Hasto Kristiyanto di Samosir: Indonesia Rumah Bersama, Jangan Biarkan Perbedaan Memecah Persaudaraan

0
17

SAMOSIR — Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh elemen masyarakat Kabupaten Samosir untuk terus merawat Indonesia sebagai rumah bersama.

Pesan tersebut disampaikan Hasto saat menghadiri Silaturahmi Kebangsaan bersama Tokoh Agama dan Tokoh Masyarakat Samosir di Hotel Grand Dainang, Kabupaten Samosir, Sabtu (15/8/2026).

Dalam kegiatan itu, Hasto menekankan pentingnya membumikan nilai-nilai agama, Pancasila, kemanusiaan, persatuan, dan keadilan dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari rangkaian kunjungan Hasto bersama Ketua DPP PDI Perjuangan Djarot Saiful Hidayat dan rombongan ke Kabupaten Samosir. Sebelum menghadiri silaturahmi kebangsaan, rombongan mengikuti peletakan batu pertama pembangunan Kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Samosir.

Pertemuan kemudian dilanjutkan dengan dialog bersama tokoh agama dan tokoh masyarakat dari berbagai unsur. Suasana kekeluargaan mewarnai pertemuan yang membahas keberagaman, kehidupan kebangsaan, kemanusiaan, serta masa depan Samosir dan kawasan Danau Toba.

Ketua DPD PDI Perjuangan Sumatera Utara Rapidin Simbolon mengatakan, pertemuan tersebut menjadi ruang penting untuk mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam semangat kebangsaan.

Menurut Rapidin, keberagaman peserta mencerminkan kehidupan masyarakat Samosir yang terdiri atas berbagai latar belakang agama, profesi, komunitas, dan kelompok sosial.

“Di sini berkumpul yang disebut dengan kebangsaan. Dari berbagai unsur masyarakat, ada yang GBKP, HKBP, Karismatik, Pentakosta, Katolik, ada peternak, ada petani, semua lengkap,” ujar Rapidin.

Ia menegaskan, perbedaan tidak boleh menjadi penghalang dalam membangun daerah dan menjaga persatuan.

“Kita boleh berbeda pilihan, tetapi jangan sampai perbedaan membuat kita kehilangan persaudaraan,” katanya.

Hasto: Agama Harus Membumi

Dalam kesempatan tersebut, Hasto mengajak tokoh agama melihat kehidupan beragama bukan hanya sebagai persoalan ritual, tetapi juga sebagai sumber nilai yang diwujudkan melalui tindakan nyata.

Menurut Hasto, spiritualitas harus melahirkan kepedulian kepada sesama, karya yang bermanfaat, serta keberanian memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan.

“Doa itu penting sebagai spiritualitas bagi kita, tapi doa harus membumi, doa harus menjadi amal kemanusiaan, doa harus menciptakan karya,” ujar Hasto.

Ia mengatakan, nilai-nilai agama memiliki posisi strategis dalam membangun kehidupan sosial yang lebih berkeadilan. Karena itu, pesan moral agama harus mampu menjawab persoalan konkret yang dihadapi masyarakat.

Hasto juga mengajak tokoh agama dan tokoh masyarakat menjadi teladan dalam membangun kehidupan yang damai. Perbedaan agama, suku, maupun latar belakang, menurutnya, tidak boleh menjadi alasan untuk saling bermusuhan.

Pengalaman Spiritual dan Dialog Antaragama

Dalam pertemuan tersebut, Hasto turut membagikan pengalaman spiritual yang dijalaninya selama berada di dalam penjara. Ia mengisahkan pengalamannya membaca berbagai kisah para nabi dan kitab suci serta melakukan refleksi terhadap ajaran berbagai tradisi agama.

Menurut Hasto, pengalaman tersebut membuka ruang dialog dengan banyak tokoh agama sekaligus memperlihatkan adanya nilai-nilai universal yang dapat menjadi jembatan antarumat beragama.

“Kita tidak cari perbedaan pemisah kita, tetapi nilai-nilai universal yang mempertemukan kita. Di dalam setiap ajaran agama ada nilai kemanusiaan, kasih sayang, pengampunan dan perjuangan membela kebenaran,” ujarnya.

Ia menilai dialog antaragama perlu terus dikembangkan sebagai bagian dari upaya merawat persatuan Indonesia.

Indonesia Dibangun untuk Semua

Hasto mengingatkan bahwa Indonesia memiliki sejarah panjang dalam mengelola keberagaman. Menurutnya, Pancasila menjadi titik temu yang menaungi seluruh warga negara.

“Indonesia ini dibangun untuk semua, bukan untuk satu kelompok tertentu,” tegas Hasto.

