Medan | GeberNews.com — Menjelang pelaksanaan tradisi budaya Karo Merdang Merdem atau kerja tahun yang akan digelar Pemerintah Kota (Pemko) Medan pada Juli 2026 mendatang, sorotan tajam mulai muncul dari kalangan tokoh masyarakat Karo. Tokoh masyarakat Karo, Serasi Sembiring Kembaren, menilai pelaksanaan kerja tahun Pemko Medan beberapa tahun terakhir memiliki perbedaan mencolok dibandingkan tahun-tahun sebelumnya dan dinilai mulai kehilangan ruh budaya aslinya.
Menurut Serasi, Merdang Merdem seharusnya tidak sekadar dijadikan agenda seremoni tahunan penuh formalitas dan hiburan panggung semata, melainkan wajib menghadirkan nilai budaya, persatuan, serta penghormatan terhadap identitas masyarakat Karo yang hidup dan berkembang di Kota Medan.
“Kita melihat ada perbedaan yang cukup terasa dibanding tahun-tahun sebelumnya. Dulu nuansa adat, kebersamaan, dan semangat kekeluargaan masyarakat Karo sangat kuat. Sekarang mulai terasa bergeser. Jangan sampai Merdang Merdem hanya dijadikan kegiatan formalitas tanpa makna budaya,” tegas Serasi Sembiring Kembaren SH kepada wartawan, Senin (11/05/2026).
Tokoh Karo asal Medan Selayang itu menegaskan bahwa Merdang Merdem merupakan warisan budaya leluhur masyarakat Karo yang memiliki filosofi mendalam tentang rasa syukur, persaudaraan, gotong royong, hingga penghormatan terhadap adat istiadat.
Karena itu, menurutnya, pelaksanaan kerja tahun harus dijaga secara serius dan tidak boleh kehilangan nilai sakral budaya hanya karena kepentingan seremoni ataupun pencitraan.
“Budaya Karo bukan tontonan musiman. Ini warisan leluhur yang harus dijaga martabatnya. Kalau pelaksanaannya hanya sibuk dengan seremoni dan hiburan, sementara nilai adatnya mulai ditinggalkan, itu sangat memprihatinkan,” ujarnya tajam.
Serasi juga meminta Pemko Medan agar lebih terbuka menerima masukan dari tokoh adat, budayawan, pemuda, serta masyarakat Karo agar pelaksanaan kerja tahun tetap berpijak pada identitas budaya aslinya.
Ia mengingatkan, jika pemerintah tidak serius menjaga substansi budaya, maka generasi muda Karo ke depan dikhawatirkan hanya mengenal Merdang Merdem sebagai pesta tahunan tanpa memahami makna perjuangan, sejarah, dan filosofi adat yang sesungguhnya.
“Budaya jangan dipoles hanya untuk kepentingan pencitraan. Pemerintah harus benar-benar mendengar suara masyarakat adat. Kalau tidak, generasi muda nanti hanya mengenal Merdang Merdem sebatas acara panggung dan hiburan, tanpa memahami nilai perjuangan dan filosofi budayanya,” tegasnya lagi.
Lebih lanjut, Serasi berharap pelaksanaan Merdang Merdem tahun 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada Juli 2026 benar-benar menjadi agenda budaya yang bermartabat, berkelas, serta mampu memperkuat identitas budaya lokal di tengah derasnya arus modernisasi dan perubahan zaman.
“Kerja tahun harus menjadi momentum memperkuat persaudaraan masyarakat Karo, bukan sekadar kegiatan tahunan yang selesai begitu acara berakhir. Budaya harus dijaga dengan hati dan tanggung jawab, bukan hanya dengan anggaran,” pungkasnya.
(Dodi Rikardo Sembiring Brahmana)







