Dodi Rikardo Sembiring, S.Sos: Tiga Dekade Menyalakan Api Jurnalistik, Menembus Dua Zaman

0
14

MEDAN | GeberNews.com — Zaman berubah. Wajah media berganti. Mesin ketik ditinggalkan, koran dan majalah perlahan bergeser, sementara berita kini dapat bergerak dalam hitungan detik melalui layar digital.

Namun, perubahan zaman tidak membuat Dodi Rikardo Sembiring, S.Sos, meninggalkan dunia jurnalistik. Lebih dari tiga dekade berkecimpung di dunia pers, Dodi justru tumbuh bersama perubahan tersebut. Ia melewati masa ketika wartawan harus bergelut dengan mesin ketik dan lembaran koran, memasuki era Reformasi, hingga berada di tengah derasnya perkembangan media digital.

Dari masa Orde Baru, melewati Reformasi, hingga berkembangnya media berbasis internet, Dodi tetap berada di lingkungan jurnalistik. Perjalanan panjang itu membuat sosoknya dikenal sebagai wartawan yang mampu melewati dua zaman tanpa memadamkan api jurnalistik.

Dodi lahir di Medan pada 19 April 1968. Ia merupakan alumni Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIKP), Jurusan Jurnalistik. Pendidikan tersebut menjadi fondasi awal sebelum dirinya terjun lebih jauh ke dunia pers.

Namun, ruang pendidikan bukan satu-satunya tempat yang membentuk dirinya. Pengalaman di lapangan justru menjadi bagian penting dalam membangun karakter dan cara pandangnya sebagai seorang wartawan.

Karier jurnalistik Dodi dimulai ketika media cetak masih menjadi salah satu sumber utama masyarakat memperoleh informasi. Ia pernah menjalani profesi kewartawanan di sejumlah media, antara lain Mingguan Taruna Baru, Mingguan Demi Masa, Harian Umum Perjuangan, Harian Sinar Medan, dan Harian Sore Garuda.

Berpindah dari satu ruang redaksi ke ruang redaksi lainnya membuat Dodi tidak hanya memahami bagaimana sebuah berita ditulis, tetapi juga mengenal dinamika di balik pekerjaan jurnalistik.

Pada masa itu, memperoleh informasi bukan perkara mudah seperti sekarang. Wartawan harus turun ke lapangan, mencari sumber, menggali informasi, melakukan konfirmasi, menulis berita, kemudian menunggu proses hingga berita diterbitkan.

Tidak ada kecepatan seperti era digital. Sebuah berita tidak langsung tersebar hanya dengan sekali klik. Ketelitian, ketekunan dan kemampuan membangun komunikasi menjadi bagian penting dari pekerjaan jurnalistik.

Pengalaman dari era media cetak itulah yang kemudian menjadi bekal ketika perkembangan teknologi mulai mengubah wajah industri pers.

Pada 2008, Dodi memperluas kiprahnya ke era digital dengan mendirikan sekaligus menjadi pemilik dan Pemimpin Redaksi (Pemred) media online SwaraPrananta.com serta TrasSumut.com. Kehadiran kedua media tersebut menjadi bagian dari langkahnya memasuki dunia jurnalistik berbasis internet.

Bagi wartawan yang tumbuh dari tradisi media cetak, perpindahan ke dunia digital bukan sekadar pergantian medium. Cara mencari informasi berubah, cara menulis berita berubah, cara menyajikan informasi berubah, bahkan hubungan antara media dan pembaca pun ikut berubah.

Dodi memilih beradaptasi dengan perubahan tersebut.

Pengalamannya kemudian membawanya dipercaya menjadi Wakil Pemimpin Redaksi (Wapemred) Mingguan Medan Ekspos dan Mingguan Metro Express. Setelah mengundurkan diri dari kedua mingguan tersebut, Dodi Rikardo Sembiring mendirikan Media Online GeberNews.com sekaligus menjabat sebagai Pemred.

Dalam posisi tersebut, Dodi kembali bersentuhan dengan berbagai persoalan aktual sekaligus berinteraksi dengan banyak kalangan.

Perjalanannya tidak hanya berlangsung di ruang redaksi. Aktivitas sosial dan organisasi juga menjadi bagian dari kiprahnya di tengah masyarakat.

Ia pernah tercatat sebagai Wakil Sekretaris Ikatan Pemuda Karya (IPK) Kelurahan Kesawan, Kecamatan Medan Barat, Kota Medan, dan aktif dalam berbagai kegiatan yang berkaitan dengan isu sosial serta kemanusiaan.

Selama bertahun-tahun, Dodi juga membangun jaringan komunikasi dengan berbagai elemen masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, pemuda, aktivis, organisasi hingga komunitas pers. Kemampuan berkomunikasi dan menjembatani berbagai kepentingan menjadi salah satu karakter yang melekat dalam perjalanan tersebut.

Dunia jurnalistik juga membawa Dodi bersentuhan dengan politik dan komunikasi publik. Ia pernah menjalankan peran sebagai Humas TKN Kompas Nusantara. Sebelumnya, ia juga pernah maju sebagai bakal calon Wakil Gubernur Sumatera Utara untuk periode 2003–2008.

Selain itu, Dodi pernah mengikuti proses pencalonan sebagai bakal calon anggota DPRD Kota Medan dan Deli Serdang.

Dalam perkembangan politik berikutnya, Dodi disebut tetap bergabung dengan Partai Garda Republik Indonesia (Garuda).

Di luar politik praktis, aktivitasnya juga berlanjut melalui lembaga swadaya masyarakat. Ia dipercaya sebagai Ketua DPP LSM Gerakan Bersama Rakyat (GEBER) Sumatera Utara.

Berbagai pengalaman tersebut membuat perjalanan Dodi berada di persimpangan antara jurnalistik, organisasi, aktivitas sosial dan komunikasi publik. Namun, dunia jurnalistik tetap menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya.

Perjalanan Dodi juga memiliki kaitan dengan sejarah pemerintahan dan politik Sumatera Utara melalui garis keluarganya. Ia merupakan cucu kandung almarhum Rakoetta Sembiring, tokoh yang pernah memegang sejumlah jabatan penting, di antaranya Bupati Karo pertama, Bupati Asahan, Wali Kota Pematang Siantar, serta anggota Konstituante Republik Indonesia.

Nama besar tersebut menjadi bagian dari latar belakang keluarga Dodi. Namun, perjalanan profesionalnya di dunia jurnalistik tetap dibangun melalui pengalaman panjang yang dijalaninya sendiri.

Dari menjadi wartawan media cetak, mendirikan sekaligus memiliki dan memimpin media online, hingga memimpin ruang redaksi, Dodi terus mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan dunia yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.

Menjadi wartawan selama puluhan tahun berarti menyaksikan perubahan zaman secara langsung. Dodi mengalami masa ketika berita harus dikejar ke lapangan, kemudian memasuki masa ketika internet mulai mengubah cara kerja media, hingga era ketika informasi bergerak begitu cepat melalui platform digital.

Teknologi berubah. Cara kerja media berubah. Pola masyarakat dalam memperoleh informasi juga berubah.

Namun, satu hal tetap bertahan: pilihan Dodi untuk tetap berada di dunia jurnalistik.

Bagi Dodi, pengalaman panjang tersebut menjadi modal untuk memahami bahwa profesi wartawan bukan hanya soal menulis berita. Ada tanggung jawab untuk mencari fakta, mendengar berbagai suara, membangun komunikasi serta menghadirkan informasi yang memiliki arti bagi masyarakat.

Karakter sederhana, tenang dan komunikatif menjadi bagian dari sosok yang dikenal di lingkungan pers dan organisasi.

Kini, perjalanan itu terus berlanjut.

Tetap menulis, tetap berkomunikasi dan tetap berada di tengah dinamika masyarakat.

Sebab bagi seorang wartawan yang telah melewati dua zaman, meninggalkan sebuah jabatan bukan berarti meninggalkan perjuangan. Berhenti dari sebuah kursi bukan berarti memadamkan api jurnalistik.

Api itu tetap menyala.

(Indira)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini