Diduga Sekap Pasien! RS Columbia Asia dan Asuransi Generali Permainkan Nasib Mangatur Silitonga, Ketum TKN Adi Warman Lubis: Ini Kejahatan Kemanusiaan, Kami Sudah Laporkan ke Polda

0
756

Medan | GeberNews.com — Ketua Umum (Ketum) TKN Kompas Nusantara, Adi Warman Lubis, yang juga menjabat Ketum Pagar Unri Prabowo-Gibran untuk Rakyat Indonesia, mengecam keras dugaan penyekapan pasien Mangatur Silitonga (57) oleh RS Columbia Asia Medan. Ia menyebut praktik yang dialami Mangatur sebagai bentuk “penyekapan berkedok medis” yang melanggar prinsip kemanusiaan dan harus segera diusut tuntas.

Ketum TKN Kompas Nusantara, Adi Warman Lubis saat mengecam dugaan penyekapan pasien di RS Columbia Asia Medan.

Dunia medis Kota Medan kembali tercoreng. Seorang pasien bernama Mangatur Silitonga diduga kuat menjadi korban praktik penyekapan dan pemerasan berkedok pelayanan kesehatan di Rumah Sakit (RS) Columbia Asia Medan. Nasibnya kini terombang-ambing antara pihak RS Columbia Asia Jalan Letda Sujono Medan dan Asuransi Generali Indonesia, yang disebut-sebut saling melempar tanggung jawab terkait pembiayaan pengobatannya.

Dari kiri ke kanan: Ketum TKN Kompas Nusantara Adi Warman Lubis, istri Mangatur Silitonga, dan Mangatur Silitonga, korban dugaan penyekapan di RS Columbia Asia Medan.

Mangatur, yang telah dinyatakan sembuh, diduga ditahan selama dua hari di rumah sakit tanpa diberikan obat apa pun. Alasannya, pasien belum mampu melunasi sisa tagihan rawat inap yang membengkak, meskipun dirinya adalah pemegang polis Asuransi Generali Indonesia dengan plafon perlindungan hingga Rp1 miliar per tahun.

Dalam kronologi yang diungkap Adi, perawatan Mangatur berlangsung dalam tiga tahap:

Februari 2025: Pasien dirawat dengan estimasi biaya sekitar Rp25 juta. Saat itu, tidak ada pembayaran diminta karena ditanggung asuransi Generali.

Maret 2025: Pasien kembali dirawat dan dibebankan biaya kekurangan sekitar Rp28 juta.

April 2025: Pasien untuk ketiga kalinya dirawat di RS Columbia Asia Aksara. Setelah dinyatakan sembuh dan diperbolehkan pulang oleh dokter, pihak rumah sakit menahan pasien dengan alasan kekurangan biaya sekitar Rp30 juta. Namun, setelah keluarga mempertanyakan rincian tagihan, jumlah tersebut akhirnya diturunkan menjadi sekitar Rp25 juta lebih.

Ironisnya, selama proses perawatan tersebut, istri Mangatur bahkan sampai terpaksa meminjam uang dari rentenir sebesar Rp15 juta demi melunasi sebagian tagihan rumah sakit. Sisanya, menurut Adi, ia bantu bayarkan langsung karena tidak tega melihat kondisi Mangatur.

“Rawat pertama disuruh bayar Rp25 juta. Rawat kedua bayar Rp25 juta lagi. Rawat ketiga awalnya ditagih Rp32 juta, setelah kami pertanyakan baru turun jadi Rp25 juta lebih. Ini jelas pemerasan berkedok layanan medis!” ungkap Adi.

Adi menegaskan, kerja sama antara RS Columbia Asia Medan dan Asuransi Generali Indonesia layak diaudit total. “Plafonnya Rp1 miliar, tapi rakyat kecil tetap dicekik ratusan juta. Ini pembodohan publik! Diduga ada praktik pemerasan sistematis terhadap pemegang polis,” tandasnya.

Tidak tinggal diam, TKN Kompas Nusantara telah resmi melaporkan kasus ini ke Unit Krimsus Polda Sumut. Adi memastikan laporan telah diterima, dan pihaknya sudah dipanggil penyidik untuk memberikan keterangan. Selain itu, pihaknya juga telah melayangkan surat resmi kepada sejumlah lembaga terkait.

“Kami sudah laporkan ke Polda Sumut. Selain itu, kami juga sudah menyurati Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pihak Asuransi Generali Indonesia, Dinas Kesehatan Pemerintah Kota (Pemko) Medan, DPRD Kota Medan, serta Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara (Kejatisu). Semua pihak ini harus ikut bertanggung jawab dan turun tangan. Ini bukan hanya soal uang, ini soal nyawa rakyat kecil!” tegas Adi.

Adi juga mendesak OJK agar segera mengaudit sistem kerja sama RS Columbia Asia dengan Asuransi Generali Indonesia. “OJK jangan tutup mata! Ini alarm nasional bagi dunia kesehatan kita,” serunya.

Sebagai penutup, Adi Warman Lubis menegaskan komitmennya untuk terus mengawal kasus ini hingga tuntas. “Kalau perlu saya bawa langsung kasus ini ke Presiden! Rakyat kecil jangan dijadikan korban permainan bisnis kotor rumah sakit dan asuransi. Ini perlawanan demi kemanusiaan!” tutupnya.

(Dodi Rikardo)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini