Dr. Sakhyan Asmara, M.SP: Melayu Serdang Warisan Peradaban yang Menjadi Pilar Jati Diri Bangsa

0
38

Medan | GeberNews.com – Dr. Sakhyan Asmara, M.SP, tokoh Melayu Serdang yang menyandang gelar adat Datuk Wangsa Diraja Negeri Serdang, menegaskan bahwa sejarah Melayu Serdang merupakan warisan peradaban yang memiliki nilai strategis dalam membangun identitas, karakter, dan jati diri bangsa. Menurutnya, budaya Melayu bukan sekadar peninggalan masa lalu, melainkan pedoman hidup yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus.

Melayu Serdang tumbuh dan berkembang melalui perjalanan panjang Kesultanan Serdang yang berdiri pada abad ke-18 (1723 M) sebagai salah satu kerajaan Melayu yang berpengaruh di kawasan Sumatera Timur. Kesultanan ini tidak hanya menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga berperan dalam perkembangan perdagangan, pendidikan, penyebaran agama Islam, serta pembentukan nilai-nilai adat dan budaya Melayu yang masih hidup hingga saat ini.

Dr. Sakhyan Asmara mengatakan bahwa sejarah Melayu Serdang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Warisan berupa adat istiadat, bahasa, sastra, seni, arsitektur, manuskrip, hingga tradisi lisan menjadi bukti bahwa masyarakat Melayu telah membangun peradaban yang berlandaskan ilmu pengetahuan, akhlak, dan kebudayaan.

Sebagai Datuk Wangsa Diraja Negeri Serdang, ia menilai tantangan terbesar saat ini adalah semakin lunturnya pemahaman generasi muda terhadap sejarah dan budaya daerah. Oleh karena itu, pelestarian budaya harus dilakukan secara berkelanjutan melalui pendidikan, penelitian, literasi, seminar, pelatihan jurnalistik, festival budaya, serta pemanfaatan teknologi digital sebagai media edukasi.

Budaya Melayu Serdang mengajarkan nilai-nilai luhur seperti menghormati orang tua, menjunjung tinggi musyawarah, menjaga silaturahmi, mengedepankan gotong royong, serta memegang teguh adat yang bersendikan syariat. Nilai-nilai tersebut tercermin dalam berbagai tradisi, seperti tepung tawar, kenduri adat, prosesi pernikahan Melayu, seni berpantun, tari, musik tradisional, dan berbagai upacara adat yang hingga kini tetap dilestarikan.

Selain memiliki kekayaan adat istiadat, Melayu Serdang juga mewariskan berbagai peninggalan sejarah berupa istana, masjid, naskah kuno, dan karya sastra yang menjadi bukti kejayaan Kesultanan Serdang. Seluruh warisan tersebut memiliki nilai sejarah yang tinggi dan menjadi bagian penting dari khazanah kebudayaan nasional. Namun Sakhyan mengatakan sangat disayangkan Istana Kesultanan Serdang yakni Istana Darul Arif yang dibangun tahun 1886 oleh Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah sebagai simbol kemandirian Kesultanan Serdang, dibumihanguskan pada masa revolusi tahun 1946, yang konon kabarnya agar Belanda tidak bisa menggunakan Istana sebagai markas untuk melakukan penjajahan yang merambat sampai ke wilayah Serdang. Namun patut disyukuri Masjid Raya Kesultanan Serdang yakni Masjid Raya Sulaimaniyah yang didirikan oleh Sultan Sulaiman Syariful Alamsyah pada tahun 1894, masih berdiri sampai sekarang di Perbaungan. Akan tetapi kondisi masjid sebagai peninggalan sejarah perlu mendapat perhatian dari berbagai pihak, terutama Pemerintah Pusat maupun pemerintah daerah agar masjid tersebut dapat terpelihara dengan baik dan bahkan menjadi sumber pengetahuan dan juga kunjungan para wisatawan yang ingin mengetahui tentang sejarah Kesultanan Serdang sebagai bagian dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia.

Warisan sejarah itu saat ini bisa dibaca di Taman Bacaan Masyarakat Tengku Luckman Sinar yang berada di Jl. Abdullah Lubis Medan. Warisan tersebut sebagai legacy Kesultanan Serdang dan karya-karya monumental Tengku Luckman Sinar yang berdiri tahun 2011, tepat setelah kepulangan Tuanku Tengku Luckman Sinar Basarshah II Al Haj. Di Taman Bacaan ini tersimpan lebih kurang 7.000 koleksi buku mencakup berbagai jenis, termasuk buku, manuskrip, dan materi audiovisual, yang dikelompokkan dalam berbagai kategori seperti adat, budaya, sejarah, pendidikan, dan hukum yang umumnya membahas sejarah dan budaya Melayu. Menurut Sakhyan, koleksi buku-buku yang terdapat di Taman Bacaan Tengku Luckman Sinar itu perlu dijaga kelestariannya agar jangan sampai musnah. Peran pemerintah dan masyarakat sangat diharapkan untuk melestarikan dan menjaga berbagai warisan peninggalan sejarah Melayu tersebut, ujar Dr. Sakhyan Asmara, M.SP di Medan, Jumat, 31 Juli 2026.

Dr. Sakhyan Asmara dikenal sebagai akademisi, budayawan, dan pemerhati kebudayaan Melayu yang aktif memperjuangkan pelestarian sejarah serta adat istiadat Melayu Serdang melalui berbagai kegiatan pendidikan, seminar, penelitian, diskusi budaya, dan pengabdian kepada masyarakat. Menurutnya, menjaga budaya bukan sekadar mempertahankan tradisi, tetapi juga menjaga marwah dan identitas bangsa di tengah perubahan zaman.

Ia berharap pemerintah, lembaga adat, dunia pendidikan, media massa, dan masyarakat dapat bersinergi dalam memperkuat pelestarian budaya Melayu Serdang. Dengan demikian, nilai-nilai luhur yang diwariskan para leluhur akan tetap hidup, berkembang, dan menjadi inspirasi bagi generasi masa kini maupun generasi yang akan datang.

Sumber: Dodi Rikardo Sembiring

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini