MBG Harus Beri Solusi Untuk Relawan

0
13

Medan | GeberNews.com – Relawan Masyarakat Bersatu Gotong Royong (REL-MBG) menyatakan komitmennya untuk tetap mendukung penuh program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bersama-sama mencari solusi terbaik yang tidak hanya menjaga keberlanjutan program. Tetapi juga memberikan kepastian dan perlindungan bagi para relawan yang telah menjadi bagian dari perjuangan mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berkualitas.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Relawan Masyarakat Bersatu Gotong Royong (REL MBG) Roy Marjuk, Senin (22/6). “Sebelumnya kami menyampaikan keprihatinan atas penghentian sementara operasional sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sesuai Surat edaran BGN No. 12 Tahun 2026, pada prinsipnya kita mendukung untuk pembenahan SPPG, namun berdampak pada diliburkannya para relawan yang selama ini menjadi ujung tombak pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG),”jelasnya.

Menurut Ketua Umum REL MBG, para relawan bukan hanya sekadar tenaga pendukung, melainkan bagian penting dari ekosistem pelayanan yang telah berjuang dengan penuh dedikasi untuk memastikan program MBG berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Ketika operasional dapur SPPG dihentikan sementara dan para relawan diliburkan, tentu muncul pertanyaan besar mengenai keberlangsungan hidup mereka. Banyak relawan yang menggantungkan penghasilannya dari aktivitas di dapur SPPG. Selama masa libur ini, mereka tetap harus memenuhi kebutuhan hidup, membiayai keluarga, membeli kebutuhan pokok, dan memenuhi berbagai kewajiban lainnya,” ujar Bang Roy.

REL MBG berharap agar Badan Gizi Nasional dan pemerintah dapat memberikan perhatian terhadap kondisi para relawan yang terdampak. Sebab menurut Roy, keberhasilan Program MBG selama ini tidak terlepas dari kontribusi para relawan yang bekerja dengan semangat gotong royong dan pengabdian kepada masyarakat.

Selain persoalan ekonomi, Ketua Umum REL MBG juga mengingatkan adanya potensi kehilangan sumber daya manusia yang telah terlatih apabila masa penghentian operasional berlangsung terlalu lama.

“Apabila para relawan terlalu lama tidak memiliki kepastian, tentu mereka akan mencari pekerjaan atau sumber penghidupan lain demi memenuhi kebutuhan keluarga. Itu adalah hal yang wajar dan harus kita pahami. Namun ketika operasional dapur kembali dibuka, kita akan menghadapi tantangan baru, yaitu berkurangnya relawan berpengalaman yang selama ini sudah memahami standar kerja, prosedur keamanan pangan, kebersihan, kedisiplinan, dan tata kelola dapur,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa proses merekrut dan melatih relawan baru membutuhkan waktu, tenaga, dan biaya yang tidak sedikit. Pengalaman yang telah dimiliki para relawan saat ini merupakan aset berharga yang seharusnya dijaga dan dipertahankan demi keberlangsungan program.

Karena itu, REL MBG mendorong adanya langkah-langkah solutif dan kebijakan yang berpihak kepada para relawan selama masa penghentian operasional berlangsung. Bentuk perhatian tersebut dapat berupa pendampingan, program pemberdayaan sementara, pelatihan peningkatan kapasitas, maupun kebijakan lain yang dapat membantu menjaga kesejahteraan para relawan hingga operasional SPPG kembali berjalan normal.

“Program Makan Bergizi Gratis merupakan program strategis yang membawa harapan besar bagi masa depan generasi bangsa. Oleh karena itu, keberlangsungan program ini harus didukung oleh keberlangsungan para relawannya. Jangan sampai mereka yang selama ini telah berjuang untuk menyukseskan program justru menghadapi kesulitan tanpa adanya perhatian yang memadai,” tegas Ketua Umum REL MBG.

“Relawan adalah aset bangsa. Menjaga kesejahteraan mereka berarti menjaga keberlangsungan Program Makan Bergizi Gratis itu sendiri,”tambah Roy.

(Tim)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini