Medan | GeberNews.com — Ketua Umum (Ketum) DPP TKN Kompas Nusantara, Adi Warman Lubis pada Sabtu sore, 16 Agustus 2025 di Kantor Sekretariat DPP TKN Kompas Nusantara, disela-sela Final Perlombaan Domino atau Dam Batu yang diselenggarakan organisasinya, kembali angkat bicara. Ia menyoroti kasus memilukan pasien asuransi Generali atas nama Mengatur Silitonga, yang diduga ditahan pihak RS Columbia Asia Aksara selama dua hari tanpa obat-obatan.
Dalam kurun waktu tiga bulan, Mengatur Silitonga sudah tiga kali dirawat di rumah sakit yang sama. Meski dokter telah memberikan izin pulang, pasien tidak bisa keluar karena harus membayar sisa tagihan. Ironisnya, ia ditahan dua hari tanpa obat-obatan.
Istri Pasien Lemas Tanpa Makan
Adi Lubis menjelaskan, setelah berusaha mencari pinjaman ke sana kemari, istri Mengatur jatuh lemas karena tidak makan seharian. Ia tak tega melihat suaminya terbaring lemah tanpa obat-obatan.
Dengan isak tangis, istri Mengatur kemudian menelepon Adi Lubis untuk menceritakan kejadian tersebut. Merasa iba sekaligus geram atas perlakuan RS Columbia Asia Aksara, Adi Lubis bersama tim turun langsung ke lokasi. Ia masuk ke ruang perawatan, mendengarkan kronologi panjang lebar, lalu mencoba menemui manajemen rumah sakit.
Namun, pertemuan itu justru berujung perdebatan panjang. Pihak rumah sakit tetap bersikeras tidak mengizinkan pasien pulang tanpa pelunasan sisa biaya. Akhirnya, istri pasien kembali berusaha mencari pinjaman dan berhasil mengumpulkan Rp15 juta.
Adi Lubis Menjamin Kekurangan
Melihat kondisi yang memprihatinkan, Adi Lubis akhirnya menjamin kekurangan biaya tersebut agar Mengatur bisa pulang. Meski begitu, pihak rumah sakit tetap menagih sisa pembayaran. Dengan penuh kesulitan, istri Mengatur bersama Adi Lubis akhirnya melunasi kekurangan itu.
Pertanggungan Asuransi Janggal
Setelah kejadian, Adi Lubis meneliti polis asuransi Generali milik Mengatur Silitonga. Pertanggungan asuransi itu mencapai Rp1 miliar per tahun. Namun, baru terpakai kurang dari Rp300 juta, pasien sudah dua kali diminta membayar sendiri.
Adi Lubis menilai hal ini janggal, baik dari pihak RS Columbia Asia Aksara maupun Generali. Surat pertanyaan pun dilayangkan ke pihak terkait, ditembuskan kepada Wali Kota Medan, DPRD Kota Medan, dan Dinas Kesehatan. Namun, semua pihak bungkam tanpa tanggapan.
“Apakah seperti ini pejabat yang seharusnya membela rakyat kecil, tapi malah diam saja?” ujarnya dengan nada kesal.
Laporan ke Polda Sumut
Karena tak kunjung mendapat jawaban, Adi Lubis melaporkan kasus ini ke Polda Sumut (Dumas Kapoldasu). Mengatur Silitonga dan istrinya, meski lemah, tetap datang ke Krimsus Subdit IV untuk memberikan keterangan yang dicatat langsung oleh penyidik.
Namun, setelah dua bulan, belum ada titik terang. Menurut penyidik, pihak RS Columbia Asia Aksara dan Asuransi Generali sudah dua kali dipanggil, tetapi tidak hadir.
“Ini kan aneh, panggilan polisi saja diabaikan, apalagi masyarakat kecil,” tegasnya geram.
Kritik Pedas di Hari Kemerdekaan
Sebagai kontrol sosial, Adi Lubis menyayangkan kondisi ini. Menurutnya, pihak terkait seolah tidak peduli dengan rakyat kecil. Padahal Presiden Prabowo Subianto sudah menegaskan bahwa rakyat tidak boleh ditelantarkan.
“Ternyata ucapan Bapak Presiden tidak berlaku di RS Columbia Asia Aksara. Pasien sudah diizinkan pulang dokter, tapi tetap ditahan dua hari tanpa obat-obatan. Pihak terkait pun tidak mengambil tindakan,” ungkapnya.
Harapan untuk Keadilan
Di Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-80 ini, Adi Lubis berharap pejabat negara benar-benar melindungi rakyat.
“Hukum jangan tajam ke bawah, tumpul ke atas. Kami berharap ada tindakan tegas terhadap RS Columbia Asia Aksara maupun Asuransi Generali. Kami menduga ada sesuatu yang tidak beres di antara keduanya,” ujarnya.
Menurutnya, jika plafon pertanggungan Rp1 miliar per tahun, pasien seharusnya tidak lagi dibebankan biaya tambahan. Fakta baru terpakai Rp100–300 juta tapi sudah diminta bayar adalah hal yang janggal.
Adi Lubis menegaskan pihaknya akan terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Bila tidak ada kejelasan, mereka siap turun ke jalan untuk aksi damai menuntut keadilan.
“Masyarakat butuh perlindungan, bukan dijadikan sapi perahan oleh pihak tertentu. Kami juga meminta Presiden Prabowo memberi perhatian serius pada kasus ini maupun kasus serupa lainnya, agar rakyat kecil tidak terus menjadi korban,” pungkasnya.
🟥 Dodi Rikardò | GeberNews.com
🗣️ Berani Mengungkap Fakta








