Literasi Blockchain Jadi Sorotan di STIKP Medan, Pembicara Ingatkan Masyarakat Jangan Asal Investasi Kripto

0
16

Medan | GeberNews.com – Pemahaman terhadap teknologi blockchain dinilai menjadi bekal penting sebelum masyarakat memutuskan berinvestasi di aset kripto. Pesan tersebut menjadi fokus utama dalam pemaparan mengenai blockchain, Decentralized Finance (DeFi), dan investasi aset digital yang digelar pada Kamis, 30 Juli 2026 siang, di Ruang Aula HAI Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi Pembangunan (STIK-P) Jalan Sisingamangaraja Medan.

Kegiatan tersebut menghadirkan Ayub Witjaksono dari Noah Nexus Protocol Jakarta sebagai pembicara. Acara juga dihadiri Ketua STIK-P, Dr. Sakhyan Asmara, M.SP, yang juga merupakan Pembina Dewan Pimpinan Wilayah Ikatan Media Online (DPW IMO) Indonesia Sumatera Utara. Turut hadir para dosen, mahasiswa dan mahasiswi STIK-P, Ketua DPW IMO Indonesia Sumatera Utara, HA. Nuar Erde beserta jajaran pengurus dan anggota organisasi tersebut.

Dalam paparannya, Ayub Witjaksono menegaskan bahwa masyarakat tidak boleh hanya tergiur keuntungan investasi, tetapi harus memahami terlebih dahulu cara kerja teknologi blockchain yang menjadi fondasi berbagai layanan keuangan digital saat ini.

Ia memperkenalkan sistem tabungan atau deposito digital dengan pilihan jangka waktu enam hari, 15 hari, dan 30 hari. Menurutnya, sistem tersebut menerapkan mekanisme bagi hasil antara investor dan pengelola, bukan bunga sebagaimana yang dikenal dalam sistem perbankan konvensional.

Sebagai perbandingan, ia menjelaskan bahwa dana deposito di bank umumnya dikelola melalui berbagai pembiayaan, seperti kredit pemilikan rumah, kredit kendaraan, pembiayaan usaha, hingga proyek lainnya. Dari keuntungan yang diperoleh, sebagian dibagikan kepada nasabah sesuai ketentuan, sementara sisanya digunakan untuk operasional bank.

Berbeda dengan sistem konvensional, menurutnya seluruh proses pada blockchain dijalankan secara otomatis melalui smart contract, yakni program komputer yang mengeksekusi setiap aturan transaksi tanpa campur tangan manusia.

Smart contract tersebut mengatur seluruh mekanisme, mulai dari penyimpanan dana, pembagian hasil, hingga pencairan dana sesuai ketentuan yang telah diprogram. Dengan proses yang berlangsung otomatis di jaringan blockchain, ia menilai efisiensi operasional dapat lebih baik dibandingkan sistem keuangan tradisional.

Ia juga menjelaskan bahwa dana yang dihimpun akan dialokasikan ke berbagai proyek melalui mekanisme liquidity pool dalam ekosistem DeFi sehingga dapat dimanfaatkan untuk berbagai aktivitas keuangan terdesentralisasi.

Sebagai contoh, ia menyebut masyarakat dapat mulai berpartisipasi dengan modal relatif kecil, sekitar 10 dolar AS. Menurutnya, blockchain membuka peluang bagi lebih banyak orang untuk mengenal dan terlibat dalam ekosistem aset digital.

Dalam kesempatan itu, Ayub Witjaksono turut membagikan sejumlah pengalaman peserta program yang diklaim berhasil memperoleh manfaat, seperti merenovasi rumah, membeli kendaraan, hingga meningkatkan penghasilan. Namun, ia menegaskan bahwa kisah-kisah tersebut merupakan pengalaman individu dan bukan jaminan hasil bagi setiap orang.

Ia juga menceritakan perjalanan dirinya sebelum mengenal blockchain. Ia mengaku pernah menjalankan usaha sebagai pemasok material proyek konstruksi, seperti pasir, batu split, dan berbagai kebutuhan pembangunan jalan yang membutuhkan modal besar.

Saat pandemi COVID-19 melanda pada 2020, banyak proyek konstruksi dihentikan sehingga usahanya ikut terdampak. Kondisi tersebut menjadi titik awal dirinya mempelajari blockchain dan aset kripto setelah bertemu sejumlah pelaku industri di Jakarta.

Ia mengaku awalnya tidak percaya terhadap aset kripto. Namun setelah mempelajari teknologi blockchain dan mengikuti perkembangan industrinya, ia mulai tertarik untuk mendalami bidang tersebut.

Meski melihat peluang yang besar, pembicara mengingatkan bahwa investasi aset digital tetap memiliki risiko tinggi. Menurutnya, salah satu cara memperoleh keuntungan di dunia kripto adalah melalui trading, namun aktivitas tersebut memiliki karakteristik high risk, high return.

“Keuntungan besar bisa didapat dalam waktu singkat, tetapi kerugian besar juga bisa terjadi dalam waktu yang sama,” ujarnya.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak terburu-buru melakukan trading tanpa pengetahuan, pengalaman, serta kemampuan manajemen risiko yang memadai.

Selain trading, ia menjelaskan bahwa ekosistem blockchain juga menyediakan berbagai mekanisme lain seperti mining, staking, dan layanan DeFi.

Mining merupakan proses validasi transaksi pada jaringan blockchain seperti Bitcoin yang umumnya memerlukan perangkat khusus dengan investasi cukup besar. Sementara staking dinilai lebih mudah karena cukup mengunci aset digital pada jaringan blockchain tertentu untuk memperoleh imbalan sesuai mekanisme yang berlaku.

Ia menambahkan, perkembangan blockchain ke depan diperkirakan akan semakin terintegrasi dengan berbagai sektor, salah satunya GameFi (Game Finance) yang menggabungkan permainan digital, teknologi blockchain, aset kripto, token digital, hingga mekanisme airdrop.

Menutup pemaparannya, Ayub Witjaksono mengajak masyarakat untuk terus meningkatkan literasi digital agar mampu memahami perkembangan teknologi blockchain secara objektif dan tidak sekadar mengikuti tren investasi.

Ia berharap program yang sedang dikembangkan dapat segera rampung sehingga dapat dimanfaatkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

Meski optimistis terhadap perkembangan teknologi blockchain, ia kembali menegaskan bahwa setiap bentuk investasi, termasuk aset kripto, tetap memiliki risiko. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk mempelajari teknologi, memahami risiko, dan melakukan analisis secara matang sebelum mengambil keputusan investasi.

(Dodi Rikardo Sembiring)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini