

Medan | GeberNews.com — Ketua Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Ikatan Media Online (IMO) Indonesia Sumatera Utara (Sumut), H. A. Nuar Erde, menyampaikan ucapan selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah kepada seluruh umat Islam yang merayakan pada Sabtu, 21 Maret 2026.
Dalam keterangannya, ia menekankan bahwa Idul Fitri tidak boleh dimaknai sekadar sebagai perayaan seremonial tahunan, melainkan sebagai momentum strategis untuk melakukan pemulihan moral dan memperkuat kembali nilai kejujuran di tengah kehidupan bermasyarakat, khususnya di Sumut.
Pernyataan tersebut disampaikan H. A. Nuar Erde saat dimintai tanggapan pada Jumat, 20 Maret 2026, di Kantor Sekretariat DPW IMO Indonesia Sumut, Jalan Pemuda, Medan. Dalam suasana menjelang Lebaran, ia menyoroti pentingnya menjadikan hari kemenangan sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas diri, baik dalam aspek spiritual, sosial, maupun profesional.
Menurut H. A. Nuar Erde, yang juga dikenal sebagai Pemikir Media Online Penasumut.id, makna Idul Fitri sejatinya adalah kemenangan sejati manusia dalam menundukkan ego, hawa nafsu, serta kecenderungan untuk mengabaikan kebenaran. Ia menilai, di tengah derasnya arus informasi saat ini, tantangan terbesar bangsa bukan hanya persoalan ekonomi dan politik, tetapi juga krisis kepercayaan yang dipicu oleh maraknya disinformasi, manipulasi fakta, serta menurunnya etika dalam ruang publik.
“Idul Fitri harus menjadi titik refleksi kolektif. Kita tidak hanya membersihkan diri secara spiritual, tetapi juga memperbaiki cara berpikir dan cara berkomunikasi. Terutama di ruang digital, di mana satu informasi yang keliru bisa berdampak luas dan merusak kepercayaan publik,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kebiasaan menyebarkan informasi tanpa verifikasi harus dihentikan.
Menurutnya, setiap individu, terlebih insan media, memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga kebenaran dan akurasi informasi. Dalam konteks ini, ia mengingatkan bahwa kebebasan pers bukanlah kebebasan tanpa batas, melainkan kebebasan yang harus disertai integritas dan tanggung jawab sosial.
Lebih lanjut, H. A. Nuar Erde menekankan bahwa media online memiliki peran strategis dalam membentuk opini publik sekaligus menjaga arah demokrasi. Oleh karena itu, ia mendorong seluruh pelaku media untuk kembali pada prinsip dasar jurnalistik yang menjunjung tinggi kebenaran, keberimbangan, dan etika.
“Media adalah pilar penting dalam kehidupan demokrasi. Ia bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi juga membentuk kesadaran publik. Jika media kehilangan integritas, maka yang terjadi adalah kebingungan kolektif di tengah masyarakat. Di sinilah Idul Fitri menjadi momentum untuk kembali ke nilai-nilai kejujuran dan tanggung jawab,” tegasnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa di Sumut mulai dari pemerintah, tokoh agama, akademisi, hingga generasi muda, untuk menjadikan Idul Fitri sebagai awal dari rekonstruksi kepercayaan sosial yang selama ini mengalami degradasi.
Menurutnya, semangat saling memaafkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar simbolik.
“Ucapan ‘mohon maaf lahir dan batin’ harus dimaknai sebagai komitmen untuk berubah. Tidak mengulangi kesalahan yang sama, tidak menyebarkan kebencian, dan tidak memelihara informasi yang menyesatkan. Dari situlah kepercayaan akan tumbuh kembali,” tambahnya.
Dalam penutupnya, H. A. Nuar Erde berharap Idul Fitri 1447 Hijriah dapat menjadi momentum kebangkitan moral bangsa, khususnya di Sumatera Utara, dalam membangun budaya komunikasi yang sehat, transparan, dan berintegritas di tengah era digital yang terus berkembang.
“Selamat Hari Raya Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah. Minal aidin wal faizin, mohon maaf lahir dan batin. Semoga kita semua kembali kepada fitrah, tidak hanya dalam ibadah, tetapi juga dalam sikap, kejujuran, serta tanggung jawab sebagai bagian dari masyarakat dan bangsa,” pungkasnya.
(Kardo)








