

Medan | GeberNews.com – Aula dan Jalan Rakoetta Brahmana diabadikan sebagai bentuk penghormatan terhadap jejak pengabdian tokoh pemerintahan masa lalu, dan hal itu mendapat apresiasi langsung dari cucu kandungnya, Dodi Rikardo Sembiring Brahmana, S.Sos, yang juga mendorong agar negara mempertimbangkan pengusulan gelar Pahlawan Nasional bagi sosok tersebut.

Teks Foto: Dodi Rikardo Sembiring Brahmana berziarah di makam kakeknya Rakoetta Brahmana di Makam Pahlawan Kabanjahe, mengenang jejak pengabdian dan merawat warisan perjuangan untuk generasi penerus.

Teks Foto: Dodi Rikardo Sembiring Brahmana berfoto di belakang papan nama Jalan Rakoetta Brahmana di Kota Kabanjahe -Tanah Karo, penanda jejak sejarah dan penghormatan atas pengabdian yang terus dikenang lintas generasi.

Cucu kandung mantan Bupati Karo yang juga pernah menjabat sebagai Bupati Asahan, merangkap Wali Kota Tanjung Balai, Wali Kota Pematang Siantar, serta Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia Serikat (DPR RIS) di Senayan Jakarta dari Partai Nasional Indonesia (PNI) itu menyampaikan rasa bangga dan terima kasih atas penamaan salah satu ruangan di Kantor Pemerintah Kabupaten Karo menjadi Aula Rakoetta Brahmana.

Sekretaris Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Perkumpulan Garda Nusantara Madani (GNM) Sumatera Utara, Dodi Rikardo Sembiring Brahmana, S.Sos menegaskan bahwa penamaan aula tersebut bukan sekadar formalitas administratif, tetapi merupakan pengakuan historis terhadap tokoh daerah yang memiliki rekam jejak panjang dalam pemerintahan dan pengabdian kepada masyarakat, khususnya di Tanah Karo dan Sumatera Utara.
Menurutnya, langkah Pemerintah Kabupaten Karo patut diapresiasi karena menghadirkan penghormatan nyata melalui fasilitas resmi pemerintahan, sehingga nilai perjuangan dan pengabdian tidak hilang ditelan zaman serta tetap menjadi rujukan moral bagi generasi penerus.
Ia menilai penghargaan terhadap tokoh terdahulu sangat penting agar generasi muda memahami bahwa pembangunan daerah dan bangsa dibangun dari fondasi kerja keras, keberanian, dan tanggung jawab para pemimpin sebelumnya.
Kepada wartawan pada Minggu, 8 Februari 2026 di kediaman orang tuanya di Komplek Perumahan Taman Setia Budi Indah (Tasbi) Medan, Dodi menjelaskan bahwa laki atau kakeknya juga telah lebih dulu diabadikan menjadi nama jalan, yakni Jalan Rakoetta Brahmana di Kota Pematang Siantar dan Kota Kabanjahe. Penggunaan nama jalan di lebih dari satu daerah itu menunjukkan pengakuan luas atas peran dan jasanya lintas wilayah.
Ia juga mengungkap fakta sejarah bahwa pada masa pendudukan Jepang, kakeknya pernah mengeluarkan uang ringgit di wilayah Kabupaten Karo yang ditandatangani langsung olehnya. Kebijakan tersebut dinilai sebagai langkah strategis pemerintah lokal saat itu untuk menjaga perputaran ekonomi rakyat di tengah kondisi sulit dan penuh keterbatasan.
“Atas ditetapkannya nama Aula Rakoetta Brahmana di lingkungan Kantor Pemerintah Kabupaten Karo, kami keluarga besar menyampaikan rasa bangga, selamat, dan terima kasih. Ini bukan hanya penghormatan bagi keluarga, tetapi penanda sejarah agar generasi muda tidak melupakan jasa para pemimpin terdahulu,” ujarnya.
Dalam pernyataannya, Dodi juga memohon kepada Presiden Republik Indonesia (RI) agar tokoh tersebut dapat dipertimbangkan untuk diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Ia menilai rekam pengabdian, jabatan strategis yang pernah diemban di beberapa daerah, serta keterlibatan dalam struktur pemerintahan pusat menjadi dasar kuat untuk dilakukan pengkajian resmi oleh negara.
Menurutnya, negara perlu memberi ruang penilaian objektif terhadap tokoh daerah yang telah mengabdi lintas wilayah dan masa, karena kontribusi mereka merupakan bagian penting dari fondasi perjalanan pemerintahan dan kebangsaan.
Secara khusus, Dodi Rikardo Sembiring Brahmana, S.Sos juga menyampaikan ucapan selamat dan terima kasih kepada Bupati Karo, Brigjen Pol Purn Dr dr Antonius Ginting, SpOG, M.Kes atas kebijakan dan perhatian dalam menetapkan nama Aula Rakoetta Brahmana sebagai bentuk penghargaan terhadap tokoh daerah.
Ia berharap penamaan aula dan jalan tersebut tidak berhenti sebagai simbol, tetapi menjadi sumber inspirasi bagi aparatur dan masyarakat untuk bekerja jujur, berani, dan mengutamakan kepentingan rakyat, sejalan dengan nilai pengabdian yang diwariskan para pendahulu.
(Irena Sinaga)








