

Batang Kuis | GeberNews.com – Dicari suami sejak sore, ternyata bukan hilang atau tersesat, melainkan sedang konser dadakan di sebuah warung kopi (Warkop). Begitulah suasana tak terduga yang terjadi pada Minggu sore, 21 Desember 2025, di salah satu warkop di Desa Tanjung Sari, Kecamatan Batang Kuis, Kabupaten Deli Serdang. Warkop yang awalnya damai dan bersahabat dengan lidah pecinta kopi itu mendadak naik status menjadi panggung hiburan tanpa tiket, tanpa jadwal, dan tanpa persetujuan penonton.
Sore itu, suasana sebenarnya berjalan normal. Asap kopi mengepul dengan anggun, gelas-gelas beradu pelan, dan obrolan komunitas mengalir santai. Sebuah pertemuan komunitas digelar, dihadiri laki-laki dan perempuan. Ada yang datang bersama pasangan sah, ada pula yang datang sendirian dengan wajah santai seolah bebas dari kewajiban domestik.
Sekitar pukul 16.00 WIB, pertemuan dinyatakan selesai. Peserta satu per satu pamit pulang. Kursi mulai kosong, meja kembali lega, dan warkop perlahan kembali ke kodratnya sebagai tempat menyeruput kopi, bukan tempat menguras kesabaran. Kami pun mengira semuanya sudah berakhir. Ternyata, justru di situlah cerita utama dimulai.
Warkop belum benar-benar sepi. Masih tertinggal tiga perempuan bertubuh subur yang seolah mendapat bisikan gaib dari angin sore. Tanpa aba-aba, tanpa briefing, tanpa gladi bersih, ketiganya naik ke panggung kecil warkop yang memang tersedia lengkap dengan alat musik.
Awalnya kami mengira mereka hanya ingin mengetes sound system atau sekadar bercanda sebentar. Dugaan itu runtuh seketika. Mereka mulai bernyanyi. Bukan sekadar bernyanyi, tapi bernyanyi dengan penuh penghayatan dan rasa percaya diri yang sulit dijelaskan logika.
“Aduh, D… ini mic-nya rusak atau telinga kita yang sudah uzur?” bisikku pelan.
Kawanku berinisial I hanya memijat pelipis sambil menghela napas berat. “Bukan mic, D. Ini ujian hidup yang datangnya tiba-tiba,” jawabnya lirih.
Lagu demi lagu mengalun, namun bukan versi asli. Liriknya dipelintir ke sana kemari. Ada lagu yang berubah menjadi curhatan soal burung yang satu punya dan yang satu tidak punya. Ada pula sindiran tentang rumput tetangga yang lebih segar, sementara rumput sendiri sudah layu, entah karena kurang disiram atau terlalu sering diinjak realita.
“Aku pusing, D. Ini bukan efek kopi, tapi efek nada,” keluh I sambil mengusap dada.
“Tenang, mungkin satu lagu lagi selesai,” jawabku, meski hatiku sendiri ragu.
Harapan itu kandas. Kepercayaan diri tiga diva dadakan ini tak tergoyahkan. Meski tak ada tepuk tangan, meski wajah penonton mulai kosong, bahkan ada yang pura-pura sibuk menatap ponsel tanpa notifikasi, mereka tetap bernyanyi. Semangat. Totalitas. Tanpa rasa bersalah.
“Kita ini penonton atau korban, D?” tanya I pasrah.
“Korban nada dan lirik, kawan,” jawabku singkat.
Sebagian pengunjung akhirnya memilih menyelamatkan diri lebih dulu. Yang bertahan hanya kami yang mungkin terlalu penasaran atau sudah menyerah pada takdir Minggu sore. Namun drama rupanya belum mencapai klimaks.
Tiga perempuan tersebut ternyata sedang dicari-cari. Suami mereka masing-masing sudah berkeliling ke sana ke mari, mendatangi rumah teman, menelepon berkali-kali, bahkan hampir membuat kesimpulan bahwa istri sedang “menghilang tanpa jejak”. Hingga akhirnya, petunjuk datang dari anggota komunitas yang sudah pulang lebih dulu.
“Istrimu masih di warkop. Lagi nyanyi,” ujar anggota komunitas itu singkat, jelas, dan menghancurkan prasangka.
Tak lama kemudian, satu per satu suami datang ke warkop. Wajah lelah, langkah berat, dan tatapan pasrah menghiasi adegan penutup. Ada suami yang langsung bersuara keras, mungkin karena capek mencari sambil menahan malu. Ada pula yang memilih diam seribu bahasa, tatapannya kosong seolah paham bahwa diam adalah jurus paling aman untuk bertahan hidup. Ada juga yang hanya tersenyum kecut, mungkin sudah hafal bahwa perdebatan hanya akan memperpanjang konser lanjutan di rumah.
I menepuk pundakku pelan. “D, sekarang aku mengerti. Hari ini bukan cuma kita yang diuji. Para suami itu pahlawan sejati.”
Aku mengangguk. “Betul, kawan. Dan warkop ini resmi tercatat dalam sejarah. Dari tempat ngopi, naik level jadi panggung hiburan dadakan penuh kejutan.”
Akhirnya, setelah para diva sore itu digiring pulang oleh suami masing-masing, warkop kembali sunyi. Tinggal sisa gelas, sisa tawa pahit, dan cerita yang akan terus diingat. Kopi kembali terasa normal, telinga perlahan pulih. Namun satu hal pasti, setiap kali melihat mic di warkop itu, kepala kami refleks terasa sedikit pening, seolah trauma kecil yang tak perlu disembuhkan.
Tim








