Ketua DPW IMO Indonesia Sumut HA Nuar Erde Bantah Irwan Wartawan PenaSumut.id, Polemik Keributan Hotel Tiara Berlanjut

0
53

MEDAN | GeberNews.com – Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Media Online (IMO) Indonesia Sumut sekaligus Direktur Utama (Dirut) Media Online PenaSumut.id, HA. Nuar Erde, membantah bahwa Irwan merupakan wartawan PenaSumut.id. Bantahan tersebut disampaikan menyusul munculnya nama Irwan dalam polemik pemberitaan terkait keributan antara Emperi Lince Silitonga dan Puput Oktora di halaman Hotel Tiara Convention Centre, Jalan Cut Mutia, Kelurahan Madras Hulu, Kecamatan Medan Polonia, Selasa (25/8/2026).

“Irwan bukan wartawan kami. Wartawan kalianlah,” tegas HA. Nuar Erde melalui WhatsApp, Rabu (26/8/2026) pagi.

Pernyataan tersebut disampaikan HA. Nuar Erde untuk meluruskan status dan afiliasi Irwan yang sebelumnya disebut dalam rangkaian pemberitaan mengenai perselisihan antara Lince dan Puput.

Menurutnya, identitas dan afiliasi seorang wartawan perlu dijelaskan secara terang agar tidak terjadi kekeliruan dalam mengaitkan suatu pemberitaan dengan perusahaan pers tertentu.

Nama Irwan Disebut dalam Polemik

Nama Irwan muncul setelah Puput Oktora menyebut dirinya pernah dikonfirmasi seorang wartawan bernama Irwan terkait peristiwa keributan di Hotel Tiara Convention Centre.

Puput mengatakan dirinya telah memberikan keterangan dan klarifikasi mengenai kejadian tersebut. Namun, menurut Puput, keterangan yang disampaikannya tidak dimuat dalam pemberitaan yang kemudian dikaitkan dengan media online PenaSumut.id.

“Di lokasi TKP tersebut, wartawan bernama Irwan dari media online Penasumut.id tidak berada di tempat dan hanya menerima laporan sepihak terkait peristiwa tersebut,” ungkap Puput.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi bagian dari polemik setelah HA. Nuar Erde memberikan klarifikasi bahwa Irwan bukan wartawan PenaSumut.id.

“Irwan bukan wartawan kami. Wartawan kalianlah,” kembali ditegaskan HA. Nuar Erde.

Dengan adanya bantahan tersebut, aktivitas jurnalistik Irwan tidak dapat secara otomatis dikaitkan dengan PenaSumut.id tanpa adanya hubungan kerja atau afiliasi yang dapat dikonfirmasi.

Perselisihan Bermula dari Grup WhatsApp

Sementara itu, persoalan yang disebut menjadi latar belakang keributan antara Lince dan Puput bermula dari perbedaan pandangan terkait sebuah grup WhatsApp wartawan.

Grup tersebut disebut dibentuk secara mandiri oleh sejumlah jurnalis yang biasa melakukan peliputan di wilayah hukum Polres Binjai. Grup digunakan sebagai sarana komunikasi sekaligus distribusi rilis kegiatan kepolisian kepada wartawan yang tergabung.

Rilis yang diterima anggota kemudian dapat diolah dan dipublikasikan melalui media masing-masing sesuai kebijakan redaksi.

Salah seorang wartawan yang terlibat dalam pembentukan grup, Syafii, mengatakan grup tersebut pada awalnya berjalan sebagai sarana komunikasi dan distribusi informasi.

Menurut Syafii, Emperi Lince Silitonga sebelumnya meminta untuk dimasukkan ke dalam grup. Setelah jumlah anggota bertambah hingga sekitar 10 orang, grup tersebut mulai digunakan untuk menerima dan meneruskan sejumlah rilis kegiatan kepolisian.

Persoalan Distribusi Rilis

Persoalan kemudian muncul setelah salah satu rilis dibagikan dalam grup. Sejumlah anggota disebut telah meneruskan informasi tersebut menjadi pemberitaan di media masing-masing.

Menurut keterangan Puput, setelah sekitar dua hari berita yang diharapkan belum dipublikasikan oleh Lince. Puput kemudian mengingatkan Lince melalui pesan WhatsApp agar rilis yang telah diterima segera ditindaklanjuti.

Setelah disebut tidak mendapatkan tanggapan, nama Lince kemudian dikeluarkan dari grup oleh admin.

Puput mengatakan persoalan tersebut disampaikan dalam konteks pengelolaan grup dan distribusi rilis, bukan untuk menimbulkan persoalan pribadi.

Pengeluaran dari grup tersebut kemudian menjadi sumber keberatan dari Lince.

Syafii mengatakan persoalan tersebut kembali dibicarakan melalui komunikasi telepon WhatsApp pada Minggu (23/8/2026). Dalam komunikasi itu, Lince disebut mempertanyakan alasan dirinya dikeluarkan dari grup.

Menurut Syafii, Lince menyampaikan bahwa dirinya belum mempublikasikan rilis karena sedang menghadapi persoalan pribadi.

Namun, detail percakapan tersebut merupakan keterangan dari pihak yang terlibat dan belum dapat diverifikasi secara independen oleh redaksi.

Keributan Berlanjut di Halaman Hotel

Persoalan tersebut kembali muncul ketika Lince bertemu dengan Syafii dan Puput di halaman Hotel Tiara Convention Centre pada Selasa (25/8/2026).

Sejumlah pihak yang mengaku berada di sekitar lokasi menyebut terjadi adu argumen antara Lince dan Puput. Perdebatan tersebut disebut kembali menyinggung persoalan dikeluarkannya Lince dari grup WhatsApp wartawan.

Situasi kemudian berlangsung emosional.

Berdasarkan keterangan Syafii dan sejumlah saksi yang ditemui di lokasi, Lince disebut sempat mengarahkan sebuah buku nikah ke bagian wajah Puput. Puput kemudian disebut berusaha menepis tangan Lince.

Dalam situasi tersebut, Lince kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke belakang. Kondisi halaman hotel yang menurun disebut menjadi salah satu faktor yang menyebabkan Lince kehilangan keseimbangan hingga bagian pelipisnya membentur tiang besi pembatas di sekitar lokasi.

Lince kemudian mengalami luka pada bagian pelipis dan mengeluarkan darah.

Namun, mengenai rangkaian kejadian secara utuh, termasuk apakah terjadi tindakan mendorong atau tidak, masing-masing pihak memiliki keterangan yang berbeda.

Saksi Bantah Ada Dorongan

Wiriya Prasetya, warga kawasan Pancing yang mengaku berada di lokasi, mengatakan dirinya tidak melihat Puput mendorong Lince.

“Setahu saya tidak ada yang mendorong. Buku nikah itu diarahkan ke wajah Puput, kemudian ditepis. Setelah itu Lince terkejut, mundur dan kehilangan keseimbangan karena posisi jalan menurun hingga terjatuh dan pelipisnya membentur tiang besi pembatas,” ujar Wiriya.

Keterangan serupa disampaikan Ali, pedagang minuman dan rokok asal Tembung yang berjualan di sekitar halaman Hotel Tiara Convention Centre.

“Dia itu ribut kali, Bang. Bising kali. Mana ada Kak Puput mendorong? Setahu saya, dia jatuh terpeleset sendiri sampai membentur tiang besi bagian bawah itu,” kata Ali.

Keterangan kedua saksi tersebut merupakan versi mereka mengenai peristiwa di lokasi dan masih perlu diuji melalui pemeriksaan resmi apabila persoalan tersebut dilaporkan kepada aparat penegak hukum.

Puput Bantah Penganiayaan

Puput Oktora membantah tuduhan bahwa dirinya mendorong atau melakukan penganiayaan terhadap Lince.

Ia menilai pemberitaan sebelumnya yang mengaitkan dirinya dengan dugaan penganiayaan telah merugikan nama baiknya.

“Pemberitaan yang menyebut saya diduga melakukan penganiayaan terhadap Emperi Lince Silitonga menurut saya tidak benar dan telah merugikan nama baik saya. Saya merasa telah difitnah karena pemberitaan tersebut,” ujar Puput.

Puput mengatakan dirinya mempertimbangkan langkah hukum apabila terdapat pihak yang dinilai menyampaikan atau memberitakan informasi yang tidak sesuai fakta.

“Saya akan mempertimbangkan untuk melaporkan kembali pihak-pihak yang saya nilai telah merugikan nama baik saya. Ini sudah fitnah,” tegasnya.

Ia juga meminta agar pemberitaan mengenai persoalan tersebut dilakukan secara berimbang dengan memberikan ruang kepada seluruh pihak untuk menyampaikan klarifikasi.

Fakta Hukum Menunggu Proses Resmi

Terkait dugaan adanya tindakan mendorong maupun tindakan lain yang menyebabkan Lince terjatuh, keterangan yang diperoleh redaksi sejauh ini berasal dari pihak-pihak yang berada di lokasi kejadian.

Para saksi yang ditemui memberikan keterangan bahwa mereka tidak melihat Puput mendorong Lince. Namun, keterangan saksi tetap merupakan bahan informasi dan tidak menggantikan proses penyelidikan maupun penyidikan aparat penegak hukum.

Apabila laporan resmi dibuat, kepolisian berwenang memeriksa pihak-pihak terkait, meminta keterangan saksi, serta menilai bukti lain yang tersedia, termasuk kemungkinan rekaman CCTV di sekitar lokasi.

Dengan demikian, fakta mengenai apakah terdapat tindakan pendorongan, kontak fisik, atau tindakan lain yang menyebabkan Lince terjatuh harus ditentukan berdasarkan hasil pemeriksaan dan alat bukti yang sah.

Keberimbangan Pemberitaan

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa perselisihan antarsesama wartawan maupun persoalan internal organisasi atau grup komunikasi tidak seharusnya berkembang menjadi pemberitaan yang menghakimi.

Dalam menjalankan tugas jurnalistik, akurasi, verifikasi, keberimbangan, dan hak jawab menjadi bagian penting, terutama ketika pemberitaan menyangkut nama baik seseorang.

Dalam konteks polemik ini, status Irwan sebagai wartawan PenaSumut.id telah mendapatkan bantahan langsung dari HA. Nuar Erde.

“Irwan bukan wartawan kami. Wartawan kalianlah,” ujar HA. Nuar Erde melalui WhatsApp, Rabu (26/8/2026) pagi.

Pernyataan tersebut penting dicatat agar tidak terjadi kekeliruan dalam mengaitkan aktivitas jurnalistik Irwan dengan PenaSumut.id.

Sementara terkait dugaan penganiayaan atau pendorongan, redaksi tidak menempatkan salah satu versi sebagai kesimpulan akhir. Jika laporan resmi dibuat, proses hukum menjadi mekanisme untuk menguji seluruh keterangan dan bukti yang ada.

(Redaksi GeberNews.com)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini