

Medan | GeberNews.com – RS Columbia Asia Aksara dan Asuransi Generali kembali menjadi sorotan. Seorang pasien bernama Mangatur Silitonga diduga disandera selama dua hari tanpa diberikan obat, hanya karena persoalan administrasi klaim asuransi.
Ketua Umum (Ketum) TKN Kompas Nusantara, Adi Warman Lubis, mengecam keras tindakan tersebut. Ia menyebut kejadian itu sebagai bentuk tindakan yang tidak berperikemanusiaan dalam dunia kesehatan.

“Ini bukan rumah sakit. Rumah sakit seharusnya memberikan perawatan intensif, bukan menahan pasien tanpa obat hanya karena tagihan. Apalagi pasien baru pulih. Perlakuan ini tidak manusiawi, jangan berkedok baju putih kalau begini cara memperlakukan pasien. Sadis, tidak berperikemanusiaan, dan memalukan,” tegas Adi dengan suara lantang, Rabu 20 Agustus 2025.
Istri Mangatur menangis pilu. Ia mengaku sudah menggadaikan barang berharga dan meminjam ke sana-sini demi bisa membawa suaminya pulang. Bahkan ia rela tidak makan seharian karena sibuk mengurus administrasi rumah sakit. “Padahal suami saya pakai asuransi Generali dengan pertanggungan Rp1 miliar per tahun. Tapi tetap saja kami dipaksa bayar agar bisa pulang. Di mana kami harus mencari keadilan?” ungkapnya lirih.
Fakta mengejutkan, polis Generali milik Mangatur memiliki plafon Rp1 miliar per tahun dan baru terpakai sekitar Rp200 juta. Artinya masih ada sisa lebih dari Rp800 juta. “Kalau plafon masih ada ratusan juta, kenapa pasien tetap disuruh bayar? Jelas ada dugaan permainan busuk antara RS Columbia Asia dan Generali,” ujar Adi dengan nada geram.
Adi menambahkan, dirinya sudah melayangkan surat kepada Dinas Kesehatan, DPRD Medan, hingga Wali Kota Medan. Namun semuanya bungkam. Laporan ke Polda Sumut pun seolah tak berpengaruh meski pihak RS Columbia Asia dan Generali sudah dua kali mangkir dari panggilan polisi. “Kalau polisi saja berani mereka abaikan, apalagi rakyat kecil. Ini tamparan keras bagi wajah penegakan hukum di negeri ini,” katanya.
Adi menegaskan, jika aparat dan pejabat terus berdiam diri, rakyat siap turun ke jalan menuntut keadilan. “Kami siap turun. Jangan hukum hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas. RS Columbia Asia Aksara dan Generali harus diperiksa. Kalau tidak, rakyat yang akan mengambil alih panggung keadilan,” tegasnya.
Menutup pernyataannya, Adi mengingatkan pesan Presiden Prabowo Subianto bahwa rakyat kecil tidak boleh ditelantarkan. “Dalam momentum HUT RI ke-80 ini, kami mendesak aparat penegak hukum memberi perhatian khusus. Jangan sampai ada kasus seperti ini terulang. Rumah sakit yang mempermainkan pasien harus diberi sanksi tegas, kalau perlu cabut izinnya agar menjadi efek jera bagi rumah sakit lain,” pungkas Adi.
🟥 Dodi Rikardò | GeberNews.com
🗣️ Berani Mengungkap Fakta








