Operasi Senyap Partai Golkar Sumut, Ijeck Digilas dan Disingkirkan Demi Mengamankan Tahta Kekuasaan Bobby Nasution 2029

0
313

Medan | GeberNews.com – Operasi senyap Partai Golkar Sumatera Utara yang menggusur Musa Rajekshah alias Ijeck dari kursi Ketua DPD Golkar Sumut bukan lagi isu bisik-bisik lorong kekuasaan. Ini adalah potret telanjang bagaimana sebuah partai besar dipaksa tunduk pada agenda kekuasaan dinasti. Apa yang terjadi di tubuh Golkar Sumut hari ini bukan konflik biasa, melainkan eksekusi politik terencana untuk membersihkan lawan sebelum kontestasi 2029 benar-benar dimulai.

Penyingkiran Ijeck menjadi titik terang dari gelapnya demokrasi internal Partai Golkar. Keputusan Dewan Pimpinan Pusat Golkar menunjuk Ahmad Doli Kurnia sebagai Pelaksana Tugas Ketua DPD Golkar Sumut melalui SK Nomor Skep-132/DPP/GOLKAR/XII/2025 justru memicu ledakan kemarahan kader. Struktur partai terguncang, pengurus inti memilih mundur, dan basis akar rumput terbelah tajam.

Sekretaris DPD Golkar Sumut, Ilhamsyah, mengambil sikap tegas dengan angkat kaki sambil membuka borok kekuasaan di internal partai. Ia menyebut pencopotan Ijeck sebagai tindakan brutal, tidak demokratis, dan sarat pemaksaan kehendak elite.

“Ada framing yang disengaja agar Ketua Ijeck disingkirkan dengan segala cara. Ini bukan demokrasi, ini pemaksaan kehendak elite,” tegas Ilhamsyah di Medan, Kamis, 18 Desember 2025.

Pernyataan ini menjadi tamparan keras terhadap narasi resmi DPP Golkar. Fakta berbicara, di bawah kepemimpinan Ijeck, Golkar Sumut justru tumbuh signifikan. Perolehan kursi legislatif meningkat, konsolidasi organisasi berjalan hingga ke tingkat bawah, dan mesin partai bergerak aktif. Namun seluruh prestasi itu mendadak dianggap tak bernilai ketika kepentingan kekuasaan 2029 mulai dimainkan secara terbuka dan tanpa malu.

Gejolak ini tidak berdiri sendiri. Sejumlah pengamat politik dan sumber internal partai menyebut adanya tangan kekuasaan besar yang ikut mengatur arah. Nama mantan Presiden Joko Widodo mencuat dalam pusaran isu, disebut-sebut sebagai bagian dari orkestrasi politik nasional untuk mengamankan masa depan politik menantunya, Bobby Nasution.

Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, dinilai berperan sebagai eksekutor lapangan. Keputusan mendepak Ijeck dibaca sebagai langkah sistematis untuk membersihkan “batu sandungan” politik bagi Bobby Nasution, Gubernur Sumatera Utara petahana, yang disebut sedang dipersiapkan menuju panggung Pilkada 2029.

Ijeck bukan lawan kecil yang bisa disingkirkan begitu saja. Ia telah secara terbuka menyatakan kesiapan maju sebagai calon Gubernur Sumatera Utara 2029. Popularitasnya kuat, jaringan politiknya luas, dan mesin elektoralnya telah teruji. Bagi kekuasaan yang menginginkan jalur mulus tanpa gangguan, Ijeck harus disingkirkan sejak dini.

Retaknya hubungan politik antara Ijeck dan Bobby Nasution semakin menguatkan dugaan bahwa Golkar Sumut harus direbut lebih awal. Dalam politik, siapa menguasai partai, dialah pemegang tiket kekuasaan.

Masuknya Ahmad Doli Kurnia sebagai Plt Ketua DPD Golkar Sumut bukan solusi konflik, melainkan bensin yang disiramkan ke api. Sosok ADK disebut membawa misi pusat, bukan untuk meredam gejolak, melainkan memastikan kendali penuh partai berada di tangan kekuasaan yang sedang dipersiapkan menuju 2029.

Golkar Sumut kini berada di persimpangan berbahaya. Antara tetap menjadi partai kader yang menjunjung demokrasi internal, atau berubah menjadi alat kekuasaan dinasti yang mengorbankan siapa pun yang dianggap mengganggu skenario besar.

Jika operasi senyap ini dibiarkan, Golkar bukan hanya kehilangan figur, tetapi juga kehilangan roh perjuangannya sendiri.

Tim

Tonton berita dan informasi terkini hanya di GeberNews TV YouTube.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini