MEDAN | GeberNews.com – Presiden LSM GEBER (Gerakan Bersama Rakyat), Dodi Rikardo Sembiring, S.Sos, menegaskan bahwa peringatan Hari Anti Narkoba Internasional (HANI) 2026 yang diperingati pada Jumat, 26 Juni 2026, tidak boleh hanya menjadi agenda seremonial tahunan tanpa aksi nyata. Menurutnya, HANI harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen seluruh elemen bangsa dalam menyatakan perang terhadap peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika yang hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi masa depan Indonesia.
Pernyataan tersebut disampaikan Dodi Rikardo Sembiring, S.Sos, yang juga merupakan Pemimpin Redaksi Media Online GeberNews.com, di Sekretariat LSM GEBER, Jalan Halat No.108/77, Medan.
Dalam keterangannya, Dodi mengatakan bahwa narkoba merupakan kejahatan luar biasa (extraordinary crime) yang dampaknya jauh lebih berbahaya dibandingkan kejahatan konvensional. Narkotika bukan hanya merusak kesehatan para penggunanya, tetapi juga menghancurkan masa depan generasi muda, memicu meningkatnya angka kriminalitas, merusak keharmonisan keluarga, hingga melemahkan ketahanan nasional.
“Hari Anti Narkoba Internasional harus menjadi pengingat bagi seluruh rakyat Indonesia bahwa ancaman narkoba masih nyata di depan mata. Jangan pernah menganggap persoalan ini sebagai masalah biasa, karena narkoba adalah senjata yang perlahan menghancurkan generasi bangsa dari dalam. Jika kita lengah, maka masa depan Indonesia akan dipertaruhkan,” tegas Dodi.
Menurutnya, jaringan peredaran narkotika saat ini semakin canggih dan terorganisir. Para pelaku memanfaatkan perkembangan teknologi informasi, media sosial, hingga jalur internasional untuk menjalankan bisnis haram mereka. Oleh sebab itu, pemberantasan narkoba tidak bisa dilakukan secara biasa, tetapi membutuhkan langkah yang luar biasa, terukur, dan konsisten.
Dodi memberikan apresiasi kepada Kepolisian Republik Indonesia, Badan Narkotika Nasional (BNN), TNI, Kejaksaan, Bea Cukai, serta seluruh aparat penegak hukum yang selama ini terus berjuang mengungkap berbagai jaringan narkoba, baik nasional maupun internasional. Namun demikian, ia berharap upaya tersebut semakin diperkuat agar tidak ada ruang sedikit pun bagi para bandar dan sindikat narkoba untuk berkembang.
“Bandar narkoba adalah musuh negara. Mereka mencari keuntungan dari kehancuran anak-anak bangsa. Mereka tidak memiliki rasa kemanusiaan. Karena itu, penegakan hukum harus benar-benar tegas, transparan, dan memberikan efek jera. Jangan ada kompromi terhadap siapa pun yang terlibat dalam bisnis haram ini,” katanya.
Dodi juga menegaskan bahwa perang melawan narkoba bukan hanya menjadi tanggung jawab aparat penegak hukum. Seluruh lapisan masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk ikut berperan aktif dalam mencegah penyalahgunaan narkotika.
Menurutnya, keluarga merupakan benteng pertahanan pertama yang harus diperkuat. Orang tua harus membangun komunikasi yang baik dengan anak-anak, memberikan perhatian terhadap pergaulan mereka, serta menanamkan nilai-nilai agama, moral, dan kedisiplinan sejak usia dini.
“Jangan sampai kita baru bertindak ketika anak sudah menjadi korban narkoba. Pencegahan jauh lebih penting daripada penyesalan. Orang tua harus menjadi pelindung pertama bagi keluarganya,” ujarnya.
Selain itu, Dodi juga mengajak dunia pendidikan untuk terus meningkatkan edukasi mengenai bahaya narkoba kepada para pelajar dan mahasiswa. Ia menilai sosialisasi yang dilakukan secara berkelanjutan akan membangun kesadaran generasi muda agar tidak mudah terjerumus dalam penyalahgunaan narkotika.
Tidak hanya itu, ia juga mengajak tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kepemudaan, organisasi kemasyarakatan, insan pers, akademisi, hingga seluruh elemen bangsa untuk membangun gerakan bersama dalam memutus mata rantai peredaran narkoba.
“Perang melawan narkoba bukan pekerjaan satu institusi saja. Ini adalah tanggung jawab kita semua. Ketika masyarakat berani melapor, aparat bergerak cepat, media memberikan edukasi yang benar, tokoh agama menguatkan moral umat, dan pemerintah terus hadir dengan kebijakan yang berpihak kepada penyelamatan generasi muda, maka kita akan semakin dekat dengan kemenangan melawan narkoba,” ungkapnya.
Sebagai Presiden LSM GEBER (Gerakan Bersama Rakyat), Dodi menegaskan organisasinya akan terus berada di garis depan dalam mendukung program pemberantasan narkoba melalui edukasi, penyuluhan, kampanye sosial, dan berbagai kegiatan yang bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya narkotika.
Menurutnya, menyelamatkan generasi muda bukan hanya tugas pemerintah, melainkan panggilan moral seluruh anak bangsa. Indonesia membutuhkan generasi yang sehat, cerdas, berintegritas, dan bebas dari narkoba untuk mewujudkan cita-cita bangsa menuju Indonesia yang maju.
“Kita tidak boleh kalah oleh sindikat narkoba. Negara harus menang. Rakyat harus bersatu. Generasi muda harus diselamatkan. Jangan beri ruang sedikit pun kepada para bandar untuk meracuni masa depan Indonesia. Perang melawan narkoba harus menjadi gerakan nasional yang melibatkan seluruh komponen bangsa,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, Dodi Rikardo Sembiring, S.Sos mengajak seluruh masyarakat menjadikan Hari Anti Narkoba Internasional 2026 sebagai momentum memperkuat solidaritas dan kepedulian terhadap bahaya narkoba.
“Hari ini kita harus berani mengatakan, cukup sudah narkoba merusak negeri ini. Mari bersatu, saling menjaga, saling mengingatkan, dan bersama-sama membangun Indonesia yang bersih dari narkoba. Menyelamatkan satu generasi berarti menyelamatkan masa depan bangsa. Itulah perjuangan yang harus terus kita lakukan tanpa henti,” pungkasnya.
(Aidil)