Ia menekankan bahwa prinsip Indonesia sebagai rumah bersama harus dijaga melalui dialog, keteladanan, dan penghormatan terhadap hak setiap warga negara.

Hasto juga menyampaikan bahwa perjuangan menjaga kebebasan beragama bukan perjuangan untuk satu agama tertentu, melainkan tanggung jawab bersama untuk memastikan hak setiap warga negara yang dijamin konstitusi tetap terlindungi.

Agama Harus Menjawab Persoalan Rakyat

Hasto selanjutnya mengajak tokoh agama menghubungkan pesan moral agama dengan persoalan nyata masyarakat, seperti kemiskinan, ketimpangan, kerusakan lingkungan, dan ketidakadilan.

“Nilai agama dan kebangsaan harus hadir dalam kehidupan sehari-hari. Kita harus mempunyai keberpihakan kepada mereka yang miskin, terpinggirkan dan diperlakukan tidak adil,” ujarnya.

Menurut Hasto, keberagamaan yang kuat harus berjalan seiring dengan kepedulian sosial.

“Ukuran keberhasilan kita bukan hanya seberapa sering kita berbicara tentang kebaikan, tetapi seberapa besar kebaikan itu benar-benar dirasakan masyarakat,” tambahnya.

Hasto Soroti Masa Depan Danau Toba

Dari persoalan kebangsaan, Hasto kemudian menyoroti masa depan Danau Toba. Ia menyebut Danau Toba sebagai mahakarya alam dan anugerah yang harus dijaga bersama.

Hasto mengajak masyarakat Samosir membayangkan kondisi daerah tersebut hingga 100 tahun mendatang.

“Ke depan mari kita beri imajinasi 100 tahun ke depan Samosir ini bagaimana. Ini harus ada tata ruang. Mana tempat-tempat pertanian yang harus kita lindungi, tempat untuk wisata yang harus kita jaga kelestariannya, sungai-sungai sebagai jalan peradaban, hutan-hutan yang hijau sebagai sumber oksigen kehidupan, semuanya harus kita jaga,” katanya.

Menurutnya, pembangunan harus berjalan seimbang dengan pelestarian lingkungan. Kawasan pertanian, hutan, sungai, permukiman, hingga sektor pariwisata harus ditata secara berkelanjutan.

“Kalau kita berpikir hanya untuk lima atau sepuluh tahun, maka yang kita bangun bisa saja justru menjadi beban bagi generasi berikutnya. Tetapi kalau kita berpikir seratus tahun ke depan, kita akan lebih berhati-hati dalam mengambil setiap keputusan,” ujar Hasto.

Pariwisata Harus Tingkatkan Kesejahteraan Warga

Hasto juga menekankan agar pengembangan pariwisata Danau Toba memberikan manfaat nyata bagi masyarakat lokal.

Menurutnya, warga Samosir tidak boleh hanya menjadi penonton perkembangan pariwisata, tetapi harus menjadi pelaku utama yang memperoleh manfaat ekonomi.

Peningkatan pendidikan, keterampilan, kemampuan bahasa asing, serta pemahaman terhadap potensi budaya dan alam daerah dinilai penting untuk memperkuat posisi masyarakat lokal.

“Pariwisata harus memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Jangan sampai wisatawan datang, tetapi masyarakat lokal hanya melihat dari pinggir. Masyarakat harus menjadi pelaku utama, sehingga pertumbuhan pariwisata benar-benar meningkatkan kesejahteraan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kekayaan budaya Samosir merupakan bagian penting dari daya tarik kawasan Danau Toba yang harus dijaga.

Dari Samosir untuk Indonesia

Menutup Silaturahmi Kebangsaan, Hasto mengajak seluruh tokoh agama dan tokoh masyarakat Samosir terus memberikan energi positif bagi bangsa dan negara.

Ia mengingatkan agar perbedaan pilihan politik, agama, suku, maupun latar belakang tidak menjadi alasan untuk saling menjauh.

Menurut Hasto, persatuan harus ditempatkan di atas kepentingan kelompok.

“Samosir memiliki modal sosial besar karena warganya hidup dalam keberagaman. Modal sosial ini harus kita rawat agar menjadi kekuatan untuk membangun masa depan,” ujarnya.

Hasto berharap semangat kebangsaan yang dibangun dari Samosir dapat terus bergulir di tengah masyarakat.

“Dari Samosir ini mari kita gelorakan semangat untuk memuliakan kemanusiaan dalam kehidupan sehari-hari, memperjuangkan keadilan dan juga kebenaran dengan berpihak kepada yang miskin, yang terpinggirkan, dan yang diperlakukan tidak adil,” pungkas Hasto.

(Dodi Rikardo Sembiring)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini