MEDAN | GeberNews.com – Perumda Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara membuka akses edukasi kepada masyarakat dengan menerima kunjungan Majelis Taklim dan Dzikir (MTZ) Al Haura Sumut di Instalasi Pengolahan Air (IPA) Sunggal, Jalan Sunggal, Kota Medan, Rabu (22/7/2026). Kunjungan ini menjadi kesempatan bagi para peserta untuk melihat langsung proses pengolahan air baku hingga menjadi air bersih sekaligus memahami penyebab air keruh maupun gangguan distribusi yang kerap terjadi di lapangan.
Rombongan disambut oleh Kepala Sekretaris Perusahaan (Sekper) Perumda Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara, Nurlin, bersama Kepala Cabang Instalasi Pengolahan Air Sunggal dan jajaran staf.
Pada kesempatan tersebut, para jemaah memperoleh penjelasan secara rinci mengenai tahapan pengolahan air, mulai dari proses koagulasi, flokulasi, sedimentasi, filtrasi hingga desinfeksi sebelum air didistribusikan kepada pelanggan. Mereka juga diberikan pemahaman mengenai faktor-faktor yang menyebabkan air terkadang keruh, berwarna, atau mengalami gangguan aliran, terutama saat debit sungai meningkat dan curah hujan tinggi.
“Fasilitas IPA Sunggal merupakan salah satu instalasi vital yang terus dikembangkan oleh Perumda Tirtanadi untuk memaksimalkan pelayanan kepada pelanggan,” ujar Nurlin.
Ia menjelaskan, kebutuhan air bersih dipenuhi melalui pengolahan air baku yang berasal dari sungai dengan teknologi dan tahapan yang memenuhi standar pengolahan air minum.
Tahap pertama adalah proses koagulasi, flokulasi, dan sedimentasi menggunakan sistem clarifier settler atau lamella. Pada proses ini, air baku diberi bahan kimia koagulan untuk menggumpalkan partikel-partikel halus yang terkandung di dalam air.
“Jenis bahan koagulan yang digunakan antara lain Aluminium Sulfat (tawas), Aluminium Klorohidrat, dan Poly Aluminium Chloride (PAC). Di IPA Sunggal, kami menggunakan PAC,” jelasnya.
Koagulan kemudian dicampurkan ke dalam air baku melalui proses pengadukan cepat agar partikel membentuk flok, kemudian dilanjutkan pengadukan lambat agar gumpalan dapat mengendap secara optimal.
Tahap berikutnya adalah filtrasi menggunakan media pasir, koral, batu zeolit, dan karbon aktif untuk menyaring sisa partikel, bakteri, serta kandungan logam. Media penyaring tersebut secara berkala dibersihkan melalui proses backwash agar tetap berfungsi maksimal.
Tahap terakhir adalah desinfeksi dengan penambahan klorin sesuai ambang batas yang ditetapkan pemerintah guna membunuh bakteri patogen sebelum air didistribusikan kepada pelanggan.
Nurlin berharap kunjungan tersebut dapat meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap proses penyediaan air bersih sekaligus menjadi jembatan informasi kepada pelanggan.
“Saya berharap kunjungan ini dapat menjawab rasa ingin tahu masyarakat tentang bagaimana air diproduksi hingga sampai ke rumah pelanggan. Kami juga memohon maaf apabila dalam pelayanan masih terdapat kekurangan, baik terkait kualitas air maupun gangguan distribusi. Semoga informasi yang kami sampaikan dapat diteruskan kepada masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua MTZ Al Haura Sumut, Ernawati Sitepu, didampingi Sekretaris Yulinda Rahimah, mengapresiasi sambutan yang diberikan Perumda Tirtanadi.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada Perumda Tirtanadi Sumut beserta seluruh jajaran yang telah menerima kunjungan kami. Kini kami lebih memahami proses pengolahan air hingga sampai ke rumah pelanggan, termasuk penyebab air keruh maupun gangguan distribusi. Semoga silaturahmi ini terus terjalin,” tuturnya.
(Adel)







