Medan | GeberNews.com – Polemik masuknya rombongan komunitas lari ke area rumput utama Stadion Teladan Medan tanpa izin resmi kini berkembang menjadi sorotan serius. Di tengah derasnya kritik publik, Aliansi Aktivis Kota (AKTA) menegaskan bahwa pihak yang diduga bertanggung jawab tidak boleh bersembunyi di balik jabatan ataupun birokrasi.
Koordinator Pusat AKTA, Arigusti, secara terbuka mendesak oknum berinisial F yang disebut-sebut memiliki keterkaitan dengan akses masuk rombongan tersebut untuk segera tampil ke hadapan publik dan memberikan penjelasan secara transparan.
“Jangan sampai ada pihak yang bermain di belakang layar lalu membiarkan Wali Kota Medan menanggung seluruh dampak politik dan kemarahan masyarakat. Jika memang ada yang memberikan akses atau izin, maka dia harus bertanggung jawab. Jangan lempar batu sembunyi tangan,” tegas Arigusti, Selasa (2/6/2026).
Menurut AKTA, persoalan ini bukan sekadar soal komunitas lari yang menginjak rumput stadion. Yang lebih penting adalah bagaimana area yang selama ini disebut steril dan dijaga ketat justru bisa dimasuki oleh rombongan tertentu.
“Publik bukan hanya bertanya siapa yang masuk. Publik ingin tahu siapa yang membuka pintu dan atas dasar apa akses itu diberikan. Ini yang harus dijelaskan secara terang-benderang,” ujarnya.
Arigusti menilai upaya menggiring opini agar seluruh kesalahan mengarah kepada Wali Kota Medan merupakan tindakan yang tidak objektif dan berpotensi menyesatkan.
“Jangan jadikan Wali Kota Rico Waas sebagai samsak politik. Kalau ada kesalahan prosedur, cari pelakunya. Kalau ada oknum yang memberi akses, ungkap. Jangan sampai yang bekerja membangun citra dan fasilitas olahraga kota justru menjadi pihak yang paling disalahkan,” katanya.
AKTA juga mengingatkan bahwa Stadion Teladan merupakan aset olahraga kebanggaan masyarakat Medan yang sedang dipersiapkan untuk berbagai agenda penting. Karena itu, setiap aktivitas yang berpotensi merusak fasilitas harus melalui prosedur yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami meminta oknum F segera memberikan klarifikasi kepada masyarakat. Jangan bersembunyi di balik kegaduhan. Publik berhak mengetahui siapa yang bertanggung jawab atas peristiwa ini,” lanjut Arigusti.
Selain meminta pertanggungjawaban pihak terkait, AKTA mendesak Pemerintah Kota Medan melakukan evaluasi total terhadap sistem pengawasan dan pemberian akses di Stadion Teladan agar kejadian serupa tidak terulang di masa mendatang.
“Jangan ada lagi ruang abu-abu dalam pengelolaan fasilitas publik. Stadion Teladan bukan milik kelompok tertentu, melainkan milik seluruh warga Kota Medan. Karena itu, transparansi adalah harga mati,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak yang disebut AKTA sebagai oknum berinisial F terkait polemik tersebut.
(Abd. Halim)







