Ribuan Harapan Bergerak dari Medan ke Tanah Karo: KISS Naga Karimata, Yayasan Lansia Merdeka Indonesia, dan TKN Kompas Nusantara Buktikan Bansos Bukan Sekadar Seremonial

0
54

MEDAN / GeberNews.com – Di tengah derasnya keluhan masyarakat tentang mahalnya kebutuhan hidup dan semakin beratnya beban ekonomi, masih ada kelompok masyarakat yang memilih bergerak daripada sekadar berbicara. Sabtu (27/6/2026), Komunitas Indonesia Semua Suku (KISS) Naga Karimata, Yayasan Lansia Merdeka Indonesia (YLMI), dan TKN Kompas Nusantara memulai perjalanan menuju kawasan wisata Berastagi, Kabupaten Karo.

Namun perjalanan ini bukan sekadar agenda rekreasi. Di balik udara sejuk pegunungan dan panorama alam Berastagi, tersimpan misi sosial yang jauh lebih besar. Minggu (28/6/2026), rombongan dijadwalkan melaksanakan kegiatan Bantuan Sosial (Bansos) bagi masyarakat di wilayah Kabanjahe dan sekitarnya.

Kegiatan tersebut menjadi bukti bahwa kepedulian tidak cukup hanya dituangkan dalam pidato, unggahan media sosial, ataupun janji-janji yang mudah diucapkan. Kepedulian sejati adalah ketika seseorang bersedia meluangkan waktu, tenaga, bahkan biaya, untuk hadir langsung menemui masyarakat yang membutuhkan.

Perjalanan menuju Tanah Karo menjadi simbol bahwa solidaritas masih hidup. Di tengah berbagai persoalan bangsa, masih ada orang-orang yang percaya bahwa kebersamaan merupakan kekuatan terbesar untuk membantu sesama.

Bagi Yayasan Lansia Merdeka Indonesia, perhatian kepada masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti lansia, merupakan bagian dari komitmen kemanusiaan yang terus dijalankan. Lansia adalah kelompok yang sering kali terlupakan dalam berbagai program pembangunan. Padahal mereka adalah generasi yang telah mengabdikan hidupnya bagi keluarga dan bangsa.

Sementara itu, kehadiran KISS Naga Karimata memperlihatkan bahwa organisasi masyarakat juga mampu menjadi motor penggerak aksi sosial. Tidak hanya menjadi wadah silaturahmi, tetapi juga menjadi jembatan yang menghubungkan kepedulian dengan kebutuhan masyarakat secara nyata.

Begitu pula TKN Kompas Nusantara yang turut mengambil bagian dalam kegiatan tersebut. Kolaborasi antarorganisasi menjadi pesan penting bahwa persoalan sosial tidak mungkin diselesaikan sendiri-sendiri. Dibutuhkan sinergi, kepercayaan, dan kemauan untuk turun langsung ke lapangan.

Bantuan sosial yang akan disalurkan di Kabanjahe memang tidak akan menghapus seluruh persoalan ekonomi masyarakat. Namun setidaknya, bantuan tersebut membawa harapan bahwa masih ada yang peduli, masih ada yang datang tanpa memandang latar belakang, suku, agama, maupun pilihan politik.

Nilai kemanusiaan seharusnya selalu berada di atas segala perbedaan. Ketika masyarakat saling membantu, maka sesungguhnya mereka sedang memperkuat fondasi persatuan bangsa.

Kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa wisata dan pengabdian kepada masyarakat tidak harus dipisahkan. Perjalanan ke daerah wisata dapat menjadi momentum mempererat persaudaraan sekaligus menghadirkan manfaat bagi warga sekitar.

Di saat sebagian orang sibuk mencari sensasi, rombongan ini memilih menghadirkan aksi nyata. Mereka menunjukkan bahwa kepedulian tidak memerlukan panggung mewah, melainkan kemauan untuk bergerak.

Ketua Umum Komunitas Indonesia Semua Suku (KISS), Akiong, menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata semangat persaudaraan lintas suku dan budaya yang selama ini menjadi roh organisasi.

“KISS dibangun di atas semangat persatuan. Kami percaya bahwa ketika seseorang sedang mengalami kesulitan, hal pertama yang harus dilihat bukanlah apa sukunya, apa agamanya, atau dari mana asalnya, tetapi apa yang bisa kita lakukan untuk membantunya. Bansos ini adalah bukti bahwa kepedulian harus diwujudkan dalam tindakan. Kami ingin menunjukkan bahwa Indonesia akan semakin kuat apabila masyarakatnya saling menguatkan. Kami berharap kegiatan seperti ini terus tumbuh dan menjadi budaya, sehingga nilai gotong royong yang menjadi jati diri bangsa tidak pernah luntur.”

Senada dengan itu, Ketua Umum Yayasan Lansia Merdeka Indonesia (YLMI), Hartono Tjandra, mengatakan bahwa perhatian terhadap masyarakat, terutama para lansia dan keluarga kurang mampu, merupakan amanah kemanusiaan yang tidak boleh diabaikan.

“Lansia adalah orang-orang yang telah menghabiskan sebagian besar hidupnya untuk membangun keluarga dan bangsa. Mereka berhak menikmati masa tua dengan penuh penghormatan dan kepedulian. Melalui kegiatan bantuan sosial ini, kami ingin hadir membawa semangat kasih, kebersamaan, dan harapan. Mungkin bantuan yang diberikan tidak mampu menyelesaikan seluruh persoalan, tetapi kami percaya bahwa perhatian yang tulus dapat menguatkan hati masyarakat. Kami ingin mengajak semua elemen bangsa untuk lebih peduli terhadap sesama, karena bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati orang tua dan tidak membiarkan masyarakat yang lemah berjuang sendirian.”

Sementara itu, Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) TKN Kompas Nusantara, Adi Warman Lubis, menilai bahwa kolaborasi tiga organisasi ini menjadi contoh bahwa kekuatan sosial akan jauh lebih besar ketika dibangun melalui kebersamaan.

“Persoalan masyarakat tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah ataupun satu organisasi. Dibutuhkan kolaborasi, kepedulian, dan kemauan untuk turun langsung ke tengah masyarakat. Itulah semangat yang kami bawa dalam kegiatan ini. Kami ingin menjadi bagian dari solusi, sekecil apa pun bentuknya. Semoga bantuan sosial ini tidak hanya meringankan beban masyarakat, tetapi juga menjadi inspirasi bagi organisasi lain agar lebih aktif melakukan kegiatan kemanusiaan. Ketika banyak tangan saling bergandengan, maka semakin banyak pula harapan yang dapat kita hadirkan bagi masyarakat Indonesia.”

Semoga kegiatan Bantuan Sosial yang dilaksanakan pada Minggu (28/6/2026) berjalan lancar dan membawa manfaat bagi masyarakat Kabupaten Karo. Lebih dari itu, semangat gotong royong yang ditunjukkan oleh KISS Naga Karimata, Yayasan Lansia Merdeka Indonesia, dan TKN Kompas Nusantara diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak komunitas untuk melakukan hal serupa.

Karena pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya dinilai dari tingginya gedung yang dibangun, tetapi juga dari seberapa besar kepedulian warganya terhadap mereka yang membutuhkan uluran tangan.

(Dodi Rikardo Sembiring)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini