Aksi Nyata di Bulan Suci, GPIE–Boby Lovers Tegaskan Gerakan Sosial Berkelanjutan

0
92

Medan | Gerakan Pemuda Indonesia Emas (GPIE) bersama Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Boby Lovers tak sekadar berbicara soal kepedulian, mereka bergerak. Sabtu (28/2/2026), dua organisasi ini menggelar buka puasa bersama anak yatim dan tokoh agama di La Nazwa Cafe Jalan Ampera, Kelurahan Glugur Darat I, Kecamatan Medan Timur, tepat di depan Indomaret UMSU.

Mengusung tema “GPIE Berbuka Puasa Bersama Anak Yatim beserta Yayasan GBIE dan Temu Ramah Bapak Penasehat”, kegiatan ini menjadi penegasan sikap: Ramadhan bukan panggung seremonial, melainkan ruang aksi nyata. Sejak pukul 16.00 WIB, suasana dipenuhi kehangatan, namun pesan yang dibawa tegas, kepemudaan harus hadir dengan kontribusi konkret.

Kolaborasi dengan Yayasan Sekolah Bola Boby Lovers Gerakan Bola Indonesia Emas (GBIE) memperlihatkan arah gerakan yang jelas.

Pembinaan generasi muda tidak berhenti pada pembentukan fisik dan prestasi olahraga, tetapi diperkuat dengan nilai spiritual dan kepedulian sosial. Ini bukan agenda musiman, melainkan fondasi pembentukan karakter.

Ketua Umum Boby Lovers, Aspiadi Nasution, dan Ketua Umum GPIE, Budi Anthony Sinaga, hadir langsung sebagai pembicara. Keduanya menekankan bahwa gerakan sosial harus berkelanjutan dan terukur.

“Kita tidak ingin hanya ramai di bulan Ramadhan. Kepedulian harus menjadi budaya,” tegas salah satu ketua di hadapan peserta.

Momentum berbuka puasa diperkuat dengan penyerahan Al-Qur’an kepada anak-anak yatim sebagai simbol dukungan terhadap pendidikan agama. Al-Qur’an juga diserahkan kepada tokoh agama sebagai wujud sinergi antara organisasi kepemudaan dan elemen keagamaan dalam membangun karakter bangsa yang kokoh.

Dialog bersama penasehat dan tokoh agama berlangsung terbuka dan reflektif. Di tengah tantangan sosial yang semakin kompleks, GPIE dan DPP Boby Lovers menegaskan posisi: pemuda tidak boleh menjadi penonton. Mereka harus berdiri di garda depan, menggerakkan, menyatukan, dan memberi solusi.

Ramadhan menjadi panggilan moral. Kepedulian bukan slogan. Kebersamaan bukan formalitas. Dari Medan Timur, pesan itu ditegaskan lantang, Indonesia emas hanya bisa dibangun dengan aksi nyata, bukan sekadar wacana.

(Adel)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini