagi atlet belajar menghadapi tekanan, mengatasi rasa gugup, membaca permainan lawan serta mengambil keputusan dalam waktu singkat.

Kak Sun menegaskan, prestasi harus dibangun melalui proses.

Atlet yang belum berhasil meraih juara tidak boleh langsung menganggap dirinya gagal. Kekalahan harus menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki teknik, fisik, strategi dan mental.

“Saya selalu tekankan kepada anak-anak, jangan takut kalah. Yang harus ditakuti adalah kalau kita tidak mau belajar dari kekalahan. Kalau kalah karena sudah memberikan kemampuan terbaik, kita evaluasi, kita perbaiki, lalu kita kembali berlatih. Besok harus lebih baik dari hari ini,” katanya.

Ia juga mengingatkan para pesilat agar tidak mudah terbawa emosi selama pertandingan.

Menurutnya, pengendalian diri merupakan salah satu aspek penting dalam pencak silat karena emosi yang tidak terkendali dapat mengganggu konsentrasi dan strategi.

“Pencak silat bukan hanya soal pukulan dan tendangan. Di dalamnya ada disiplin, pengendalian diri, keberanian, rasa hormat kepada lawan dan tanggung jawab. Anak-anak harus memahami bahwa mereka membawa nama perguruan dan keluarga ketika berada di gelanggang,” tegasnya.

Kak Sun berharap seluruh atlet dapat menjadikan kejuaraan tersebut sebagai pengalaman berharga untuk menghadapi kompetisi berikutnya.

“Saya ingin mereka pulang dari kejuaraan ini membawa pengalaman. Kalau mendapatkan medali tentu kita bersyukur. Tetapi kalau belum berhasil, jangan patah semangat. Kita jadikan pertandingan ini sebagai bahan evaluasi dan motivasi untuk menghadapi kejuaraan berikutnya,” ujarnya.

Adi Warman Lubis: Prestasi Dibangun Melalui Proses

Sementara itu, Ketua Umum Pencak Silat Budi Luhur, Adi Warman Lubis, mengapresiasi perjuangan para atlet, pelatih dan seluruh tim yang telah mempersiapkan kontingen untuk tampil dalam Kejuaraan Open Sumut perebutan Piala Gubsu.

Ia menegaskan, keikutsertaan 35 atlet merupakan bagian dari komitmen Budi Luhur dalam membangun pembinaan pencak silat secara serius dan berkelanjutan.

Menurut Adi, prestasi olahraga tidak dapat dibangun secara instan.

Dibutuhkan proses panjang yang melibatkan atlet, pelatih, pengurus, orang tua serta dukungan berbagai pihak.

“Kami tidak ingin pembinaan pencak silat hanya berorientasi pada hasil sesaat. Yang kami bangun adalah proses. Kami ingin anak-anak memiliki mental juara, disiplin, karakter, sportivitas dan semangat pantang menyerah. Medali adalah salah satu hasil dari proses tersebut, tetapi karakter atlet jauh lebih penting untuk kita bangun,” kata Adi Warman Lubis.

Menurutnya, keberanian menurunkan puluhan atlet muda dalam satu kejuaraan merupakan langkah penting untuk memberikan kesempatan kepada generasi muda memperoleh pengalaman bertanding.

“Kalau kita ingin melahirkan atlet berprestasi, mereka harus diberikan kesempatan bertanding. Tidak mungkin seorang pesilat memiliki pengalaman kalau hanya berlatih tanpa pernah turun ke gelanggang. Karena itu, setiap kejuaraan harus kita manfaatkan sebagai ruang belajar, ruang evaluasi dan ruang untuk membentuk mental,” ujarnya.

Adi juga berpesan agar para atlet tidak hanya mengejar kemenangan, tetapi tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur pencak silat.

“Saya ingin anak-anak bertanding dengan kepala tegak. Menang jangan sombong, kalah jangan menyerah. Hormati lawan, hormati wasit, dengarkan pelatih dan jaga nama baik perguruan. Itulah bagian dari seorang pesilat sejati,” tegasnya.

Ia menambahkan, pencak silat memiliki peran strategis dalam membentuk generasi muda yang disiplin dan berkarakter.

“Pencak silat bukan sekadar olahraga. Di dalamnya ada pendidikan karakter. Anak-anak diajarkan disiplin, menghormati orang lain, mengendalikan emosi, bertanggung jawab dan memiliki keberanian. Nilai-nilai seperti ini yang harus terus kita tanamkan kepada generasi muda,” katanya.

Dorong Regenerasi Atlet Sumatera Utara

Adi Warman Lubis berharap Kejuaraan Open Sumut perebutan Piala Gubsu dapat menjadi momentum untuk memperkuat ekosistem pembinaan pencak silat di Sumatera Utara.

Menurutnya, semakin banyak kejuaraan yang digelar secara profesional dan berjenjang, semakin besar pula peluang munculnya atlet-atlet muda berbakat yang dapat dipersiapkan menghadapi kompetisi tingkat nasional.

“Sumatera Utara memiliki banyak pesilat berbakat. Tinggal bagaimana kita memberikan ruang pembinaan yang konsisten, kompetisi yang sehat dan dukungan yang memadai. Dari kejuaraan seperti inilah kita bisa melihat potensi-potensi baru yang nantinya bisa menjadi atlet andalan Sumatera Utara,” jelasnya.

Ia mengingatkan para atlet agar tidak cepat puas dengan pencapaian dalam satu kejuaraan.

Atlet yang berhasil menjadi juara harus terus meningkatkan kemampuan, sementara mereka yang belum berhasil harus menjadikan hasil pertandingan sebagai bahan evaluasi.

“Kalau ada yang juara, jangan berhenti. Kalau ada yang belum berhasil, jangan menyerah. Semua harus kembali ke latihan. Prestasi itu bukan tujuan yang selesai setelah mendapatkan medali. Prestasi harus dipertahankan dan terus ditingkatkan,” ujarnya.

Budi Luhur Fokus pada Pembinaan dan Regenerasi

Keikutsertaan 35 pesilat Budi Luhur, yang terdiri dari atlet putra dan putri, menunjukkan upaya perguruan dalam membuka ruang pembinaan seluas-luasnya bagi generasi muda.

Selama kejuaraan, para atlet diharapkan mampu memberikan penampilan terbaik dengan tetap menjaga sportivitas, disiplin dan nama baik perguruan.

Bagi Budi Luhur, setiap atlet yang turun ke gelanggang tidak hanya membawa target prestasi, tetapi juga tanggung jawab untuk menunjukkan hasil latihan serta menerapkan nilai-nilai pencak silat.

Kejuaraan yang berlangsung selama lima hari tersebut menjadi momentum untuk mengukur perkembangan kemampuan para pesilat muda sekaligus mengevaluasi hasil pembinaan yang telah dilakukan.

Lebih dari sekadar mengejar medali, Budi Luhur ingin menjadikan setiap pertandingan sebagai bagian dari proses panjang mencetak pesilat yang memiliki kemampuan teknik, kekuatan fisik, mental bertanding serta karakter yang kuat.

Adi Warman Lubis, yang juga disebut menjabat sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat TKN Kompas Nusantara serta Ketua Umum PAGAR UNRI Prabowo-Gibran untuk Negara Republik Indonesia, menegaskan bahwa pembinaan generasi muda melalui olahraga merupakan bagian penting dalam membangun sumber daya manusia yang tangguh.

Menurutnya, generasi muda perlu diberikan ruang untuk berkembang melalui kegiatan positif yang mampu membentuk disiplin, keberanian, tanggung jawab dan rasa percaya diri.

“Kita ingin generasi muda tumbuh menjadi generasi yang kuat, bukan hanya secara fisik, tetapi juga mental dan karakter. Olahraga, termasuk pencak silat, merupakan salah satu jalan untuk membangun itu. Karena itu, pembinaan atlet muda harus terus kita dukung dan kita berikan ruang sebesar-besarnya,” pungkas Adi Warman Lubis.

Dengan semangat pembinaan tersebut, Budi Luhur berharap Kejuaraan Pencak Silat Open Sumut perebutan Piala Gubsu menjadi salah satu langkah penting dalam perjalanan para pesilat muda menuju prestasi yang lebih tinggi.

Bagi Budi Luhur, gelanggang adalah tempat menguji kemampuan, latihan adalah tempat membangun kekuatan, sedangkan mental juara menjadi modal untuk menghadapi setiap tantangan.

(Dodi Rikardo Sembiring)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini