Mangkir dari Mediasi, ANDA dan Yusril Dipertanyakan Keras. Dugaan Sabotase Bantuan Banjir di Dusun 1 Sei Tuan Mencuat Tajam.

0
68

Sei Tuan | GeberNews.com – Mangkirnya ANDA, mantan Kepala Dusun (Kadus) Dusun 1, bersama anaknya, Yusril, dari agenda mediasi resmi di Kantor Desa Sei Tuan, Selasa, 2 Desember 2025 sekitar pukul 10.00 WIB, menyulut bara kemarahan warga. Ketidakhadiran tanpa sepatah kata itu tak lagi dipandang sebagai kelalaian, melainkan sikap pengecut dan upaya nyata menghindari tanggung jawab atas dugaan keras pelarangan penyaluran bantuan sembako kepada korban banjir.

Mediasi tersebut semestinya menjadi panggung klarifikasi terbuka atas tudingan bahwa ANDA dan Yusril menghadang Camat Pantelabu bersama istri saat hendak menyalurkan bantuan kemanusiaan kepada warga terdampak. Tak hanya itu, Yusril juga diduga melakukan aksi arogan dengan membanting pintu belakang mobil dinas camat, kendaraan resmi milik Pemerintah Kabupaten Deli Serdang. Namun ketika publik menunggu jawaban tegas, dua nama yang disorot itu justru menghilang bak ditelan bumi.

Sikap mangkir tersebut dianggap sebagai tamparan telak terhadap rasa keadilan warga. Warga Dusun 1 yang memenuhi undangan mediasi merasa dipermainkan dan dilecehkan. Mereka menilai, hanya orang yang menyimpan kesalahan besar yang takut tampil memberi klarifikasi. “Kalau benar tidak bersalah, kenapa lari dari forum terbuka? Kenapa bersembunyi?” cetus salah satu warga penuh emosi.

Kegeraman warga semakin membuncah ketika Kepala Desa Sei Tuan bersama Sekretaris Desa disebut melontarkan pernyataan yang dinilai sesat dan menyesatkan. Kepada warga, keduanya menyebut bantuan bencana tidak boleh disalurkan langsung kepada masyarakat dan wajib melalui pemerintah desa dengan dalih aturan undang-undang. Pernyataan itu langsung dicibir sebagai kebohongan terang-terangan yang menabrak akal sehat dan tak memiliki dasar hukum yang dapat dipertanggungjawabkan.

Warga menegaskan bahwa tidak ada aturan yang menghalangi siapa pun menyalurkan bantuan kemanusiaan secara langsung kepada korban bencana. Bantuan bukan komoditas birokrasi dan bukan milik segelintir pejabat desa. Bantuan adalah panggilan nurani. “Kalau niat menolong sesama dianggap salah, berarti ada yang bengkok dalam cara berpikir aparat. Yang janggal itu bukan bantuannya, tapi yang menghalangi bantuan,” ujar seorang warga dengan nada menyengat.

Pernyataan aparatur desa itu kian menguatkan kecurigaan warga bahwa terdapat upaya sistematis untuk membodohi serta menakut-nakuti masyarakat. Aroma kejanggalan semakin menusuk ketika mediasi gagal digelar akibat mangkirnya pihak terduga. Warga menduga kuat adanya dugaan kongkalikong antara mantan Kadus, oknum aparat desa, dan pihak tertentu untuk saling melindungi demi menutup persoalan yang semestinya dibuka seterang-terangnya kepada publik.

Desakan kini diarahkan langsung kepada Bupati dan Wakil Bupati Deli Serdang agar segera turun tangan. Warga menuntut evaluasi keras terhadap Kepala Desa Sei Tuan dan seluruh jajarannya. Penyampaian aturan palsu yang bernuansa intimidasi dianggap sebagai bentuk penyalahgunaan jabatan dan pengkhianatan terhadap amanah rakyat.

“Kalau aparat desa sudah berubah fungsi dari pelindung warga menjadi penekan masyarakat, maka itu adalah lonceng bahaya. Negara tidak boleh kalah oleh arogansi aparatur di tingkat paling bawah,” tegas salah satu perwakilan warga Dusun 1.

Mangkirnya ANDA dan Yusril bukan sekadar soal absensi, tetapi memunculkan dugaan kuat adanya kesalahan besar yang sengaja ditutup-tutupi. Warga kini menuntut kebenaran tanpa rekayasa, transparansi tanpa drama, serta keadilan tanpa tebang pilih, agar persoalan bantuan korban banjir tidak berubah menjadi ajang busuk permainan kuasa dan kepentingan pribadi.

Reforter Irawan

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini