Medan 435 Tahun: Bersinar di Atas Kota, Tapi Jangan Lupakan Jejak Guru Patimpus di Tanah!

0
663

Teks Foto: Dodi Rikardo Sembiring, S.Sos saat berziarah ke makam Guru Patimpus Sembiring di Hamparan Perak, Deli Serdang.

Medan | GeberNews.com – Kota Medan akan menapaki usia ke-435 pada 1 Juli 2025. Dari sebuah kampung kecil bernama Kampung Madan, Medan kini menjelma menjadi kota modern yang tak pernah tidur — pusat ekonomi, politik, dan budaya di jantung Sumatera Utara, serta kota ketiga terbesar di Indonesia.

Namun di tengah gemerlap dan geliat pembangunan, sebuah pengingat tajam datang dari Dodi Rikardo Sembiring, S.Sos, Pemimpin Redaksi GeberNews.com dan SuaraPrananta.com. Ia menegaskan bahwa identitas dan kemajuan Kota Medan tak boleh berdiri di atas kelupaan, apalagi pengingkaran terhadap sejarah dan pendirinya: Guru Patimpus Sembiring.

Dalam wawancara khusus pada Sabtu sore, 21 Juni 2025 di Medan, Dodi menyampaikan seruan bernasnya:

“Kota ini tak berdiri dari kehampaan. Di abad ke-16, Guru Patimpus Sembiring — seorang tokoh Karo — membuka Kampung Madan di pertemuan Sungai Deli dan Sungai Babura. Dari situlah Medan berdenyut. Maka jangan biarkan nama besar beliau tenggelam jadi sekadar nama jalan. Semangat dan visinya harus terus menjadi napas kota ini,” tegas Dodi penuh makna.

Ia menggarisbawahi bahwa perayaan ulang tahun kota bukan hanya panggung seremoni dan euforia, tetapi juga ajang perenungan: tentang jati diri, warisan nilai, dan arah masa depan.

“Kalau Medan diibaratkan manusia, usia 435 tahun adalah kematangan sempurna — sarat pengalaman dan sejarah panjang. Kalau perempuan, dia sedang bersolek dalam pesonanya. Tapi apa gunanya bersolek kalau kita lupa cermin tempat kita mengenal wajah sejati? Jangan biarkan kota ini kehilangan arah karena terlalu sibuk membangun ke atas, tapi lupa melihat ke akar,” lanjutnya.

Guru Patimpus Sembiring diyakini oleh para sejarawan sebagai pelopor awal berdirinya Kota Medan, sekitar tahun 1590-an. Dari wilayah pertemuan sungai itulah, pemukiman kecil tumbuh menjadi pusat perdagangan, lalu berkembang menjadi ibu kota provinsi, dan kini menjulang sebagai kota metropolitan.

Namun di tengah semua pencapaian itu, Dodi mengingatkan agar Medan tak kehilangan jiwanya.

“Kota yang besar bukan hanya soal gedung tinggi dan jalan layang, tapi soal bagaimana ia menghargai jejak pendirinya. Sejarah bukan untuk dikubur, tapi untuk ditanam — supaya tumbuh jadi kebanggaan kolektif. Kita harus menjadikan Guru Patimpus sebagai inspirasi, bukan sekadar simbol,” pungkas Dodi.

Selamat Ulang Tahun Kota Medan ke-435!
Teruslah tumbuh, teruslah bersolek, tapi jangan lupa pada tanah pertama tempat langkah sejarahmu dimulai.

(Indira)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini