
Jakarta | GeberNews.com — Badan Narkotika Nasional kembali menunjukkan taringnya dalam perang melawan narkoba. Melalui operasi senyap dan terukur, BNN berhasil membongkar keberadaan clandestine laboratory atau pabrik gelap narkotika jaringan internasional yang memproduksi vape berisi cairan narkoba di kawasan Sudirman, Jakarta.
Dalam operasi tersebut, dua warga negara asing asal Malaysia berinisial MK dan TKG diamankan. Keduanya diduga kuat menjadi aktor utama produksi sekitar 3.000 liquid vape yang mengandung zat berbahaya etomidate. Dari hasil penyelidikan, bisnis ilegal ini disebut memiliki omzet fantastis mencapai Rp 18 miliar.
BNN menyebutkan, pengungkapan kasus ini merupakan hasil kerja sama intensif dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Melalui operasi tersebut, aparat berhasil menyelamatkan sedikitnya 15.000 jiwa anak bangsa dari ancaman penyalahgunaan narkoba jenis baru yang menyasar generasi muda.
Fenomena penyalahgunaan vape bermuatan narkotika bukan hanya terjadi di Indonesia. Di Singapura, otoritas setempat juga menemukan ribuan produk vape ilegal yang mengandung zat berbahaya seperti etomidate dan ketamin. Produk ini dikenal dengan sebutan “zombie vapes” atau “Kpods” karena efeknya yang menyebabkan penggunanya linglung, kehilangan keseimbangan, hingga berisiko overdosis.
Ketamin sendiri tergolong Narkotika Golongan III sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika dan diperbarui melalui Permenkes Nomor 13 Tahun 2014. Sementara itu, Tetrahydrocannabinol (THC), zat psikoaktif utama pada ganja, masuk dalam Narkotika Golongan I berdasarkan Permenkes Nomor 4 Tahun 2021.
Secara medis, etomidate merupakan agen hipnotik yang digunakan untuk induksi anestesi sebelum tindakan operasi. Obat ini dikenal memiliki efek minimal terhadap tekanan darah sehingga hanya boleh digunakan oleh tenaga medis profesional. Namun, ketika disalahgunakan dan diubah menjadi cairan vape untuk dihirup, etomidate berubah menjadi zat berbahaya dengan dampak yang tidak terkendali bagi kesehatan fisik dan mental penggunanya.
Menanggapi keberhasilan tersebut, Koordinator Lembaga Advokasi Kajian Strategis Indonesia (LAKSI), Azmi Hidzaqi, dalam siaran pers di Jakarta, menyampaikan apresiasi tinggi kepada BNN. Ia menilai pengungkapan ini sebagai bukti nyata keberanian dan ketegasan aparat dalam memberantas jaringan narkoba internasional.
“BNN telah menunjukkan pendekatan holistik dengan mengintegrasikan penegakan hukum yang tegas, penguatan intelijen, serta kerja sama global. Ini langkah strategis dalam menyongsong target Indonesia Emas 2045,” ujar Azmi.
Azmi juga mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terlibat aktif dalam upaya pencegahan dan rehabilitasi. Menurutnya, perang melawan narkoba tidak bisa hanya dibebankan kepada aparat penegak hukum, tetapi membutuhkan keberanian masyarakat untuk menolak, mencegah, melapor, serta merehabilitasi diri jika terindikasi penyalahgunaan narkoba.
Lebih lanjut, Azmi menilai kepemimpinan Kepala BNN, Komjen Pol. Suyudi Ario Seto, sebagai sosok yang berani dan tegas. Hal tersebut dibuktikan melalui berbagai operasi senyap yang berhasil membongkar sindikat narkotika internasional, termasuk penangkapan gembong narkoba lintas negara hingga ke Kamboja.
“BNN telah aktif menerapkan strategi War on Drugs dengan membongkar jaringan lintas negara, mulai dari Iran, Tiongkok, hingga Malaysia. Ini pesan tegas bahwa Indonesia bukan pasar empuk bagi bandar narkoba internasional,” tegasnya.
(Rel)








